
Sesampainya di rumah, Bagus langsung meminta penjelasan dari Andra. Sebagai orang tua tentu ia sangat marah. Wajah mereka di lumpuri oleh anak kandung mereka sendiri. Malu, marah, bercampur jadi satu. Baru berhadapan dengan Andra saja, ia sudah panas dingin menahan amarah."Sekarang kamu jawab bapak dengan jujur, apakah benar kamu menghamili gadis itu?" Tanya Bagus penuh tekanan.
Andra tak menjawab hanya mengangguk.
"Ya Allah, Ndra. Sejak kapan kamu menjadi liar seperti ini? kami menyekolahkan kami supaya menjadi anak yang berprestasi tinggi. Bisa menggapai cita citamu, membanggakan orang tua, kenapa malah kamu menghancurkan masa depan kamu sendiri seperti ini, kenapa?" Nada bicara Bagus mulai meninggi. Tatapan tajam pun tak luput mengarah pada sang putra.
Andra sendiri tidak mampu membela diri, sebab dia memang bersalah. Kalau semua bisa di putar ulang pasti dia meminta kembali ke masa itu. Namun, semua tinggal penyesalan belaka.
"Ibu tidak menyangka kamu berbuat seperti ini, Ndra. Kamu benar benar membuat ibu kecewa. Dengan menodai seorang gadis berarti pula kamu menodai hati ibumu ini" Nara berbalik badan membelakangi Andra. Air matanya jatuh tak beraturan. Begitu menyakitkan saat melihat kehancuran anak di depan mata. Ironis sekali, berulang kali kehidupan mempermainkan hati Nara. Tidak hanya satu dua kali saja dia sakit hati, tapi sudah berulang ulang kali. Menghadapi semua ujian bagai laut tak berujung.
(Rasa sakit yang dulu aku rasakan tidak seberapa dari sakitku saat ini. Oh Tuhan, sampai kapan Engkau bebankan semua cobaan ini padaku?rasanya sudah habis keabaranku) Pukulan paling berat bagi seorang ibu terletak pada anaknya. Sedikit saja anak berbuat masalah pasti orang tua terluka pertama kali.
Andra segera bersimpuh di hadapan Nara sambil memegang kaki sang ibu. Derai air mata membasahi pipi "Andra minta ampun, bu. Andra menyesal telah menyakiti hati ibu. Tolong maafkan Andra. Ampuni kesalahan Andra" Menangis pun tak lagi berguna untuk saat ini. Penyesalan hanya tinggal sebuah nama. Sampai senja menyingsing berulang ulang, tetap saja kenyataan tak bisa di ubah.
Saking kecewa Nara tak menghirauan raungan Andra, ia pun langsung menepis tangan Andra "Percuma kamu menngis darah sekali pun ibu tidak akan memaafkan kamu" Beranjak masuk kamar.
__ADS_1
"Ibu, ibu, tunggu. Tolong ampuni Andra" mengejar sang ibu sampai depan pintu kamar. Namun Nara lebih dulu menutup pintu.
"Maafkan Andra, bu...." Sambil bersandar depan pintu kamar. Perlahan kaki melemah membuatnya terduduk sambil terus mengetuk pintu kamar. Andra berharap sang ibu mau membuka pintu maafnya "Tolong bu maafkan Andra" berulang kali mengetuk pintu tapi tidak di respon sedikit pun oleh sang ibu.
Bagus geleng kepala "Kamu harus bejalar dari kesalahan kamu itu" Tak berapa lama Nagus langsung keluar dan pergi.
Beberapa hari kemudian, keluarga besar Ambika datang meminta pertanggung jawaban Andra. Usia kandungan Ambika sudah memasuki usia enam bulan. Tentu pihak keluarga Ambika tidak tinggal diam. Anak mereka harus mendapat pertanggung jawaban, kalau tidak apa kata orang nanti. Seorang gadis hamil di luar nikah tanpa tau siapa ayah dari janin yang ada dalam kandunganya. Hal tersebut pasti membuat seluruh anggota keluarga malu. Pepatah Jawa pernah mengatakan ANAK POLAH BOPO KEPRADAH. Begitulah nasib orang tua ketika anak berbuat masalah orang tua ikut terkena imbasnya.
"Sekarang kita tinggal menentukan hari pernihakan mereka berdua. Lebih cepat lebih baik" Tutur ayah Ambika.
Sontak Ramli langsung bangkit "Maksud sampean bagaimana, pak? harusnya kalian mikir di sini pihak kamilah yang banyak di rugikan. (Menunjuk perut Ambika) Adik saya hamil sebesar ini dan anda masih bisa mengatakan pasal kesiapan dan usia? kalau anda memikirkan hal semacam itu, lalu bagaimana dengan keluarga kami? setiap hari keluarga kami mendapat cemooh dari warga sekitar, akibat ulah anak anda itu" Dengan mata melotot ia menekan keluarga Andra. Memang benar ucapan Ramli. Jika seperti ini yang paling merugi adalah pihak perempuan. Laki laki tidak menanggung malu karena perbuatan tidak terlihat mata, sedangkan pihak perempuan manangung malu, dengan berjalannya waktu perut semakin membesar.
"Maksud saya tidak seperti itu. Kita cari hari baik untuk pernikahan mereka. Kita terlahir di tanah jawa. Orang jawa punya tradisi, maka dadi itu tolong beri kami waktu sebentar lagi. Kalau bicara pasal siapa yang di rugikan atau yang di untungkan, di sini kita sama sama merugi. Tidak hanya pihak anda yang merugi, tapi kami pun juga begitu"
Perlahan Nara mendekati Bagus "Mas, tolong jangan manambah masalah lagi, aku udah cukup capek sama semua ini. Kalau aku di posisi mereka, tentu aku juga akan menekan pihak laki laki. Karena biar bagaimana pun wajib hukumnya pihak perempuan meminta haknya. Lebih baik kita segera percepat pernikahan mereka, sebelum anak dalam ka dungan itu terlahir" Sambil melihat perut Ambika. Entah karena malu atau bagaimana tiba tiba saja Ambika melingkar kedua tangan ke atas perut buncitnya.
__ADS_1
"Kalau boleh saya tau berapa buln usia kandungan kamu?" Tanya Nara.
"Enam bulan lelih dua minggu tante"
"Berarti sudah hampir tujuh bulan, ya? di sini saya mau tanya dengan kondisi dia seperti ini apakah penghulu bisa menikahkan mereka?"
Pertanyaan Nara membungkam keluarga Ambika. Mereka belum tau apakah bisa menikahkan wanita hamil "Kalau pak penghulu menolak berati dia berdosa, telah membiarkan anak lahir tanpa ikatan pernikahan. Apa kata orang nanti?" Sambung Ayah Ambika.
"Begini saja, pak. Benar kata beliau, pstu akan susah prosesnya kalau langsung nikah melawati KUA. Tidak mungkin kita membawa ananda( Ambika) ke kantor capil dengan perut besarnya seperti sekarang. Kesediaan pak penghulu pun pasti hanya beberapa persen saja. Kalau boleh saya usul sedikit, bagaimana kalau kita nikahkan mereka secara agama terlebih dahulu, baru setelah anak dalam kandungan itu lahir kita nikahkan mereka secara agama dan negara" Ucap ketua Rt. Sadari awal pekara sampai sekarang beliau selalu mendampingi keluarga Ambika. Sebagai perangkat desa tentu beliau mempunyai hak dalam membantu warganya. Meski beliau berdiri di keluarga Ambika, tapi beliau juga ingin menjadi penengah untuk masalah mereka.
"Nikah agama? maksud bapak nikah siri?" Tanya Bagus menegaskan.
"Benar, pak. Saya pikir itu satu satunya jalan agar mereka bisa segera menikah"
Setelah berunding cukup lama, akhirnya keluarga Andra setuju dengan usulan Pak Rt. Setelah mendapat kesepakatan cukup baik dari pihak laki laki, keluarga pihak perempuan bisa bernafas laga.
__ADS_1
"Kalau begitu kami pamit pulang" Keluarga besar Ambika berpamitan lalu mereka pergi dengan membawa bahagia.