SUAMIKU BAD BOY!

SUAMIKU BAD BOY!
Zach tidak pulang


__ADS_3

Tanpa terasa beberapa hari pun berlalu sejak Julia dan Zach menikah. Masih dengan kebiasaan yang sama berulang kembali. Pagi-pagi Julia bangun, lalu membuat sarapan untuk Zach. Sedangkan Zach yang mulai terbiasa merasakan masakan Julia, tak banyak bicara. 


 


Meski Zach dan Julia sekarang sudah menjadi sepasang suami istri, tetapi hingga sepekan berlalu, Zach masih belum menyentuh Julia.


 


Berbeda dengan saat Zach bersama Tiffany dulu, saat mereka bersama-sama, hasratnya tiba-tiba menggelegak tanpa bisa dibendung lagi. Entah mengapa bersama Julia yang bahkan telah halal disentuh, Zach malah merasa tidak berani meski kadang penampilan Julia yang polos seadanya memberikan desir tidak biasa. 


 


Seperti tadi malam saat Julia tertidur dengan novel yang masih berada di tangannya, Zach memasuki kamar, menyingkirkan novel itu, menutupnya lalu meletakkan di meja samping tempat tidur. Tanpa sengaja Zach menatap wajah Julia yang polos.


 


Zach hanya bisa memandangi dalam diam. 'Julia terlihat manis, apalagi saat tertidur begini, menggemaskan bagaikan peri tanpa dosa,' batinnya lirih. 


 


Tangannya menarik bed cover lalu menyelimuti tubuh Julia. Saat itulah tanpa sengaja maniknya tertuju pada paha istrinya yang mulus. Hampir saja, Zach mengelusnya, tapi mendadak ia menghentikan tangannya untuk tak menyentuh Julia. Seperti ada sesuatu yang menahannya. 


 


Pagi itu Zach bersiap-siap akan berangkat kerja, Julia mengantar pria itu sampai lobby apartemen. 


 


“Sudah, di sini saja, tidak usah ikut turun. Aku bisa sendiri.” Zach mencegahnya ikut ke bawah sampai basement. 


 


“Tidak apa-apa, Kak. Rasanya lebih tenang mengantarkan kepergian suami kerja. Hati-hati, jangan ngebut nyetirnya. Semoga semua urusan Kakak lancar hari ini.” Julia tersenyum manis. Entah kenapa dia juga sudah menyukai aktifitas mengantarkan suami setiap pagi seperti ini. 


 


“Ya sudah, cepat naik! Jangan capek-capek, tidak usah masak. Beli online saja, jadi kamu tidak ribet.” Zach dengan wajah datar segera memasuki mobil. Meskipun bibirnya selalu mengatakan beli makanan online, tetapi semua masakan Julia selalu tandas tak tersisa dihabiskannya. 


 


Julia melambaikan tangan melepas kepergian Zach. Zach hanya mengangguk dan segera pergi memacu mobilnya. Setelah memastikan Zach keluar dari basement, Julia kembali naik ke apartemennya yang berada di lantai dua belas. 


 

__ADS_1


Julia beberapa kali mengelilingi apartement mewahnya yang sangat berkelas dan terasa nyaman. Akan tetapi, tetap saja Julia lebih suka jika keadaannya lebih ramai. Julia menyukai kehangatan keluarga, setidaknya jika ada Zach dia bisa mengajak suaminya itu mengobrol. 


 


“Sepi sekali kalau Kak Zach sudah berangkat kerja. Temenku hanya TV, liat serial sudah bosan, liat drakor masih on going semua, malas.” Julia keluar ke balkon di depan kamarnya, menatap suasana kota Jakarta yang mulai ramai-ramainya.


 


“Kalau ada Kak Zach, terasa lebih menyenangkan. Obrolan apa pun jadinya enak dinikmati, ya meskipun ujungnya terkadang tidak mau ngalah dan nyebelin juga,” ucapnya dengan rona pipi yang tiba-tiba memerah.


 


Mengingat Zach sudah resmi menjadi suaminya, pipi Julia merona. Jantungnya terasa berdebar-debar. Julia bertanya pada hatinya, "apa aku udah benar-benar jatuh cinta kepada pria itu? Sepanjang hari cuma memikirkan dia aja, ah … otakku!” Julia menepuk dahinya. Semakin mengingat Zach, semakin hatinya merindu, menunggu malam tiba rasanya hari menjadi sangat panjang.


 


Untuk membunuh waktu, Julia memanfaatkan waktu dengan menelpon Yanti. Setelah menikah, mereka hanya saling berkirim kabar melalui pesan Whatssap saja.


 


[Halo, Julia. Masih ingat punya teman imut dan menggemaskan ini? Kirain sudah lupa.] Yanti langsung menjawab panggilan telpon Julia dengan drama. 


 


“Ih, apaan, sih. Kamu lagi sibuk tidak? Kalau sibuk aku matiin. Aku tidak enak kalau mengganggu wanita karir,” goda Julia. Yanti mengabari kalau dia sekarang bekerja di perusahaan swasta. 


 


 


“Haha, dasar, anak Mama. Sudah kerja, gantian donk Mamanya dibeliin makanan, bukan dipekerjakan terus suruh bikin bekal.”


 



[Ya gimana lagi, memang udah nasibku punya emak-emak tidak mau diam, maunya masak terus. Kamu apa kabar Julia? Cieh pengantin baru pasti sibuk keramas, awas ah, rontok rambutnya keseringan keramas,] canda Yanti yang mau tak mau membuat hati Julia mencelus. 


 


Sudah seminggu tapi Zach belum pernah menyentuhnya. Sekat guling itu masih memisahkan raga mereka, entah sampai kapan, Julia juga tidak tahu. 


 

__ADS_1


Dia hanya menunggu inisiatif Zach, karena memang menyadari pernikahan mereka bukan karena suka sama suka, tapi karena perjodohan. 


 


[Hei, dia diem. Neng, kenapa melamun? Ngebayangin yang iya-iya pasti, nih? Sabar atuh, nanti malam juga dapat jatah. Kamu bikin iri aja, ih. Aku yang pacaran sudah kayak ganti casing HP belum juga ada yang melamar. Eh, kamu yang diem-diem saja, tiba-tiba sat-set dapat suami crazy rich.] Mereka tergelak bersama. Yanti sedikit mengalihkan kegalauan Julia. Mereka pun tanpa terasa terlibat obrolan seru. 


 


[Eh, Julia, suamimu Zachar itu CEO bukan, sih? Aku dengar-dengar CEO muda gitu. Ciyeh, yang sudah seperti cerita novel, ciyehh.] Yanti terus menggoda Julia, tanpa tahu kalau perasaan gadis itu sekarang sedang hampa. 


 


“Yanti, kamu tuh kalau manggil nama tidak pernah benar, ya. Namanya Zachary, uh dasar piktor kamu, mah. Panggilannya Zach. Dia kerja di perusahaan Papanya. Ya bukan CEO lah, belum. Lagi pula, tidak penting juga, memang kenapa, sih? Yang penting dia mau kerja halal, ya 'kan?”


Tak terasa hampir satu jam, waktunya Yanti kembali bekerja, Julia tahu diri dan pamit untuk segera mengakhiri panggilan. 


 


[Awas kalau kamu hamil tidak bilang-bilang. Aku harus jadi yang pertama tahu kalau ada kabar mau punya keponakan.]


 


Julia hanya bisa mengembuskan napas panjang. 'Mau hamil dari mana? Tidur aja masih dipisahkan guling laknat?' batinnya masygul.  


 


Julia akhirnya menghabiskan waktu senggangnya dengan membaca novel yang ia bawa dari rumahnya dulu. Ada juga beberapa buku yang dia bawa dari rumah Zach. Gadis itu melirik jam berkali-kali menunggu Zach pulang ke rumah.   


 


Saat hari beranjak senja, ia pun berhenti membaca dan berniat untuk menyiapkan makan malam. 


“Sepertinya aku bikin menu udang goreng tepung saja, mudah dan praktis,” gumam Julia. Diambilnya udang ukuran besar yang sudah bersih dari dalam freezer, lalu mulai menyiapkan tepung bumbu.


 


Dengan bersemangat Julia segera menggoreng udang berukuran besar yang sudah dibaluri dengan tepung bumbu crispy pedas itu. Tak butuh waktu lama, udang goreng tepung pun siap. Julia menyimpannya dalam wadah tertutup.


 


“Sayurnya dibikin capcay saja, ini juga tidak ribet bumbunya,” ujarnya sambil mengamati stok sayuran di dalam box kulkas paling bawah. Dengan cekatan Julia menyelesaikan menu untuk makan malam. Lalu ia membersihkan diri setelahnya untuk menyambut kedatangan Zach. 


 

__ADS_1


Namun, sampai malam tiba zach tidak kunjung muncul. Julia yang sampai saat ini belum memiliki nomor ponsel suaminya, menjadi nelangsa. Hatinya sedih melihat makanan yang tersaji meja makan. Setelah lelah menunggu kepulangan suaminya berjam-jam, Julia pun tertidur di atas meja makan.


 


__ADS_2