Suamiku Penjahat Wanita (Part 2)

Suamiku Penjahat Wanita (Part 2)
Hidup Keras


__ADS_3

Siang begitu terik. Terlihat Andra tengah berjalan menuju sebrang jalan. Ia dan salah satu rekan kerja hendak ke warung membeli makan siang "Hari ini panas banget ya. Kayanya neraka bocor deh" celetuk Bimo, rekan kerja Andra.


"Emang lo udah ngicip api neraka?" Jawab Andra sepele. Tak berapa lama setelah jalanan sepi, mereka menyebrang jalan.


"Ogah gue masuk neraka. Tempat gue itu di surga" Sambil tertawa mereka mengarah ke warung.


"Dah sono lo pesen duluan aja" Andra langsung duduk dengan melihat etalase warung. Banyak lauk pauk tersaji di depan mata. Perut keroncongan tapi dana tipis. Dia tidak punya uang untuk beli makan siang. Ia meraba saku celana "Lah duit gue mana?" Andra panik ketika uang jatah rokok dari Bang Ali lenyap dari saku celananya. Seingatnya uang ia taruh di saku celana belakang, tapi sekarang sudah tidak ada. Kalau uang itu hilang artinya hari ini dia tidak bisa makan siang. Menunggu gajian juga masih sekitar empat harian. Sekarang Andra sudah benar benar tidak punya sepeser pun.


"Mbak....satu nasi rames sama es teh satu" Bimo langsung memesan makan siang.


"Oke, siap. Masnya mau sekalian pesan? mau samaan atau kaya biasa" Tanya penjaga warung. Biasanya Andra malan dengan lauk telor balado sama semur kentang. Kalau di rumah dua makanan itu menjadi makanan favoritnya. Meski dia anak dari pemilik warung makan, tapi dia tidak begitu suka dengan lauk ayam, daging, atau ikan. Sejak kecil makanan kesukaan Andra hanyalah telor.


Andra masih mencari cari di mana Uang yang ia selipkan tadi "Sebentar mbak" Ujarnya sambil terus merogoh satu persatu saku celananya.


"Kenapa, mas?" Tanya mbak penjaga warung.

__ADS_1


Andra menatap Bimo.


Bimo menatap heran "Kenapa lo, bro? cari apaan?"


"Duit gue nggak ada, Bim" Jelasnya panik.


"Ha? duit lo ilang? kali aja lo lupa naruh coba deh cari lagi"


Andra mengangguk sembari terus mencari "Tadi gue inget banget kok pas Bang Ali kasih duit langsung gue masukin saku celana, tapi kok nggak ada ya" Andra mulai bingung uang satu satunya hangus begitu saja, padahal dia sangat butuh uang itu. Bagaimana dia bisa makan kalau tidak ada uang. Sungguh keras memang hiduo di luar sana.


"Nggak ada, bro. Apa mungkin jatuh di kamar mandi..."


"Coba lo lihat dulu siapa tau aja ada di sana"


Andra langsung kembali ke bengkel. Tak berapa lama ia kembali dengan wajah lesu.

__ADS_1


Bimo tengah duduk sambil melihat ke arah Andra "Gimana ketemu nggak?"


Andra menggeleng "Nggak ada, bro." Tatapan Andra mengarah pada sepiring nasi rames yang Bimo pesan sebelumnya. Perut Andra semakin mengguncang minta makan. Sedari pagi dia tidak makan karena Ambika tidak masak untuknya. Terpaksa hari ini Andra harus menahan lapar "Kalau gitu gue balik dulu, Bim"


Bimo menggapai tangan Andra "Kita makan bareng" Sambil mengulas senyum. Sebagai teman Bimo bisa merasakan bagaimana ketika berada di posisi Andra.


"Nggak enak gue ama lo, Bro. Nanti lo nggak kenyang. Udah gue mau istirahat saja. Lagian gue juga nggak laper kok" Dusta Andra menutupi.


Bimo bangkit lalu menepuk pundak Andra "Kita teman. Sudah sepantasnya kita saling berbagi. Udah yuk kita makan bareng"


"Tapi...."


"Nggak usah tapi tapian. Sini lioduduk dulu biar gue minta sendok sama mbaknya" Setelah beberapa saat Bimo meminta satu sendok lagi. "Nih..." Memberi Andra sendok lalu mereka makan bareng. Air mata Andra tertahan ketika garus hidup seperti ini.


(Di rumah gue nggak kekurangan makan. Mau makan apa aja ada, tapi sekarang makan aja gue nebeng sama Bimo) air mata hampir jatuh. Ternyata benar hidup di luar itu keras.

__ADS_1


__ADS_2