
Setelah memikirkan berbagai kemungkinan, akhirnya keesokan harinya Tiffany datang ke perusahaan Zach. Pria itu terkejut dengan kedatangan Tiffany yang ternyata sudah ada di kantornya saat Zach baru memasuki ruangan.
“Zach!” Tiffany segera menyambut kedatangan pria yang sangat ia rindukan itu.
“Tiffany, ngapain kamu tiba-tiba datang kesini? Kemana kamu pergi selama ini, menghilang tanpa kabar?” tanya Zach sesaat setelah menutup pintu.
Tiffany segera memeluk Zach sambil menangis tersedu-sedu menyesali semua yang telah dilalui.
“Aku bener-bener menyesal karena sudah ninggalin kamu, Zach. Kalau saja saat itu aku tidak menuruti keinginan mama sama papamu, pasti sekarang kita sudah hidup bahagia,” ucap Tiffany sambil terisak-isak.
Wanita itu menyesal karena telah pergi dan menuruti keinginan orang tua Zach untuk meninggalkan pria itu.
"Kamu jangan sembarangan bicara. Mana mungkin papa dan mamaku meminta kamu pergi?” ucap Zach tak percaya.
Mereka memang menginginkan dia menikah dengan Julia, tapi dengan cara baik, bukan dengan cara meminta Tiffany pergi seperti yang dikatakannya barusan.
“Aku sudah menduga, pasti kamu tidak akan percaya dengan omonganku. Ini beneran, Zach. Mereka minta supaya aku jauhin kamu. Mereka mengancam aku kalau tidak mau ninggalin kamu, hidup aku akan celaka. Aku takut, Zach,” ucap Tiffany masih sambil terisak-isak. Sandiwara yang sungguh sempurna.
Zach masih tidak percaya dengan ucapan Tiffany, tapi untuk apa gadis itu berbohong. Bukankah selama ini mereka tidak ada masalah?
Zach memijit-mijit pelipisnya. Ia sangat terkejut dengan kedatangan Tiffany yang tiba-tiba, kini semakin dibuat tidak percaya dengan ucapan Tiffany yang bilang jika wanita itu menghilang atas perintah orang tuanya. Zach merasakan kekecewaan, tidak menyangka orang tuanya akan bertindak sejauh itu untuk memisahkannya dengan Tiffany.
'Tidak mungkin mama dan papa bertindak sejauh ini. Pasti Tiffany mengada-ada. Kalau benar yang dibilang Tiffany ini, aku akan sangat kecewa pada mama dan papa.' Batin Zach diliputi kebimbangan.
__ADS_1
Di saat hatinya memanas, ponsel Zach berdering. Di layar ponsel tertera nama Julia yang ia namakan ‘sayangku’.
Tiffany melihat nama yang tertera di layar ponsel itu. Seketika hatinya cemburu, melihat Zach sudah berpaling hati kepada perempuan itu.
'Sialan, Zach sekarang benar-benar sudah melupakan aku!” rutuknya dalam hati.
Zach segera mengambil ponselnya.Dia ingin mengangkat telepon dari Julia, tapi Tiffany tidak memberinya kesempatan. Gadis itu segera mendekati Zach dan berkata pelan, "Zach aku masih mencintai kamu. Tidak peduli apa yang terjadi, rasa cinta ini belum berubah, cuma kamu satu-satunya di sini.”
Tiffany menunjuk dadanya. Perempuan itu masih terus menebarkan racun dengan berkata kalau dia masih sangat mencintai Zach.
“Semua ini cuma kesalahpahaman, Sayang. Kalau saja orang tuamu tidak membujuk aku supaya ninggalin kamu, pasti kita akan baik-baik saja. Cinta kita sekuat itu, Zach. Kamu pasti masih ingat dengan semua hal yang sudah kita lalui bareng 'kan?” Tiffany berusaha mempengaruhi pikiran Zach dengan potongan-potongan ingatan tentang kebersamaan mereka.
“Saat itu aku benar-benar bahagia karena merasakan cintamu yang begitu besar. Sebelum semuanya berubah karena rencana orang tuamu. Kita dulu saling mencintai, Sayang.”
“Tiffany, udah cukup!” Zack berkata tegas sambil mendorong perlahan tubuh Tiffany yang masih terus berusaha untuk memeluknya.
Tentu saja Tiffany sangat sedih mendapatkan penolakan dari Zach. Gadis itu sejak tadi sudah memasang wajah memelas, supaya setidaknya Zach jatuh kasihan. Namun, sepertinya upayanya tidak berjalan mulus. Zach tetap bersikeras pada pendiriannya.
“Aku minta maaf atas semua yang udah terjadi. Aku juga minta maaf untuk kesalahan papa dan mama kalau sempat bicara tidak semestinya padamu, Tiffany. Sekarang situasinya sudah berbeda, aku sudah married dan sekarang punya istri,” jelas Zach lagi.
“Aku tidak peduli, Zach. Sayang, meskipun kamu sudah menikah, kamu masih cinta sama aku, kamu harus akui itu,” desak Tiffany. Dia sudah siap jika memang harus menjadi selingkuhan Zach.
Hubungan tanpa status, bukan masalah besar untuknya, yang penting dia masih bisa bertemu dan bersama-sama pria yang sangat ia cintai itu. Apalagi sekarang kondisi keuangannya mulai menipis, Zach pasti akan membantunya secara finansial, mentransfer setiap bulan seperti kebiasannya dulu waktu mereka masih berpacaran.
__ADS_1
“Tiffany, kamu tidak dengerin aku! Semua yang terjadi di antara kita sudah berakhir!” tegas Zach lagi.
Dia merasa harus mengambil sikap tegas karena sikap posesif Tiffany ini sudah makin meresahkan.
“Zach, dia yang tiba-tiba hadir di antara kita. Kamu sadar tidak sih? Dia yang merebut kamu dari aku!” Tiffany memandang Zach dengan tatapan memohon.
“Perempuan itu memang sudah jadi istri kamu, secara fisik kamu boleh sama dia, tapi jangan lupakan rasa kamu ke aku, ini sungguh tidak adil buat aku, Sayang” timpal Tiffany lagi.
“Rasa itu sudah hilang seiring kepergian kamu, Tiff.” Zach berkata lirih. “Dan, perempuan yang kamu maksud punya nama. Namanya Julia, dan aku sayang sama dia.”
Dengan segenap rasa bersalahnya, Zach berusaha memberi pengertian kepada Tiffany bahwa mereka sekarang sudah tidak bisa bersama-sama lagi.
Bukan Tiffany kalau mudah menyerah. Meskipun Zach sudah menjelaskan berkali-kali bahwa hubungan mereka tidak mungkin dilanjutkan, wanita itu tetap pura-pura tidak mengerti.
“Aku benar-benar minta maaf untuk semuanya Tiff. Maaf atas sikap orang tuaku dan maaf untuk rasa yang sudah tidak sama lagi. Sekarang aku mempunyai kehidupan sendiri, dan hanya ingin menjalani kehidupan pernikahan ini dengan sebaik-baiknya. Tiffany, aku harap kamu bisa ngerti,” pungkas Zach. Dia tak ingin berlama-lama lagi dengan Tiffany. Semua kisah itu sudah usai sekarang.
“Zach, aku tahu kamu sedang berusaha mencari pembenaran, tapi kamu tidak bisa membohongi perasaan kamu sendiri kalau sebenarnya kamu masih sayang ama aku.”
Tiffany masih tetap berusaha menjerat Zach yang berulangkali menolak kehadirannya. Dengan cepat Tiffany mencondongkan tubuhnya ke depan lalu bibirnya mencium bibir Zach. Wanita itu tidak mau membuang waktu dengan berdebat sia-sia, tangannya memegang bahu Zach yang terpana dengan keberaniannya itu.
Sejenak bibir mereka bersentuhan, Tiffany sangat ingin Zach membalas ciumannya itu. Sudah lama perempuan itu berusaha meredam rasa, tapi gejolak hasratnya itu tak tertahankan lagi. Kini pria yang membuatnya tergila-gila itu sedang berdiri di hadapannya.
Tiffany ingin merasakan terbakar seperti dulu saat bibirnya menyentuh bibir Zach. Namun apa yang yang harapkan ternyata tak terjadi. Alih-alih membalas ciumannya, Zach justru mendorong tubuhnya dengan kasar.
__ADS_1
“Lepaskan Tiffany!” seru Zach. Bersamaan dengan suaranya yang membentak Tiffany, terdengar suara derit pintu terbuka. Di sana ada Julia yang menatap nanar Zach dengan kotak makanan yang berserakan.