
Julia dan Zach bersuka cita saat honeymoon yang mereka habiskan hampir seminggu penuh. Setiap malam pun ranjang mereka terus hangat, karena Zach yang seperti menemukan rumah sesungguhnya.
Julia sedang mengemasi barang-barangnya untuk dimasukkan ke dalam koper, saat Zach memasuki kamar mereka, lalu memeluknya dari belakang. Sudah hampir sepekan mereka berada di Labuan Bajo. Seluruh destinasi wisata sudah mereka datangi, sekarang waktunya pulang kembali ke Jakarta.
“Kenapa kamu buru-buru banget, sih? Ini masih terlalu pagi, Sayang.” Zach mengeratkan pelukan ke pinggang Julia sambil menciumi leher istrinya. Julia menggeliat kegelian.
“Lebih baik kita bersiap-siap sekarang, cuaca sepertinya tidak terlalu bagus, yang penting kita udah sampai bandara, jadi tidak khawatir terlambat.”
Julia mencoba melepaskan tangan Zach di perutnya. Tangan itu melingkar dengan kuat, hingga membuatnya sedikit kesulitan bernapas.
“Lepasin, Kak, aku tidak bisa napas ini.” Julia merajuk, membuat Zach justru bersemangat kembali mengungkungnya ke dalam pelukan yang lebih erat.
“Malas banget pulang, aku masih ingin menikmati keindahan alam di sini,” ucap Zach beralasan.
Tentu saja itu memang hanya alasannya saja. Sebenarnya ia masih ingin berduaan dengan Julia. Pria itu tidak ingin jauh-jauh dari wanita yang telah menjadi istri sahnya.
“Aku lapar, boleh minta tolong dimasakin mie instan, tidak? Aku kangen makan mie.” Lagi-lagi Zach tak mau melepaskan pelukan. Sampai kemudian Julia menganggukkan kepalanya.
“Bukannya barusan sarapan dari resto?” Zach mengangguk lalu melanjutkan ucapannya,” udaranya bikin lapar, nafsu makanku meningkat terus sejak di sini, aktifitas olahraga kita juga menguras banyak tenaga.”
Julia mengulum senyumnya malu-malu. Sebagai pasangan pengantin baru yang sedang mesra-mesranya, Zach tak pernah membiarkannya tidur dengan nyenyak. Pria itu selalu punya cara untuk menganggu tidurnya, lebih tepatnya menagih jatah malam. Itulah kenapa setiap terbangun Zach selalu merasa sangat kelaparan. Padahal sebelum tidur, mereka telah mengisi perut ke restoran, bahkan juga telah menyediakan banyak stok camilan.
“Ya sudah makanya lepasin dulu, kalau dipeluk begini gimana aku bisa bikin mie buat Kakak?”
Akhirnya Zach melepaskan pelukannya. Dengan cepat ia mengangkat tubuh Julia ke atas kasur.
“Kakak! Katanya mau dibikinin mie!” teriak Julia panik. Rambutnya masih basah karena usai mandi keramas.
“Kenapa, sih, teriak gitu? Aku cuma ingin lihat wajahmu yang polos itu.” Zach mendekatkan dirinya kepada Julia. Tentu saja Julia berusaha menghindar. Berdekatan dengan Zach tidak akan pernah berakhir selamat.
Dengan cepat Julia bangkit dari kasur, tapi secepat itu pula Zach berhasil menarik tubuhnya hingga terjatuh kembali ke kasur.
__ADS_1
“Aku tidak mau pulang!” Zach merajuk. Julia tertawa melihat sikap manja suaminya.
“Kenapa tidak mau pulang? Kakak mau tinggal di sini selamanya?” goda Julia. Zach menganggukkan kepalanya.
Julia sebenarnya juga ingin berlama-lama berdua seperti sekarang, tanpa beban dan hanya bersenang-senang. Dirinya sekarang sedang menikmati masa-masa berbahagia, karena Zach selalu bersikap manis dan sangat menyayanginya. Julia yang diberikan jutaan cinta setiap hari, mau tidak mau meleleh juga.
'Ternyata begini rasanya menjadi bucin seperti yang dikatakan Yanti,' batinnya sambil tersenyum tipis.
“Kalau di rumah terlalu banyak orang, aku tidak suka. Apalagi Bi Ipah yang suka ceramah, males banget dengernya,” ucap Zach membuat Julia tertawa. Wajah Bi Ipah yang jenaka langsung melintas di dalam benak Julia. Bagaimanapun perempuan itu telah bersikap baik padanya.
“Bi Ipah memang banyak bicara, tapi dia baik dan sayang sama aku, jadi Kakak tidak boleh benci sama Bi Ipah,” bela Julia.
“Bukan benci, cuma harus ngabisin banyak energi kalau denger celotehan Bi Ipah yang tidak ada titik komanya.” Zach menatap langit-langit kamarnya.
Kedua tangannya bertumpu di belakang kepalanya. Sesaat kemudian, tangan kirinya menarik kepala Julia, meminta wanita itu tidur di dadanya.
Julia menggeser tubuhnya. Kini kepalanya bersandar pada dada bidang Zach. Debaran jantungnya masih saja tidak bisa diajak berkompromi. Meskipun sudah berstatus suami istri, Julia masih sering deg-degan kalau Zach menatapnya dengan intens.
Kini dengan posisi seperti sekarang, Julia bisa mendengar detak jantung Zach, dan entah kenapa itu justru memacu degub jantungnya sendiri.
Kali ini Julia berusaha memahami kemauan Zach. Dia sendiri juga merasa lebih leluasa di apartemen, hanya saja memang agak terasa sepi ketika Zach berangkat kerja.
“Beneran mau langsung pulang ke apartemen?” tanya Zach memastikan.
“Kira-kira Mama Intan bakal marah, tidak ya?” ujar Julia lagi. Dia merasa tidak enak, karena saat berangkat mereka pergi dari rumah Intan, sepertinya tidak sopan, jika pulang langsung ke apartemen.
Seolah memahami kegundahan Julia, Zach segera menelpon Intan.
“Halo, Ma.”
“Hai, Zach, gimana honeymoon kalian?” tanya Intan, Zach segera meloudspeaker suara Intan di ponselnya, hingga Julia bisa ikut mendengarnya.
__ADS_1
“Ini sudah mau pulang ke Jakarta, Ma. Ehm, kalau misalnya kita langsung pulang ke apartemen, apa mama tidak marah? Soalnya kita capek banget, besok Zach harus udah mulai kerja lagi.”
“Ya tidak masalah, dong, Sayang. Lagian jarak dari bandara ke apartemen kamu emang lebih dekat. Gapapa langsung ke apartemen, nanti pas weekend aja kita ngumpul lagi. Gimana kabar Julia? Dia happy, kan?”
“Pasti dong, Ma. Masa honeymoon sama suami yang sangat ia cintai nggak happy!” Julia segera mencubit lengan Zach membuat pria itu sengaja menjerit keras.
“Aw!”
“Kenapa kamu Zach?” selidik Intan curiga.
“Ini, Ma, Julia udah nggak sabar pengen berduaan lagi, ya udah, deh, kalau gitu kami langsung balik ke apartemen, salam buat papa, ya, Ma. Makasih karena udah kasih hadiah honeymoon, unforgettable moment banget ini.”
Julia memberi kode dia ingin bicara dengan Intan, Zach langsung menggeser ponselnya.
“Halo, Ma. Makasih honeymoon indah ini, ya, Ma. Julia benar-benar bahagia, kok. Kak Zach yang nggak mau pulang, nih, Ma. Maunya di sini terus.” Julia mengadu.
Intan menyambut ucapan Julia dengan sederet tawa yang renyah. Perempuan itu sangat berbahagia karena anak dan menantunya sekarang sudah terdengar akur satu sama lain. Tidak ada lagi permusuhan seperti sebelumnya. Tentu saja kabar baik ini harus segera dia sampaikan kepada Max.
“Iya, Julia sayang. Kalian hati-hati, ya. Jangan sampai kecapekan, nanti kalau sudah sampai apartemen, kasih kabar lagi sama mama. Bye Julia.” Intan segera menutup telponnya.
“Jadi gimana?” ucap Zach sambil mengangkat alisnya.
“Gimana apanya? Ya ayo kita siap-siap,” jawab Julia.
“Aku mau sarapan sekali lagi,” teriak Zach sambil menarik Julia yang sudah bangkit dari tidurnya.
Julia sangat kaget ditarik dengan tiba-tiba, kini mereka sudah bergulingan di atas kasur, menghabiskan sisa waktu berbulan madu yang tinggal hitungan jam sebelum meninggalkan Labuan Bajo dengan segala keindahannya.
__ADS_1