
Zach terus berusaha melupakan Tiffany, meskipun sulit. Setidaknya kini ada Julia yang selalu setia berada di sampingnya. Gadis itu tak pernah menanyakan apa pun tentang masa lalunya.
Seiring berjalannya waktu, Intan dan Max merasa, saat inilah momen yang tepat untuk segera menggelar pesta pernikahan untuk Zach dan Julia.
“Sudah diputuskan dua minggu lagi, kalian hanya perlu mempersiapkan diri. Semua persiapan pernikahan Mama yang mengurus. Julia juga tinggal pilih saja gaun yang mau dipakai. Nanti masalah gedung dan lain-lain, akan dihandle Wedding Organizer teman Mama.”
Julia hanya mengangguk perlahan. Zach yang tadinya menolak, kini menerima pernikahan itu, pria itu berusaha merelakan Tiffany.
“Ya sudah Mama atur saja semua, Zach sedang banyak kerjaan dari Papa, jadi semua Zach serahkan pada Julia dan Mama,” jawab Zach pasrah. Mungkin memang jodohnya adalah Julia.
Senyum Julia segera mengembang, mendengar jawaban Zach, rasa yang dipendamnya kini mendapatkan sambutan dari Zach. Tentu saja ia merasa sangat bahagia.
Sebenarnya diam-diam Intan memang sudah mempersiapkan semuanya. Dibantu temannya yang punya WO, ia tinggal meneruskan semua rencananya. Dua minggu waktu yang cukup untuk mempersiapkan semua hal.
“Hai, Nia. Senang deh bisa ketemu lagi. Besok kita ke hotel tempat resepsi akan digelar, kebetulan lokasinya berdekatan dengan masjid tempat akad nikah. Lalu untuk tes menu juga kamu harus ikut, aku mau ada makanan khas Sunda yang dimasukkan dalam list menu, taste kamu sudah teruji.” Intan menyambut kedatangan calon besannya.
Kedua wanita yang sejak awal merencanakan perjodohan kedua anak mereka itu akhirnya bisa berbahagia. Dengan kompak mereka melihat gedung, memeriksa dekorasi, serta mencoba menu yang akan disajikan saat hari pernikahan.
“Zach kamu mau memberikan mas kawin apa untuk Julia?” tanya Intan saat mereka makan malam bersama.
Zach memandang ke arah Julia yang menunduk. “Perhiasan berlian sesuai tanggal pernikahan kami, Ma.” Akhirnya Zach buka suara, mereka memang sudah berdiskusi tentang hal ini sebelumnya.
“Wah, bagus sekali. Ada seperangkat alat salatnya, tidak?” tanya Intan lagi.
“Kata Julia tidak perlu, bukan apa-apa, meskipun kelihatannya sederhana, tapi sebenarnya maknanya berat. Pemahaman agama Julia lebih bagus daripada Zach, dan rasanya justru Zach yang harus belajar agama lebih banyak lagi setelah ini.”
__ADS_1
“Wah, Mama jadi terharu, makasih Julia, sudah membuat Zach jadi bertambah ilmu lagi. Pokoknya yang namanya rumah tangga itu harus saling melengkapi, Sayang. Tidak ada yang mendominasi. Keduanya harus mau sama-sama belajar, Mama rasa kalian bisa mewujudkan rumah tangga yang sakinah mawaddah, warahmah, rumah tangga yang tenang, tentram penuh cinta kasih dan diberkahi oleh Allah SWT.”
“Amiin, makasih, Ma.” Mereka melanjutkan makan malam dengan penuh kehangatan.
Akhirnya hari yang dinantikan pun tiba. Di sebuah hotel bintang lima pesta diadakan dengan sangat meriah setelah sebelumnya dilangsungkan acara akad nikah di masjid yang telah ditunjuk.
Hendra dan Satria hadir dalam acara sakral akad nikah. “Cantik juga istri Zach, aku kira kumal seperti gadis kampung di pedalaman gitu. Ternyata manis, not bad lah. Manis banget malah, tidak membosankan,” puji Hendra.
“Manis apanya? Yang model begitu, di diskotik juga banyak." Satria masih tak terima. Pria itu masih berharap Tiffany yang jadi pendamping Zach di pelaminan, bukan Julia.
“Lagi pula, kenapa juga menghilang begitu saja? Sekarang kalau dia tahu Zach sudah menikah, apa masih bisa tegar? Aku membayangkan ia akan menangis darah,” sahut Satria.
“Sudah, jaga ucapanmu, jangan sebut-sebut nama Tiffany lagi di depan Zach, apalagi di depan istrinya. Ya biar bagaimana pun juga kita harus menghormati keputusan Zach yang memilih berbakti sama orang tuanya. Apalagi dia anak satu-satunya, Bro. Kamu bisa membayangkan jika berada di posisi Zach,” sergah Hendra.
Saat mereka sedang berdebat, Zach mendatangi mereka.
“Thanks kalian sudah datang, Bro. Kenalin ini Julia,” ujar Zach memperkenalkan Julia. Meskipun belum tegas menyebut sebagai istri, Julia cukup senang. Rupanya Zach memang masih malu-malu.
“Aku Hendra,” kata Hendra sambil mengulurkan tangannya.
“Aku Satria, kita bromance-nya Zach. Jadi kalau misal nanti dia pamit mau kumpul sama kita, jangan kamu larang, ya.” Satria bicara dengan lantang, tentu saja sodokan siku dari Hendra segera mendarat di perut kirinya.
“Tentu saja, pernikahan bukan untuk mengekang satu sama lain, tenang saja. Kalian masih bakal bisa hang out dengan Kak Zach, kok.”
Hendra sedikit kaget mendengar jawaban santai Julia. Tadinya dia berpikir Julia gadis pemalu yang akan selalu menundukkan wajahnya ketika bertemu orang baru, ternyata dugaannya salah. Julia cukup menyenangkan juga untuk teman ngobrol meskipun mereka hanya ngobrol singkat. Sikapnya yang sopan dan berpendidikan juga terlihat, beda jauh dengan Tiffany yang ketika berbicara selalu asyik dengan dirinya sendiri.
“Ah, kenapa lama sekali kau berbicara dengan istri Zach? Aku sampai bosan menunggu di sini. Bahas apaan, sih? Satria protes. Pria itu masih pro pada Tiffany.
__ADS_1
"Hanya sedikit tukar pendapat." Hendra terkikik geli melihat sikap Satria.
***
Setelah pernikahan mewah, orang tua Zach memboyong pasangan pengantin baru itu menuju apartemen baru.
“Nah, ini hadiah pernikahan untuk kalian, Mama sama Papa sudah membelikan apartemen baru.”
Zach dan Julia tak menyangka jika kedua orang tuanya memerhatikan mereka sampai sedetil itu. Tadinya Zach sudah menyiapkan dana untuk menyewa apartemen selama dua tahun.
“Makasih banyak, Ma, Pa.” Zach memeluk Intan dan Max bergantian.
“Makasih Om sama Tante, apartemen ini bagus sekali, kayaknya ini baru dipromokan di mal waktu kita kemarin jalan ke bioskop. Julia sempat lihat brosurnya, tidak nyangka akhirnya kami bisa tinggal di sini.” Julia sangat berterima kasih dan sangat terharu dengan perlakuan Intan juga Max.
Intan tersenyum, ”mulai hari ini Tante titip Zach sama kamu. Pesan tante cuma satu, jadilah pasangan yang saling berusaha membahagiakan satu sama lain. Jangan selalu melihat kekurangan pasangan kita, tapi sempurnakan kekurangan itu. Itu kunci Om sama Tante bisa langgeng sampai sekarang. Eh, mulai sekarang panggilnya jangan Om sama Tante lagi, dong. Julia sekarang sudah menjadi anak Mama, bukan menantu, Mama sudah anggap Julia seperti anak sendiri,” ujar Intan sambil merengkuh Julia ke dalam pelukannya. Wanita itu sangat berbahagia hingga nyaris menitikkan air mata.
Mereka pun berpamitan, meninggalkan pasangan pengantin baru menikmati waktu untuk beristirahat.
Zach dan Julia yang masih canggung dan kebingungan karena ini kali pertama mereka berdua dalam satu ruangan dengan label halal.
“Aku mau istirahat dulu, ya. Lelah sekali hampir seharian berdiri dan bersalaman dengan para tamu undangan.” Zach segera berbaring di kasur.
“Iya, Kak. Aku mau mandi dulu,” sahut Julia yang juga tak kalah nervous.
Usai mandi Julia kaget karena ternyata Zach memasang sekat dengan sebuah guling di ranjang mereka.
'Aku pikir setelah menikah, sikapnya sedikit melunak dan kami siap memulai hidup baru, ternyata Kak Zach masih belum bisa menerima aku sebagai istri sepenuhnya,' batin Julia agak kecewa.
Meskipun dia juga belum siap melakukan malam pertama, setidaknya sekat yang dibuat oleh Zach itu seperti peringatan kepadanya bahwa pria itu belum siap menunaikan kewajibannya sebagai suami di malam pertama mereka.
__ADS_1