
Setelah tertidur semalaman, pagi itu Zach bangun dengan kepala pusing bukan main. Rasa pening yang biasa terjadi setelah dirinya mengkonsumsi minuman beralkohol. Sudah lama Zach tidak minum, semalam adalah pertama kali pria itu kembali dekat dan akrab dengan minuman memabukkan itu. Pria itu memijit keningnya lalu menoleh ke samping yang telah kosong.
Zach mengucek-ucek matanya sebentar, mencoba meraih kesadarannya yang semalam hilang. Iya, sekarang dia ingat semalam pulang sangat larut, lalu kesulitan membuka pintu kamar. Atau lebih tepatnya dia jatuh sebelum masuk ke dalam kamar.
“Ah, bodoh sekali aku semalam sampai mabuk berat,” keluhnya dengan suara parau. Zach segera keluar kamar setelah membersihkan diri dan memakai kaos lengan pendek dalaman kemeja.
Pandangannya menyapu ruangan. Tak ada siapa-siapa. Pria itu melangkah ke ruang tengah, balkon hingga dapur, juga tak tampak ada manusia di sana.
“Apa dia belanja sayur ke bawah? Sudah aku kasih tahu beli makanan jadi saja, lebih praktis, tapi masih aja ia memasak.” Zach memandang ke meja makan yang terlihat kosong tanpa ada hidangan apa pun di atasnya.
Zach mengerutkan kening. Seharusnya ada sarapan yang sudah siap sedia dengan aroma khas yang menggoda seleranya setiap bangun tidur. Zach mulai terbiasa dengan kebiasaan Julia yang sangat rajin dan cekatan di pagi hari. Kenapa semua sekarang sepi?
Lagi-lagi Zach mencari gadis yang sudah menjadi istrinya itu. Mencari ulang ke seluruh ruangan, ke dalam kamar, walk in closet, kamar mandi, balkon, dia tidak menemukan keberadaan Julia.
“Aku tunggu sebentar, jangan-jangan memang Julia sudah mulai menuruti saranku untuk membeli makanan siap saji.” Zach kembali masuk ke dalam kamar dan memakai kemejanya.
Biasanya Julia juga yang menyiapkan kemeja, menggantungnya di handle lemari, ada dua kemeja yang setiap pagi disiapkan Julia, supaya Zach bisa memilih.
Kali ini Zach terpaksa memilih sendiri kemeja dari dalam lemari yang tergantung rapi. Setelah menunggu beberapa saat, Julia masih belum pulang. Zach mulai khawatir karena setahu dirinya Julia tidak pernah keluar apartement.
"Apa jangan-jangan dia tersesat?” gumamnya lagi dengan rasa khawatir.
Zach keluar dari apartemen dengan cemas dan mencoba mencari Julia di bawah, di mana ada banyak kedai makanan yang menyediakan menu sarapan. Zach mengitari deretan restoran itu. Tak ada tanda-tanda Julia berada di sana.
Pria itu kemudian berinisiatif untuk bertanya kepada seorang security yang sedang bertugas di lobi yang masih terlihat sepi karena hari memang masih pagi.
__ADS_1
“Pak, maaf, lihat perempuan badannya kecil, langsing, trus tingginya segini, yang rambutnya hitam lurus hampir sepinggang, biasanya pakai celana jins ama t’shirt?” tanya Zach sambil menunjuk lehernya mengisyaratkan tinggi tubuh Julia sejajar dengan lehernya.
Security itu terdiam sejenak lalu berusaha mengingat-ingat. Lelaki itu seperti tidak yakin perempuan yang ia lihat tadi pagi keluar dari lobi apartemen adalah perempuan yang sama yang dicari pria di hadapannya ini.
“Boleh lihat fotonya tidak, Mas? Biar lebih jelas, maklum dari tadi banyak perempuan yang keluar dari apartemen. Rata-rata yang kerjanya pagi,” jawab Security itu. Setiap hari puluhan penghuni apartemen berjalan keluar masuk dari apartemen, beberapa mungkin ia kenali, tetapi untuk penghuni baru seperti Zach, security itu masih belum hapal.
“Sebentar,” jawab Zach sambil meraih ponselnya dari dalam saku. Ia mencari-cari foto Julia di dalam ponselnya. Nihil, karena ternyata Zach tidak memiliki foto istrinya itu. Yang mempunyai banyak foto Julia adalah Intan.
“Shit, kenapa tidak ada fotonya satupun?” batin Zach. Suami macam apa Zach, foto istri saja tidak ada. Zach masih berusaha mencari-cari barangkali ada foto Julia yang tersimpan di ponselnya. Namun, pandangannya justru tertumbuk pada satu foto Tiffany yang tertinggal di galeri ponselnya.
“Ahh, bisa-bisanya malah foto Tiffany yang masih tersimpan.” Zach mendesah lelah.
“Sebentar ya, Pak, saya akan cari ke atas dulu,” ujarnya kemudian, mengatasi rasa tengsin yang kini sedang memenuhi kepalanya. Security itu mengangguk lalu kembali ke posisinya.
Zach segera memencet lift naik ke lantai dua belas, dan masuk ke dalam kamarnya. Ia membuka lemari Julia dan ternyata baju gadis itu masih ada.
“Kok bisa aku tidak punya foto dia, ya? Ya Tuhan, kayaknya aku sudah kelewatan jadi suami,” ucapnya kemudian. Zach semakin menyadari telah melewatkan banyak hal tentang Julia.
Dia hanya tahu gadis itu baik hati, rajin, cekatan sebagai istri, tanpa pernah berusaha memahami perasaannya.
Zach menghela napas lega melihat baju-baju Julia itu masih tertumpuk dengan rapi di dalam lemarinya. Ada sedikit ketenangan karena istrinya tidak pergi jauh, tapi juga kekhawatiran karena apartemen ini adalah lingkungan baru bagi Julia.
“Kemana dia pergi? Apa mungkin Julia diculik? Ah tidak, aku nggak boleh berpikir macam-macam!” sergahnya kemudian. Kini benaknya dipenuhi banyak pertanyaan, tapi satu yang ia sadari adalah perasaannya menjadi tidak tenang ketika tak melihat Julia di apartemen.
Di saat Zach kelimpungan, ponselnya pun berdering. Ada panggilan dari mamanya.
__ADS_1
“Zach kalian lagi berantem?” tanya Intan dengan lembut. Wajar Intan berpikir begitu, karena pagi-pagi sekali tiba-tiba Bik Ipah mengabarkan kalau Julia datang ke rumahnya sendirian. Tentu saja itu bukan hal biasa, karena Julia bahkan belum mengenal daerah tempat tinggalnya.
***
Flashback On
“Beneran sendirian, Bi?” tanya Intan memastikan.
“Iya, Nyonya. Saya juga kaget karena waktu masak tadi, tiba-tiba Neng Julia tegur saya. Pas sata tanya mana Mas Zach, wajahnya langsung berubah sedih gitu. Katanya Mas Zach masih tidur dan Neng Julia tidak berani membangunkannya, aneh 'kan, Nyonya,” ujar Bi Ipah panjang lebar. Intan yang mendengar cerita Bi Ipah langsung menarik napas panjang.
“Sekarang Julia ada di mana, Bi?” tanya Intan kemudian.
“Di kamarnya, Nyonya. Katanya mau istirahat sebentar, Kasihan … matanya sembab, sepertinya Neng Julia habis nangis, mungkin tidak tidur juga semalaman,” imbuh Bi Ipah.
Intan mengernyitkan dahi. Sepertinya masalahnya serius, tapi yang bikin dia heran, kenapa Zach tidak menghubunginya?
“Ya sudah, Bi. Sudah matang masakannya? Bikinin Julia minum, ya. Kita tunggu saja sampai dia keluar kamar.” Bi Ipah menganggukkan kepala dan segera permisi untuk kembali ke dapur lagi.
“Pa, bangun. Julia ada di sini.” Intan menggoyangkan perlahan bahu suaminya, tetapi Max masih asyik dengan dunia mimpinya, hingga tak mendengar panggilan Intan.
Setelah gagal membangunkan Max, Intan segera menelepon Zach untuk mengabarkan, jika Julia sedang berada di rumah mereka.
Flashback Off
“Julia tidak apa-apa 'kan, Ma?” Zach gugup bercampur senang menyadari Julia berada di tempat yang aman.
"Lebih baik di bandingkan saat dari apartemenmu," sarkas Intan.
Zack menjadi tidak enak hati. “Oke, Mama tahan Julia. Jangan sampau kemana-mana, Zach jemput dia sekarang juga!”
Intan sedikit memiringkan wajah, mendengar kecemasan di dalam suara Zach.
__ADS_1
“Dasar anak muda. Berantem sebentar, sudah baikan lagi. Nyesel ‘kan ditinggal Julia? Namanya juga pengantin baru, mana tahan?” batin Intan seraya tersenyum simpul. Kini hanya kelegaan yang nampak dari wajah cantiknya.