
Dua bulan berlalu sejak pernikahan Julia dan Zach digelar. Mereka sedikit demi sedikit sudah mulai bisa beradaptasi dengan kehidupan pernikahan, serta sifat masing-masing. Keduanya lebih saling mengalah saat memperdebatkan sesuatu, dan lebih banyak memberikan versi terbaik dari diri mereka kepada pasangannya.
Rumah tangga Zach dan Julia memang berjalan begitu manis. Pria itu pun mulai mengerjakan tugasnya sebagai suami dan imam keluarga yaitu beribadah. Perlahan-lahan Zach belajar mengaji, mereka memanggil ustaz khusus untuk memperbaiki ilmu mengaji. Zach ingin menjadi suami yang baik untuk Julia.
Suatu siang Satria dan Hendra datang ke kantor Zach, karena kebetulan mereka ada acara di dekat area kantor sahabatnya itu.
“Kamu sekarang bener-bener udah jadi anak kantoran, Zach,” ucap Satria melihat tumpukan berkas di meja sobatnya itu.
Dulu mereka sering janjian di luar kantor, meskipun hanya untuk sekadar makan siang. Sekarang Zach seperti sudah asyik dengan dunianya sendiri.
“Gila sih, sempet kliyengan periksa berkas gini satu persatu, tapi setelah dipikir-pikir enak juga, karena tidak harus macet-macetan di jalan kayak dulu.” Zach menjawab sesuai apa yang ia alami sekarang.
Ritme kerjanya memang lebih teratur, karena kesibukannya sekarang lebih banyak di dalam kantor, melakukan pengawasan melekat, supervisi langsung. Tentu saja ini semua adalah ide Max, yang ingin Zach lebih banyak berada di dalam kantor untuk meningkatkan produktivitasnya.
“Pantas aku sekarang jarang melihatmu kalau lagi acara bisnis fair, kayaknya kamu sudah pensiun dari dunia tender dan flexing, ya?” Hendra menimpali.
Flexing yang dimaksud adalah sering menjadi pembicara di acara seminar bisnis. Dulu Hendra sering menyebut Zach sedang pamer dan tebar pesona kepada para karyawan dan eksekutif muda.
“Aku ada tim sekarang, jadi tinggal kontrol aja. Mereka yang ambil job keluar, aku yang pantau dari sini. Meskipun untuk problem solving tetep aku decicion makernya,” jawab Zach lagi. Semakin dewasa, Zach semakin focus kepada kehidupan karirnya secara vertical.
“Ya tapi bukan berarti selepas jam kantor kamu tidak bisa pergi, dong,” pancing Satria mulai bisik-bisik iblisnya. Sudah cukup lama mereka tidak berkumpul lagi usai Zach mabuk berat malam itu.
“Bisa, cuma aku udah tidak berminat, males banget rasanya sekarang hang out kayak dulu. Justru karena sekarang aku banyak di kantor, rasanya kerja pakai otak malah terasa lebih capek, gak, sih?” timpal Zach. Hendra menganggukkan kepalanya lalu menimpali, "capek dan cepet laper,” sahutnya cepat.
“Ayolah, Bro. Kita udah lama, nih, tidak adu gelas,” bujuk Satria tak pantang menyerah.
Tanpa Zach memang acara gaul malam jadi kurang asyik, berkurang satu orang dermawan yang suka membayar minuman saat mereka minum-minum.
__ADS_1
“Wah, parah kamu bangsat. Aku sekarang udah tidak mau mabuk lagi, Bro. Sudah bosan dengan alkohol. Aku mau hidup lurus-lurus aja,” jawab Zach lagi.
Bangsat adalah singkatan nama Satria kalau mereka sedang bercanda. Bangsat, alias Bang Satria.
Satria yang sedari awal kurang suka Zach menikah dengan Julia, semakin berpikir bahwa Zach sudah dipengaruhi oleh istrinya dari kampung itu.
“Bener juga kata Zach, sekarang usia kita udah makin tuwir, Cuy. Kayaknya udah tidak pantas bertualang dari klub satu ke pub lainnya. Minum minuman keras, mabuk, main perempuan, rasanya hidup tidank ada kemajuan,” timpal Hendra membela Zach.
Hendra sendiri saat ini juga sedang menjalin hubungan serius dengan wanita yang dikencaninya. Dia sudah tidak mau berganti-ganti pasangan lagi karena terinspirasi melihat rumah tangga Zach yang bahagia bersama Julia.
Satria hanya diam tanpa menimpali. Kini ia merasa dua temannya sudah tidak asyik diajak jalan seperti dulu lagi. Semua ini gara-gara Zach menikah dengan gadis pilihan orang tuanya.
***
Di luar dugaan, ternyata Tiffany kembali ke tanah air setelah puas berfoya-foya dengan uang pemberian orang tua Zach.
“Huhh, lega banget bisa menginjakkan kaki di Jakarta lagi. Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa menghirup udara tanah kelahiranku,” ucap Tiffany lirih sembari mendorong kopernya. Dia baru saja tiba di bandara, setelah menghabiskan waktu dan uang di Singapore.
“Apa kabar temen-temen nongkrongku, ya?” Benak Tiffany mulai merancang rencana untuk bertemu dengan kawan-kawannya yang dulu adalah bestie-nya.
“Kayaknya aku mesti lihat aktifitas mereka dari sosmed, deh.”
Tiffany berhenti di sebuah restoran cepat saji yang berada di area bandara. Setelah memesan minuman dan kue pengganjal perut, Tiffany mulai scroll sosmed kawan-kawan lamannya.
‘Peragaan busana di mal Senayan City minggu ini, ada gue, datang ygy.’
Status Cindy salah satu close friend Tiffany. Perempuan itu terus scroll Instagram miliknya untuk melihat aktifitas kawan-kawannya.
__ADS_1
‘Mau makan enak dengan view bagus dengan harga terjangkau, kesini aja, Guys.’ Status Bernadette salah satu sahabatnya yang selalu menjadi kawannya saat jalan ke pub.
“Wah, Bernadette kayaknya lagi free, nih. Boleh, deh, aku DM biar bisa jalan bareng,” ucap Tiffany perlahan.
Saat menggulirkan jarinya kembali ke layar i-phone, tiba-tiba tanpa sengaja melihat status Hendra.
‘Aktifitas bapack-bapack idaman.’
Hendra memamerkan foto bersama Zach yang sedang berada di gym. Mereka berdua tampak akan memulai sessi latihan dengan trainer.
Karena ditandai oleh Hendra, secara spontan Tiffany meng-klik nama Zach lalu munculah laman Instagram kekasihnya itu.
Karena diprivat Tiffany tidak dapat melihat semua foto Zach, tetapi dia masih bisa melihat beberapa foto yang sengaja ditag oleh Hendra.
“Jadi dia sudah bahagia sekarang,” gumam Tiffany. Batinnya teriris melihat wajah tampan pria yang selama ini tak pernah bisa ia lupakan.
“Zach, kamu tau gak, sih, aku kangen banget sama kamu. Kenapa selama ini kamu tidak ada usaha buat nyariin aku?” tanya Tiffany lagi masih sambil menatap wajah Zach yang kini terlihat makin segar.
“Zach, sepertinya sekarang makin bahagia tanpa aku, ya. Entah, apa kamu masih ingat sama aku atau tidak? Aku sangat tersiksa selama ini sudah meninggalkan, kamu.”
Lagi-lagi Tiffany bergelut dengan perasaannya sendiri. Seandainya saat itu dia menolak uang pemberian Max dan Intan, mungkin dia masih berbahagia bersama Zach. Kali ini Tiffany sungguh sangat menyesali keputusannya.
“Tidak bisa, sih. Aku tidak bisa ngebiarin Zach hidup bahagia sama cewek itu. Enak banget dia sekarang bisa move on tanpa aku, sementara aku masih belum bisa ngelupain dia. Sekarang aku tidak bakal mundur. Apa pun yang terjadi, aku harus bisa ngerebut Zach lagi. Dia milikku, bukan milik gadis kampung itu,” desisnya perlahan.
Wanita itu merasa sakit hati dan tidak terima Zach hidup bahagia tanpa dirinya.
__ADS_1