SUAMIKU BAD BOY!

SUAMIKU BAD BOY!
Perlawanan Julia


__ADS_3

Zach membeku saat menoleh ke arah pintu dan melihat Julia berdiri di balik pintu dengan kotak bekal yang berserakan di lantai. Wajah Julia sangat pucat, perempuan itu menatap ke arah Tiffany tanpa ekspresi.


“Julia,” ucap Zach lirih. Julia terdiam seribu bahasa. Melihat ekspresi Julia diam yang tanpa kata, membuat Zach khawatir jika istrinya salah paham dengan apa yang terjadi.


Tiffany tersenyum senang karena berhasil memberikan pemandangan yang menusuk hati Julia. Perempuan itu sudah mengira Julia pasti akan marah dan mengakhiri hubungan dengan Zach. Setidaknya Tiffany berhasil memercikkan masalah dalam pernikahan mereka.


“Sayang, ini tidak seperti yang kamu pikirkan,” jelas Zach dengan kekhawatiran yang mendominasi perasaannya.


Zach takut Julia akan pergi. Menyebut nama Tiffany tanpa sengaja saat dia tengah tertidur lelap saja, sudah sangat menyakiti hati Julia, apalagi sekarang terang-terangan Tiffany berdiri di depannya, bahkan berani menciumnya. Zach sungguh dilanda kepanikan luar biasa.


Zach telah bersiap seandainya Julia pergi meninggalkannya dengan derai air mata, tanpa mau mendengarkan penjelasan darinya. Hal itu pasti akan menjadi kiamat kecil bagi dirinya yang sedang berusaha memperbaiki diri dan fokus kepada keluarga kecilnya.


Sejenak keheningan menyapa mereka bertiga. Julia dengan wajahnya yang dingin tanpa ekspresi, sedangkan Zach kebingungan yang melanda hati, serta Tiffany yang tersenyum penuh kemenangan.


Perlahan-lahan Julia melangkah maju memasuki ruangan, pandangannya tertuju kepada Tiffany. Zach menundukkan wajah. Laki-laki itu telah bersiap jika Julia menamparnya saat itu, dia rela. Namun, Julia justru mengabaikan Zach yang menatap dengan penuh rasa takut.


Tanpa aba-aba Julia melayangkan tangan, menampar Tiffany hingga wanita itu tersungkur ke lantai.


Plak!


Tiffany mengaduh sambil memegangi bibirnya yang terluka dan mengeluarkan darah.


“Aduh! Kurang ajar kamu, beraninya menamparku, dasar wanita bar-bar!” teriak Tiffany sambil memekik kesakitan.


“Zach, tolong aku, Sayang!” Tiffany meminta pertolongan laki-laki yang kini hanya bisa berdiri mematung di hadapannya.


“Zach, kenapa malah diam? Tolong aku, perempuan ini benar-benar kelewatan, lihat! Bibirku sampai berdarah, aduh sakiiit.” Tiffany mengaduh sambil memegangi bibirnya.

__ADS_1


Zach sendiri terkejut bukan main melihat kemarahan Julia. Sekarang dia tidak tau harus berbuat apa? Menolong Tifffany sama saja mencari mati. Sedangkan Tiffany terus berteriak-teriak memanggil namanya.


Julia menatap tajam kepada Zach saat Tiffany meminta pertolongan pada pria tersebut.


Mendapatkan tatapan maut Julia, Zach pun bergeming. Baru kali ini Zach melihat amarah yang sangat besar di mata istrinya. Julia kembali menoleh pada Tiffany.


“Sekali lagi kamu berani mengganggu suamiku, aku tidak akan membiarkanmu lolos,” gertak Julia dengan tatapan maut.


Tiffany mendengkus kesal. Dia tidak menyangka akan mendapatkan serangan tiba-tiba dari Julia. Wanita itu juga baru sadar bahwa Zach menikah bukan dengan gadis sembarangan. Rasa perih akibat bibirnya yang robek adalah bukti kalau istri Zach itu bukan wanita lemah seperti yang ia kira selama ini.


“Kamu dengar dan ingat baik-baik ucapanku ini. Jangan pernah lagi menganggu Zach, apalagi mencoba merayunya, karena dia tidak akan tergoda oleh rayuanmu yang murahan itu. Zach adalah suamiku, dia hanya milikku.”


Dengan tegas Julia memperingatkan Tiffany yang kini wajahnya makin pucat pasi.


Mendengar ucapan tegas Julia, Zach mengembangkan senyumnya. Dia tidak menyangka Julia bisa berbicara seperti itu.


‘Zach hanya milikku' kalimat itu langsung menembus jantung Zach yang sempat ketar-ketir karena takut Julia mengamuk. Memang benar Julia seolah-olah sedang mengeluarkan tanduknya, tapi untuk menyeruduk Tiffany, dan membela dirinya. Lebih tepatnya menegakkan harga diri Zach di depan Tiffany sebagai seorang suami.


Berkali-kali lelaki muda itu menarik napas panjang, menenangkan perasaannya yang kini bernatakan, antara senang dan tegang menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.


Zach menoleh kepada Julia sambil tersenyum. Senyum menawan yang ia punya dan sekarang dipersembahkan untuk istrinya.  Pria itu kemudian menggenggam tangan Julia seolah mengucapkan terima kasih tak terhingga.


Pria itu benar-benar merasa bersyukur karena menuruti perintah perjodohan kedua orang tuanya yang memilih Julia sebagai calon istrinya.


“Makasih, Sayang, sudah mau percaya padaku. Memang tidak salah memilih kamu jadi istriku,” bisik Zach di telinga Julia. Perempuan itu juga tersenyum mendengar kata-kata pujian dari suaminya.


Tiffany yang melihat adegan kemesraan sepasang suami istri itu memalingkan wajahnya dengan kesal. Perlahan-lahan dia bangkit dari lantai. Tangannya masih memegangi bibirnya yang terasa perih, meskipun sudah tidak berdarah. Sekarang bukan hanya bibirnya yang terasa perih, tetapi hatinya juga lebih sakit. Tiffany tak pernah menyangka jika kepulangannya ke Indoensia justru akan berujung nestapa.

__ADS_1


'Kurang ajar! Perempuan ini benar-benar sudah merebut Zach dariku.' Tiffany membatin dengan gusar. Seharusnya saat ini dia bersenang-senang dengan Zach seperti rencana yang sudah ia susun. Ternyata semua terjadi tidak seperti yang ia harapkan.


“Heh, perempuan kampung, kamu itu cuma jadi pelarian Zach, karena sampai kapanpun dia tidak akan bisa melupakanku!” seru Tiffany dengan congkak. Sudah kepalang basah, Tiffany akan melakukan apa saja untuk menghancurkan mental Julia.


“Kamu tahu kami sudah tinggal bersama sebelum dia mengenalmu! Jauh sebelum gadis kampungan macam kamu memasuki kehidupan Zach!” Napas Tiffany terengah-engah dibakar emosi dan api cemburu yang datang bersamaan. Dia tidak akan rela membiarkan Zach hidup berbahagia dengan Julia.


“Kamu itu cuma dijodohkan tanpa cinta, perempuan yang hanya beruntung karena memiliki tubuhnya, sedangkan hati Zach tetap untukku. Harusnya kamu tahu diri dan sadari hal itu!” Tiffany menunjuk-nunjuk wajah Julia.


Perkataan Tiffany sungguh keterlaluan, bahkan wanita itu mengungkit masa lalunya yang liar. Zach sangat takut Julia menjadi marah kembali.


Zach baru hendak maju untuk protes, tapi Julia mendahuluinya. Julia mengangkat wajah dengan angkuh.


“Oh ya? Percaya diri sekali bilang Zach masih mencintai kamu? Sedangkan kami menghabiskan malam pengantin yang begitu panas dan membahagiakan sebagai pasangan halal. Silakan kamu bangga karena telah menjadi perempuan pezina. Zach melakukan itu sebelum mengenalku. Sekarang semua sudah berbeda. Lebih baik kamu pergi sekarang, dari pada mempermalukan diri sendiri,” ucap Julia dengan tenang.


Tiffany semakin meradang. Dia ingin mendapatkan pembelaan dari Zach, tetapi laki-laki itu seolah-olah tak memedulikannya lagi.


“Sayang, sekarang katakan, apakah kamu masih mencintai dia?” tanya Julia sambil merangkul leher Zach. Tentu saja Zach menjawabnya dengan gelengan kepala.


“Yang terjadi antara aku dan Tiffany adalah kesalahan di masa lalu yang tidak bisa diubah. Akan tetapi, Aku berjanji untuk setia dan menjaga pernikahan kita. Hanya kamu istriku, tak ada wanita lain sampai maut memisahkan kita.”


Dengan senyumnya yang manis, Julia memandang ke arah Tiffany seolah mengatakan, ”kamu dengar sekarang?”


Dengan berani Julia semakin merapatkan tubuhnya ke dalam pelukan Zach. Julia mendekati wajah suaminya, lalu mendaratkan satu ciuman di bibir Zach.


Lagi-lagi Zach hampir tak percaya mendapati aksi nekat Julia. Selama ini Julia tak pernah berinisiatif terlebih dulu untuk menciumnya, semua selalu Zach yang mengawali. Laki-laki itu tak sempat berpikir lagi, karena permainan bibir Julia semakin menuntut pembalasan. Bahkan Julia memainkan lidahnya, mengirimkan gairah panas yang belum pernah Zach rasakan sebelumnya.


Zach semakin tergila-gila oleh pesona dan ketangguhan gadis itu. Dengan senang hati, Zach membalas cumbuan panas Julia. Ciuman itu seolah menegaskan jika Tiffany bukan siapa-siapa lagi untuk Zach.

__ADS_1


 


 


__ADS_2