Suamiku Penjahat Wanita (Part 2)

Suamiku Penjahat Wanita (Part 2)
Hampir Saja


__ADS_3

Malam hari Andra pulang dengan perasaan berkecamuk. Sulit baginya untuk memilih antara bertahan atau melepaskan. Kata kata Roy selalu membebani pikirannya. Dia sisi lain ia belum siap menjadi seorang ayah, di lain sisi ia tidak tega melenyapkan darah dagingnya sendiri.


Sulit memang ketika di hadapkan oleh dua pilihan. Ibarat berada dalam situasi genting, maju jatuh mundur tertimpa. Sama sama pilihan yang memberatkan. Namun, di usia Andra saat ini mampukah dia mengambil pilihan terbaik? entahlah. Biar Tuhan mengatur jalan ceritanya.


"Kenapa sampai jam segini dia belum pulang juga? apa mungkin dia benar benar ninggalin aku" Ambika terlihat gelisah melihat jam menunjukkan pukul sebelas malam, tapi Andra masih belum pulang. Ambika takut jika harus menghadapi semua sendiri. Bagaimana cara menjelaskan kepada semua orang, terutama kepada kedua orang tuanya. Setelah semua yang terjadi seseorang akan menyadari tutik kesalahan tersesarnya. Kesalahan itu akan mengubah jalan kehidupan sampai Tuhan tunjukkan betapa sadis dan kejam arti sebuah dosa.


Tak berapa lama terdengar suara motor berhenti depan kosan "Itu pasti dia. Lebih baik aku pura pura tidur saja" Ia segera menarik selimut kemudian memejamkan mata.


Click....


Suara pintu terbuka "Ternyata dia sudah tidur" Melihat sang kekasih tertidur membuat hati semakin bimbang. Ia mendekati Ambika sambil menatap wajah ayunya "Maaf, aku sudah banyak menyakiti kamu" Tangan Andra sempat hendak menyentuh perut Ambika, tapi terhenti saat perasaan takut menghantui.


"Hey....bangun, aku bawakan makanan" Membangunkan Ambika perlahan.


"Nggak mau, aku usah kenyang" Bukannya bangun Ambika malah menutupi badan dengan selimut.

__ADS_1


(Astaga, harus sabar gue ngadepin dia. Mulai sekarang gue harus banyak mengalah demi anak dalam kandungannya) Tak ingin berdebat akhirnya Andra tidur di samping sang kekasih. Andra tidur menghadap Ambika, tapi segera Ambika membelakanginya.


"Kamu marah?" Menyentuh lengan sans kekasih "Maaf kalau aku banyak nyakitin kamu. Tapi mulai saat ini aku janji nggak akan lagi buat kamu marah" Berusaha menjadi lelaki terbaik dalam kehidupan wanitanya.


"Terserah...." Ketus Ambika sembari menepis tangan Andra.


"Ambika....bagaimana menurut kamu tentang dia?"


Seketika Ambika menoleh "Maksud kamu? dia siapa?"


Tarapan Andra mengarah pada perut Ambika "Dia yang ada dalam rahim kamu" Nada suara Andra terdengar gemetar saat menyebut janin dalam kandungan Ambika.


"Kamu siap menjadi ibu?" Tanya Andra.


Ambika terdiam sejanak sembari menguspa perut "Kalau begitu kita gugurkan saja. Jujur aku belum siap"

__ADS_1


Entah kenapa jawaban Ambika membuat hati Andra tersakiti. Seper seorang ayah yang anaknya akan di hukum mati. Hukuman atas kesalahan orang tuanya.


"Kalau kita gugurkan dia, artinya sama juga kita membunuh anak kita sendiri"


"Lalu? kita harus bagaimana? kalau memang begitu keputusan kamu maka cepat cari jalan keluar dari masalah kita. Aku tidak mau hamil tanpa suami, dan anak lahir tanpa ayah"


Andra terdiam sejenak "Baiklah, kalau begitu kita gugurkan saja"


Segera Andra memgeluarkan sebuah pil kecil dari saku celananya. Obat yang ia dapat dari Roy beberapa saat lalu. Dia sudah menyiapkan semuanya "Ini, kamu minum saja"


Dengan gemetar Ambika meraih sebutir pil dari tangan Andra. Tanpa sadar air mata luruh. Perlahan ia mendekatkan pil ke mulut, dan tiba tiba saja Andra meraih pil tersebut lalu melemparnya keluar "Tidak, aku tidak tega membunuhnya. Mari kira rawat dia bersama sama. Kita lalui susah senang bersama. Aku tidak mau kehilangan kalian" Andra pun langsung memeluk Ambika. Mereka menangis berdua.


Setelah beberapa saat kemudian mereka telah berunding. Akhirnya keputusan jatuh pada sebuah keputusan besar. Andra mau menikahi Ambika secepatnya. Tapi, Ambika masih ragu. Dia takut kalau kedua orang tuanya kecewa. Harapan terbesar orang tua ada pada anak. Jika harapan itu di hancurkan tentu mereka akan marasa kecewa, bahkan bisa jadi mereka marah besar.


"Lalu aku harus bagaimana? tidak mungkin kita menikah tanpa restu dari mereka"

__ADS_1


Ambika yang masih menangis lalu menatap mata Andra "Bawa aku pergi jauh dari sini supaya kita bisa hidup bahagia berdua dengan anak kita"


"Kalau begitu kita harus persiapkan dengan matang. Ya sudah, kita pikirkan besok. Sekarang kita istirahat dulu" Mereka pun langsung tidur saling berpelukan.


__ADS_2