SUAMIKU BAD BOY!

SUAMIKU BAD BOY!
Happy Ending


__ADS_3

Ciuman panas itu memang tak berlangsung lama, tetapi cukup membakar hati Tiffany hingga habis tanpa sisa. Perempuan itu merasa dipermalukan oleh sepasang suami istri di hadapannya. Tiffany menyambar tasnya di meja kerja Zach lalu memilih pergi sambil membanting pintu.


“Kurang ajar! Sialan! Wanita bar-bar itu benar-benar menyebalkan!” rutuk Tiffany sambil melambaikan tangannya ke arah taksi yang melintas di depannya.


Tiffany langsung merangsek ke dalam taksi setelah menyebut satu lokasi apartemennya, ia duduk di jok belakang. Berkali-kali tangannya mengusap air matanya yang jatuh. Tiffany merasa sakit hati dengan sikap Zach yang sudah tidak peduli pada dirinya.


“Kenapa Zach bisa secepat ini berpaling pada perempuan kampung itu? Aku seperti tidak mengenal Zach lagi. Selama ini dia tergila-gila padaku dan tidak pernah mau jauh dariku.”


Tiffany salah perhitungan, dia sekarang merasa usahanya sia-sia. Awalnya ia sudah membayangkan Zach akan kembali padanya dan bisa menyingkirkan istri barunya tersebut.


“Gadis kampungan itu ternyata lebih kuat dari yang aku bayangkan. ****! Berani-beraninya dia menamparku!” makinya seraya terus memukul-mukul tas di pangkuan. Sopir taksi sampai harus mengawasinya dari kaca spion karena takut terjadi apa-apa dengan penumpangnya.


“Zach seolah-olah tidak punya kuasa untuk menolak, pasti gadis itu main pellet sampai membuat Zach patuh seperti kerbau yang dicocok hidungnya.” 


Di sepanjang jalan menuju apartemennya, Tiffany sibuk menyesali apa yang terjadi, serta sibuk mengutuki Zach dan Julia.


Seusai kepergian Tiffany, Julia yang memeluk Zach perlahan-lahan segera melepaskan diri. Zach pun merasa bingung dengan sikap Julia. Tadi dia merasakan Julia sangat bernafsu menciumnya hingga Zach sempat terpancing untuk menuntut lebih. Bercinta di dalam ruangan kantor, bukankah itu akan menyenangkan? Pikiran Zach sudah berputar liar.


Ternyata kesenangan tadi hanya sesaat karena setelah itu Julia segera pamit untuk pulang ke apartemen.


“Kenapa buru-buru sekali, Sayang. Please, kita lanjutin di sini, yah.”


Pandangan nanar Zach menandakan dia sudah terbakar nafsu. Julia sangat pandai memainkan perasaannya. Setelah mengajaknya melayang tinggi, kini perempuan itu membantingnya ke bumi. Zach mengacak-acak rambutnya tak kuasa menahan kepergian Julia.


“Aku pulang dulu.” Hanya itu yang keluar dari mulut istrinya.


***


Setelah kejadian itu, Julia merajuk hampir seminggu penuh mengabaikan Zach. Wanita itu masih melakukan tugasnya sebagai istri, menyiapkan sarapan dan makan malam untuk Zach. Hanya itu, karena saat tidur, Julia selalu memunggungi suaminya.


“Sayang, sepertinya kemejaku tidak serasi dengan dasi. Bisa minta tolong disiapkan warna yang lain?” tanya Zach sambil menatap cermin saat bersiap hendak berangkat kerja.

__ADS_1


Tanpa banyak kata Julia segera mengambil semua dasi Zach yang berada di dalam lemari, lalu meletakkannya di atas kasur, mengisyaratkan Zach agar memilih dasi sendiri sesuai yang ia mau. Pria itu merasakan kekecewaan.


Malam hari saat Zach pulang kerja, ia sengaja membawa martabak keju susu kesukaan istrinya. Biasanya Julia akan menyambutnya dengan antusias, lalu menghadiahinya dengan ciuman mesra di pipi. Namun, kali ini berbeda. Zach tidak mendapat apa-apa.


“Sayang aku beliin martabak kesukaan kamu, nih. Tadi hujan deras waktu aku beli, mana antriannya panjang lagi. Lihat, nih, aku sampai kedinginan. Bajuku juga basah,” ucap Zach memohon belas kasihan.


Julia hanya menatapnya sesaat tanpa banyak kata, lalu memasuki kamar, meninggalkan Zach dengan sekotak martabak di tangannya. Zach yang sudah berakting menggigil kedinginan pun, mengembuskan napas kesal.


Menjelang tidur, Zach telah menyiapkan kata-kata untuk meminta maaf kepada istrinya. Zach perlahan-lahan naik ke atas kasur, lalu memeluk Julia dari belakang.


“Sayang, udahan dong, marahnya. Aku tidak tahan lagi diabaikan olehmu. Aku benar-benar menyesal dan minta maaf, ya, Sayang.” Zach mencium leher belakang Julia.


Julia bergeming. Wanita itu menahan amarah yang begitu menggunung. Dia kecewa dengan Zach yang dengan mudah dicium oleh Tiffany. Seandainya saat itu dia tidak datang ke kantor, entah apa yang akan terjadi selanjutnya.


“Maafkan aku karena bertindak bodoh dan tidak tegas. Aku sudah menolak dia, tapi memang dasar dianya saja yang bebal. Sayang … aku sudah janji cuma ada kamu di hatiku. Please, jangan lama-lama, dong, hukumannya.” Zach merajuk, tetapi hal itu tak melunakkan hati Julia.


Seminggu tanpa bertegur sapa dan mengobrol hangat seperti biasanya, membuat Zach limbung. Julia hanya melakukan tugasnya melayani, hanya sebagai kewajiban, tidak ada ketulusan seperti yang Zach rasakan dan membuatnya nyaman selama ini.


“Maafkan aku, Sayang. Aku mencintaimu,” ucap Zach lagi sambil mengecup kening Julia penuh perasaan. Julia memejamkan matanya.


Sebenarnya dia sendiri juga merasa tersiksa karena bersikap cuek, tetapi Julia harus memberi pelajaran kepada Zach agar tak mengulangi kesalahannya lagi. Sekarang, saat Julia merasakan ketulusan dari kata maaf Zach yang beribu kali dia ucapkan selama sepekan terakhir, wanita itu merasa kini saatnya mereka berbaikan.


“Janji tidak akan mengulangi lagi?” tanya Julia dengan lembut. Zach menganggukkan kepalanya. Zach sangat takut dengan kemarahan Julia, tapi ia lebih takut kalau Julia meninggalkannya. Laki-laki itu berjanji untuk tidak lagi menyakiti hati istrinya.  


“Aku janji akan menjadi suami yang baik untukmu, Sayang. Sampai ajal menjemput, aku tidak akan pernah menduakanmu lagi.” Julia kembali tersenyum mendengar kata-kata Zach yang menyentuh hatinya. Wanita itu segera meraih kepala Zach dan membawanya ke dalam pelukan.


“Aku percaya kamu bisa melakukannya. Makasih karena sudah mau belajar dari kesalahan,” tutur Julia dengan lembut.


“Makasih juga karena kamu mau terus bersabar menghadapi aku,” jawab Zach lagi.


Mereka berpelukan dan menghabiskan malam dengan pericntaan yang begitu menggelora. Bersama Julia, Zach selalu terbakar hasrat yang meletup-letup.

__ADS_1


Keesokan harinya Julia menunggu Zach bangun. Azan Subuh berkumandang. Julia sudah mandi keramas. Wanita itu tersenyum sambil memegang pipi Zach. Merasakan sentuhan dingin di pipinya, Zach terbangun.


“Hai … Sayang, baru Subuh, belum terlambat, kan?” tanya Zach sambil mengucek-ucek matanya.


Julia menyodorkan sesuatu di dalam box kecil.


“Apa ini?” tanya Zach sembari terbangun dari tidurnya. Kini ia duduk lalu membuka box itu.


Alangkah terkejutnya saat Zach membuka box itu dan mendapati sebuah tespack dengan dua garis biru.


“Ya Tuhan, apakah ini sungguhan? Julia sayang, ini artinya?” Zach menatap Julia tak percaya.


Sementara istrinya hanya mengangguk perlahan. “Kamu akan menjadi ayah, daddy yang handsome,” jawab Julia seraya mengembangkan senyumnya.


Zach sampai tidak bisa berkata-kata. Pria itu memeluk Julia sambil menangis dan mengucapkan terima kasih tiada henti.


“Sayang, makasih untuk semua yang sudah kamu lakukan. Aku benar-benar tidak percaya kita bisa sampai di sini. Punya anak itu amanah besar. Alhamdulillah, akhirnya kita dipercaya sama Allah untuk punya baby,” ucap Zach dengan kegembiraan dan rasa syukur yang membuncah.


Pagi itu benar-benar menjadi pagi yang indah dan awal yang menyenangkan bagi sepasang suami-istri itu untuk menjalani kehidupan pernikahan mereka selanjutnya. Kesabaran Julia akhirnya berbuah manis. Dengan senyuman dan rasa syukur yang memenuhi hatinya, wanita itu memandang ke luar jendela yang masih disinggahi titik-titik embun.  


.


.


.


TAMAT


 


 

__ADS_1


__ADS_2