Suamiku Penjahat Wanita (Part 2)

Suamiku Penjahat Wanita (Part 2)
Kehamilan Ambika


__ADS_3

"Bagaimana kondisinya, Dok?" Tanya Andra pada salah seorang bidan puskesmas. Ia hanya bisa membawa Ambika ke puskesmas terdekat. Selain mudah terjangkau juga tidak begitu banyak duit yang harus keluar.


Bidan setempat nampak menghela nafas sambil menatap kedua mata Andra. Sesekali pandangan beralih pada Ambika "Apakah kalian suami istri?" Pertanyaan Bu Bidan membuat Andra bertanya tanya. Kenapa seorang bidan bertanya pasal seperti itu, seharusnya dia bicara tentang kondisi pasien. Dari situ Andra mulai curiga, jangan jangan Ambika hamil.


"Dia hamil"


"Apa? hamil?" Betapa terkejutnya Andra saat tau Ambika mengandung. Selama ini tidak sekali pun ia memikirkan hal semacam itu. Menjadi seorang ayah tidak mudah. Dia harus sanggup membiayai, memenuhi, dan membahagiakan. Ketiga hal itu sangatlah sulit di lakukan. Belum apa apa saja terasa berat, apa lagi kalau harus mengemban beben seberat itu.


"Iya, dia hamil. Kalau boleh tau apakah kalian sudah menikah?" Bidan merasa curiga melihat anak seusia Ambika telah berbadan dua. Sedangkan tidak mungkin seorang gadis muda hamil tanpa seorang suami. Yang paling membuat geleng kepala adalah Ambika masih memakai baju seragam sekolah. Sontak saja kajadin itu membuat miris semua orang yang melihat. Anak jaman sekarang sedikit saja salah pergaulan, maka mereka akan masuk dalam lembah dosa.


"Suami? em.....iya dia istri saya" Ucap Andra gugup. Sambil gemetaran ia menatap bu Bidan.


"Kalau benar kalian sudah menikah, lalu kenapa dia(beralih pandang kearah Ambika)masih memakai seragam pitih abu abu? jangan bilang kalian...."


"Anda tidak ada hak bertanya sedetail itu. Mau kami sudah menikah atau belum, itu bukan urusan anda" pungkas Ambika. Sesegera mungkin Ambika turun dari ranjang pemeriksaan lalu menghampiri Andra "Ayo kita pulang. Aku sidah baik baik saja" Meraih tangan Andra sembari melempar tatapan kurang suka pada bu Bidan.


"Oh, silahkan. Kalau begitu biar saya resepkan dulu obatnya "Setelah memberi beberapa obat dan vitamin. Andra di sugihi total biaya. Berkisar seratus lima puluh ribu rupiah. Dengan terpaksa ia mengeluarkan dompet. Terluaht tipis sekali. Hanya beberapa lembar uang saja.


"Terima kasih banyak, bu. Kami pamit ya" Andra beserta Ambika langsung meninggalakn puskesmas.


"Anak jaman sekarang masih bau kencur sudah mau punya anak. Mau jadi apa masa depan mereka nanti?" Bu Bidan berdecak heran melihat anak seusia mereka salah dalam mengambil langkah.


Andra lalu mencari taksi online "Sebelah puskesmas hasanah ya, pak" Tak berapa lama sebuah mini bus mengahampiri mereka. Andra membukakan pintu untuk Ambika.

__ADS_1


"Alamat sudah sesuai aplikasi ya mas?" Tanya pak Driver.


"Iya, pak" Jawab Andra. Setelah itu mereka langsung menuju kosan Ambika. Di sepanjang jalan mereka saling terdiam. Sesekali Andra melirik perut Ambika (Astaga, mampukah aku menjdi ayah secapat ini? kenapa dia bisa sampai hamil) Gerutu Andra.


Ambika membuang pandang sambil melilat kedua tangan (Bagaimana kalau papa sama mama tau kalau aku hamil? pasti mereka akan marah padaku. Bagaimana ini?) situasi sekarang membuat mereka bimbang.


Beberapa menit kemudian. Sampailah mereka di kmtempat tujuan. Ambika langsung turun dan masuk ke dalam. Sedangkan Andra masih membayar ongkis taksi online "Terima kasih ya, pak"


"Sama sama, mas." Pak Driver kemudian pergi.


Sebelum kembali masuk, sempat terpikir olehnya untuk menggugurkan bayi dalam rahim Ambika "Aku belum siap jadi bapak..." Akhirnya Andra menghubungi salah satu teman.


"Kita ketemuan di tempat biasa" Ujar seseorang dari sebrang sana. Teman Andra kali ini bukan orang sembarangan. Dia adalah seorang ahli dalam obat obatan. Dulu dia bekerja pada sebuah apotek, namun karena di PHK akhirnya dia jadi pengangguran. Meski begitu dia tidak bingung cari duit. Dengan bermodalkan obat obatan yang dia tau, banyak muda mudi minta bantuan darinya.


Ambika masih diam seribu bahasa. Mungkin dia masih belum percaya atas apa yang terjadi. Setelah Andra pergi, di lihatnya tas Andra masih ada di dekat lemari. Artinya Andra tidak jadi pergi.


"Sekarang aku harus bagaimana?" Air mata Ambika luruh begitu saja. Ketakutan terlihat jelas dari sudut matanya. Semua terjadi bukan atas kehendak mereka.


"Aku benci, benci, benci" Memukul perut benerapa kali saking tidak mau menerima kenyataan. Percuma saja menangis, karena itu tidak merubah segalanya. Semua tidak akan terjadi kalau dia bisa menjaga diri. Semua berawal dari cinta yang berujung dosa.


"Ada masalah apa? tumben banger lo cati gue? udah lama juga sih kita nggak ngumpuk kaya gini" Tanya Roy.


Tanpa sepatah kata Andra tertunduk lesu "Gue lagi butuh bantuan lo, bro" Ujar Andra. Tatapan kosong berubah menjadi serius.

__ADS_1


Roy memicingkan mata "Bantuan apa? kalau lo mau pinjem duit, sorry gue nggak ada. Lo tau sendiri lah hiduo gue aja cuma numpang di tempat teman"


"Bukan masalah duit. Tapi, gue mau minta saran bentar boleh?"


Suasana menjadi sedikit tegang. Roy tidak bisa menebak ke mana arah membicaraan mereka. Tidak biasanya Andra minta pendapat darinya "Udah lo ngomong aja, jangan buat gue penasaran"


"Pacar gue hamil"


Seketika Roy terperanjat "What? gila lo bro, masih muda udah berani hamilin anak orang. Wah, ini bisa berabe"


"Maka dari itu gue mau minta saran dari lo, gimana kalau lo bantu gue cari obat buat gugurin kandungan" Andra bangkit lalu berjalan benerapa langkah. Kedua tangan masuk dalam saku celana "Gue belum siap jadi bapak. Buat makan sehari hari saja gue susah, apa lagi nanti kalau gue punya anak. Mau di kasih makan apa coba?" Belum apa apa Andra sudah bingung memikirkan bagaimana jalan kedepannya.


Perlahan Roy menghampiri Andra "Saran gue pertahanin dulu aja, bro. Kasihan janin tidak bersalah jadi korban kekejaman orang tua. Bukannya gue sok pinter atau gimana nih ya, kalau lo sampai bunuh darah daging lo sendiri, besar kemungkinan di masa depan lo susah dapet anak. Contohnya, teman gue yang dulu gugurin kanduangan akhirnya menyesal sumur hidup. Setelah menikah dia tidak bisa mengandung lagi. Mending lo jangan nekat. Kalau kalian berani berbuat harus berani sama konsekuensinya dong."


Sembari mencerna semua ucapan Roy "Otak gue buntu, bro. Nggak tau harus gimana"


"Gue tau posisi lo saat inj memang serba salah. Ya, semua sih terserah lo mau gimana. Kalau emang keputusan lo mau gugurin tuh janin, oke gue siap bantu. Tapi dosa tanggung sendiri. Gua nggak mau di kemudian hari lo nyesel karena pernah gugurin darah daging lo sendiri. Sekarang gimana nih, mau langsung gue ambilin obatnya atau gimana?" Roy tidak visa berbuat banyak kalau si ayah dari janin tidak mau memepertahankan. Lagi pula tidak ada seorang pedagang merugi dengan barang dagangannya sendiri.


Sekarang Andra dalam dilema. Entah jalan mana yang harus di tempuh. Semua jalan seolah buntu. "Argggghhhhh....." Kesal Andra. Sebuah botol kosong di depan matanya menjadi sasaran dari kemaran Andra. Botol minuman langsung ia pijak sampai tak berbentuk. "Kenapa jadi runyam gini...." Teriak Andra.


Sontak sikap Andra menjadi pusat perhatian banyak orang. Hampir semua orang berkasak kusuk tentang asumsi mereka masing masing.


Roy menepuk pundak Andra "Pikirkan dulu matang matang. Kalau lo sudah ambil keputusan baru lo kabarin gua lagi, oke?"

__ADS_1


__ADS_2