
Sementara Julia tertidur di meja makan, saking lelah menunggu suaminya pulang, Zach sedang asyik berkumpul bersama teman-temannya.
“Nah, gitu dong. Aku senang kamu sudah bisa kumpul lagi sama kita-kita, bro. Welcome to the jungle. Sudah lama kita tidak minum-minum. Malam ini harus dipuas-puasin!” teriak Herman kegirangan sambil mengikuti irama musik jedag-jedug yang memekakkan telinga.
“Yoi, dia sekarang sudah bukan perawan pingitan lagi. Ini memang harus dirayakan sih, momen kembalinya sang jagoan.” Satria menuangkan Billionaire Vodca ke dalam gelas. Setelah toost mereka segera meminum Vodca itu.
“Gimana Zach? Kamu yang sudah menikah, rekomemnded, tidak?” tanya Hendra kepo.
“Recommended apanya? Tidak enak sama sekali, cuma bisa mencicipi menu yang sama. Enakan kayak kita sekarang, mau yang model apa aja tinggal pilih.” Satria menimpali. Pria ini memang punya gaya hidup bebas, semaunya, asal suka pasti diembat, meskipun dia harus membayar wanita itu dalam jumlah besar.
“Kamu sudah tersesat dan tidak tahu arah jalan pulang itu namanya, sudah jangan banyak bicara. Aku mau dengar dari praktisinya langsung. Zach sudah praktek, kamu mah cuma omong kosong. Gonta-ganti perempuan melulu, tidak takut kena azab, kau?” Hendra yang mulai tipsing ngomel-ngomel.
“Halah, kayak kamu yang paling suci saja. Sama saja kali, kamu pindah-pindah apartemen, dikira aku tidak tahu, kamu maunya yang gratisan?” Satria mendorong bahu Hendra. Hendra hanya cengar-cengir saja mendengar tuduhan Satria.
Baginya saat ingin bersama cewek dan membawanya ke ranjang, harus berdasarkan hubungan suka sama suka, mau sama mau. Jadi tidak perlu membayar, yang penting dua-duanya sama-sama ikhlas. Bukan hanya pria yang butuh kepuasan, wanita juga, bukan? Maka tak jarang Hendra lebih memilih tante-tante, atau perempuan yang usianya lebih tua, yang memang menginginkan kepuasan darinya.
“Zach, kamu jangan diem saja, gimana? Ayam kampung pasti lebih lezat dari ayam kampus, dong. Ya 'kan?” Satria memainkan alisnya naik turun, membuat Zach memutar mata malas. Dari dulu Zach memang paling malas membahas urusan ranjang. Baginya itu urusan yang tidak perlu digembar-gemborkan.
“Apaan, sih, pada kepo. Norak kalian! Aku tidak mau bahas hal begituan. Itu privacy, Bro. Urusan ranjang bukan untuk diobral-obral, ngerti tidak sih? Kalian mana ngerti kalau belum menikah. Rasanya beda, yang ada justru kita jadi pengen melindungi, tau!” Zach kembali meraih gelasnya lalu meneguk minumannya hingga tetes terakhir.
Pelan-pelan alkohol mulai melakukan tugasnya. Membawa ketiga pria itu memasuki dunia tipu-tipu di mana beban hidup seolah lenyap sementara. Yang ada hanya canda dan tawa, tanpa harus memikirkan beban pekerjaan yang seharian telah mereka geluti di kantor masing-masing.
__ADS_1
Zach yang seolah lupa jika sudah mempunyai istri, menurut saja dengan permintaan kedua kawannya itu untuk bersenang-senang hingga dini hari. Mereka masih saja tertawa-tawa, sampai akhirnya dengan kesadaran yang mulai setipis tisu, Zach merasa sudah mengantuk dan ingin segera pulang.
“Aku cabut, Bro. Kalian juga buruan pulang, besok kerja, tau. Aduh, pusing banget aku, pintunya mana?” Zach sempoyongan mengamati cahaya lampu yang membentuk tulisan exit di sebelah kiri ruangan.
“Ciyeh yang udah ditungguin istri! Tidak asyik kau, Zach! Baru jam satu, sebentar lagi woy!” teriak Satria sambil menarik baju Zach.
“Sudah biarkan saja dia pulang. Kamu pikirin juga dia sekarang sudah bukan single lagi, Sat!” Meskipun udah mabuk, Hendra masih bisa berpikir sedikit waras.
Zach tak memedulikan ocehan kedua temannya itu. Kepalanya makin pusing, dan besok dia harus kerja, maka segera pulang ke apartemen adalah keputusan yang tak bisa ditawar lagi.
“Minggir, aku mau pulang!” teriak Zach kesal. Dia yang sudah mabuk berat merasa sudah melangkah dengan cepat tapi tak juga mencapai pintu.
“Sombongnya, biasanya juga kamu di sini sampe pagi! Ayolah bentar lagi,” bujuk wanita itu.
“Aku bilang minggir!” Dengan keras Zach menepis cewek yang tak dikenalnya itu.
“Sialan!” rutuk perempuan itu kesal.
Zach tak mengindahkannya. Pria muda itu tidak suka pada wanita yang menclok sana menclok sini. Kalau dia suka, pasti akan menjadikannya kekasih, seperti Tiffany. Zach bukan pria yang suka berbagi, apalagi berbagi kekasih. Big No.
__ADS_1
Zach pulang dalam keadaan sempoyongan. Saat memarkir mobilnya pun beberapa kali ia hampir salah posisi. Setelah menunggu beberapa saat di mobil, supaya rasa pusingnya berkurang, Zach kemudian membuka pintu mobil. Dia teringat Julia yang biasanya menunggunya, tak peduli jam berapa dia pulang.
Dengan wajah terkantuk-kantuk, akhirnya Zach tiba di lantai dua belas dan segera membuka pintu apartemen setelah memasukkan kodenya pada smart door. Ruangan tampak redup, setengah gelap. Pria itu tersungkur saat mau berjalan ke kamar. Tanpa dia sadari istrinya sedang tertidur karena kelelahan menunggunya di meja makan.
Brakkk!
Suara tubuh Zach menabrak pintu kamar membuat Yulia sontak terbangun dari tidurnya.
“Kak Zach, Kakak kenapa?” Julia segera berlari menghampiri Zach yang jatuh terduduk di depan pintu. Pria itu sudah tak bisa menahan rasa kantuk bercampur pusing yang membuat kesadarannya hilang.
Julia terkejut saat melihat Zach yang memejamkan mata sedang terkulai lemas di lantai.
“Ayo bangun! Ya Allah, Kakak sampai jatuh begini, semoga tidak kenapa-napa.” Julia pun membantu Zach untuk bangun. Tangan kiri Zach ia letakkan di bahu kanannya. Dengan bersusah payah, Julia menarik tubuh Zach yang masih terpejam.
“Bau apa ini? Sepertinya minuman beralkohol, Kak Zach mabuk, pantas aja jam segini baru pulang.” Julia memalingkan wajah saat mencium bau alkohol yang sangat menyengat hidungnya.
“Sini-sini, tidur di kasur, Kak,” perintah Julia yang tidak didengar oleh Zach karena dia telah tertidur. Julia segera membaringkan tubuh jangkung itu di atas kasur. Badan kecil Julia nyaris tak mampu menahan berat Zach yang hampir dua kali lipat dari berat badannya. Gadis itu akhirnya ikut jatuh tersungkur di kasur. Posisinya terjatuh di dada Zach. Sontak saja Julia kaget dibuatnya. Wajah tampan itu kini nyaris tanpa jarak dengan wajahnya.
Baru kali ini merasa jantungnya bertalu-talu dengan debaran yang sukar ia kendalikan. Melihat Zach dalam posisi tak berdaya, menatap kegantengan paripurna dari pria yang kini berstatus sebagai suaminya. Apalagi yang ia takutkan sekarang?
Tanpa Julia duga, Zach menggumam tak jelas. Julia berhati-hati ingin melepaskan diri dari atas dada Zach. Namun tanpa ia duga, Zach justru segera memeluknya dengan erat, hingga Julia tak bisa bernapas. Jantung Julia seakan berhenti berdetak saking kagetnya. Mata gadis itu membulat sempurna.
__ADS_1