
"Ini ada apa ya? kalian ini siapa? ada maksud apa malam begini datang rame rame? kalau mau bertamu itu yang sopan, jangan marah marah kaya gini dong" Tanpa permisi Bagus langsung masuk. Untung dia cepat datang kalau tidak Nara pasti sangat ketakutan.
"Kami tidak ada urusan dengan anda, kami ingin ibu ini kasih tau di mana anaknya berada. Kalau tidak, jangan salahkan kami mengambil jalur hukum" Ancam kakak kandung Ambika. Dari banyaknya pemuda dia paling dominan. Sifat tempramental Ramli (Kakak Ambika) yang di kenal sebagai pemuda paling di takuti di lingkungan. Ramli adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Meski dia punya sifat keras kepala, pemarah, dan berhati batu, kalau menyangkut keluarga dialah garda terdepan sebagai pelingdung keluarga. Awalnya Ramli tidak mengijinkan Ambika tinggal sendiri di kota besar itu, apa lagi seorang anak sekolah sepertinya. Tapi, dengan alasan jarak sekolah terlalu jauh dan melihat beberapa kali saat sang adik pulang kehujanan, akhirnya dia mengijinkan sang adik tinggal ngekos jauh darinya. Awalnya semua nampak berjalan lancar, sampai semua di rusak oleh seorang lelaki yang mengaku sepupu. Jelas Ramli marah bukan main. Adik kesayangannya di bawa pergi orang tak di kenal. Bukan hanya Ramli saja tapi kita semua juga pasti akan marah kalau mengalami hal seperti Ramli.
"Jelas saya berhak, karena Andra adalah anak saya" timpal Bagus.
"Oh, kebetulan kalau begitu. Kami mau anak anda kembalikan Ambika sekarang juga, atau kita bawa kasus ini ke ranah hukum. Kami sebagai pemuda bersatu tidak terima jika salah satu warga kami di bawa lari anak anda. Mana tanggung jawab kalian sebagai orang tua? anak di biarkan kabur membawa anak orang lain. Di mana peran kalian selama ini?" Salah seorang pemuda mulai terbakar api. Dia tidak terima ada seorang pemuda membawa lari seorang gadis. Jika di posisi itu siapa pun pasti naik darah. Di tambah lagi kepergian Ambika tanpa meninggalkan jejak. Komunikasi pun sudah terputus sejak lama.
Ucapan pemuda tersebut seolah menampar keras kedua orang tua Andra. Baru kali pertama ada orang menanyakan pasal pola asuh anak mereka. Dari pertanyaan itu Bagus banyak terluka. Luka parah tak berdarah. Orang lain menanyakan pasal cara mendidik anak. Tentu saja Bagus marah. Menurut Bagus, dia sudah mendidik Andra secara baik dan benar. Namun, tanpa di sadari perilaku Bagus justru membuat Andra salah mengambil langkah.
"Berani sekali kamu bicara seperti itu...." Kedua tangan mengepal erat bersiap melayangkan bogem ke wajah pemuda tersebut.
"Mas...." Nara meraih tangan Bagus dembari menggeleng kepala. Ia berusa menghentikan Bagus ketika kemarahan hampir lepas kendali. Nara tidak mau terjadi baku hantam. Sejatinya kalau di pikir memang mereka yang salah. Mungkin kalau mereka bisamendidik Andra dengan baik, maka kejadiannya tidak akan seperti ini.
Tatapan Bagus mengisyaratkan kemarahan besar. "Kalau kamu marah justru akan menambah masalah. Kita selesaikan secara kepala dingin" Lirih Nara.
"Sudah, sudah. Kita datang kemari bukan untuk cari masalah, tapi kita meminta putra anda untuk mengembalikan ananda Ambika selalu anak, adik, dan warga kami, kembali pulang selamat seperti sedia kala" Salah seorang lelaki paruh baya yang tidak lain adalah pak RT. Ayah Ambika sengaja mengajak beliau untuk meluruskan semua pokok perkara. Dengan adanya pak RT, beliau berharap semua akan berjalan tanpa perkelahian.
__ADS_1
"Saya tidak terima dia (Menunjuk pemuda tadi) menyinggung soal cara kami mendidik anak. Kenapa hanya kami yang di sudutkan? jelas saya tidak terima" Tegas Bagus.
Ramli langsung berdiri, tapi langsung di suruh tenang oleh pak RT "Kalau kamu lepas kendali seperti ini, semua tidak akan cepat selesai. Bapak mohon nak Ramli tenang dulu" Mwncoba menjadi penengah antara kedua keluarga tengah bersitegang.
Setelah Ramli sedikit tenang, barulah beliau membuka suara "Sebelumnya kami mohon maaf kalau ada tingkah laku kami yang kurang berkenan di hati bapak dan ibu. Mohon maklum, seorang kakak marah menlihat adiknya kabur dengan putra bapak. Mohon di maklum, pak. Dan dengan ini saya selaku ketua RT memohon kepada bapak dan ibu sekalian, untuk berkenan memberitahu kami keberadaan ananda Andra" Ujar pak RT santun.
Nara langsung menundukkan kepala. Dengan hati tersayat ia menangis sesenggukan "Sudah lama saya mencarinya, tapi tidak ada satu petunjuk keberadaan anak saya itu, pak"
Sigap Bagus merangkul Nara. Pada situasi seperti ini Amarah serta kebencian di kesampingkan "Kita bawa dia pulang" Ujar Bagus.
Bagus mengangguk "Kamu siap siap. Kita berangkat sekarang juga"
Mungkin bagi Nara sahabat terdekatnya saat ini adalah air mata. Entah sudah sebera banyak jutaan air mata yang keluar sejak awal petaka bermula. Kalau pun air mata bisa bicara, mungkin dia lelah mendampingi kesedihan Nara untuk waktu yang panjang.
"Bagaimana ini mau kasih tau kami atau hukum pertindak?" Ramli kembali mengulir titik masalah. Guratan pada dahinya memperlihatkan amarah terbesar "Kami datang dengan baik baik lho, pak, buk. Kami hanya minta kembalikan Ambika sekarang juga" Ramli sudah tidak bisa menahan emosi lebih lama lagi. Ibarat bom dia sudah meledak.
Menarik nafas panjang lalu bersiap memberihatu kepada semua "Saya tidak menjamin anak saya masih di tempat itu atau tidak, karena saya juga baru tau tadi dari salah satu teman saya yang melihat Andra tinggal di sebuah indekos tak jauh dari tempatnya. Kalau kalian berkenan mari kita sama sama ke sana" Ajak Bagus.
__ADS_1
Beberapa jam lalu, tepatnya saat Bagus pulang kerja salah satu teman lamanya mengirim sebuah pesan yang mana dia bertanya apakah benar seorang pemudi di foto adalah anak kansung Bagus. Banar saja foto itu adalah foto Andra. Hanya saja sekarag ini badan Andra terlihat kurus, penanpilan seadanya, rambut gondrong, dan seperti tidak terurus. Tapi Bagus masih bis menilai kalau dia adalah benar Andra.
"Bagaiaman pak apa kita ikut atau bagaimana?" tanya pk RT kepada ayah kandung Ambika.
"Jelas saya mau ikut, pak. Sudah lama saya merindukan Ambika. Saya takut terjadi apa apa padanya" jawab ayah Ambika.
Pak RT berbisik sesuati pada Ramli "Oke, kita berangkat sekarang" Ramli dengan watak kerasnya langsung keluar tanpa menyapa tuan rumah.
"Kalau begitu ayo kita berangkat sekarang" Mereka semua telah bersiap menuju tempat yang di sebut Bagus.
"Eca, saya titip rumah sebentar ya. Nanti kamu tidur sini saja tunggu sampai saya pulang" Titah Nara seraya mengambil jaket.
"Kamu ikut denganku saja" Pinta Bagus.
"Iya" Biar bagaimana pun saat ini Nara butuh bantuan Bagus.
Tak berapa lama mereka pun menuju ke tenpT tersebut. Total ada delapan orang mengendarai motor saling beriringan.
__ADS_1