Suamiku Penjahat Wanita (Part 2)

Suamiku Penjahat Wanita (Part 2)
Kepergian Andra


__ADS_3

Malam semakin larut tapi Andra tak kunjung pulang. Berulang kali Nara mencoba menghubunginya tetap saja tidak ada jawaban. Justru sekarang malah tidak bisa terhubung.


"Kemana sebenarnya anak itu?" Sambil mondar mandir depan kamar, berharap sang putra menjawab telepon.


"Kamu milikku malam ini" Ucap Ambika sembari melingkarkan tangan pada pinggang Andra. Saat ini mereka sudah sampai kosan Ambika. Sesekali Andra menyibakkan rambut sang kekasih "Miliki dan kuasai aku sepenuhnya" Senyum manis melebar sempurna di bibir Andra.


"Sudah aku dapatkan. Sekarang, nanti, besok, dan selamanya, kamu hanya milik Ambika seorang" Perlahan mereka mulai kebeblasan. Hingga perbincangan mereka berakhir di atas ranjang.


Sebelum terjerat mahligai cinta, kenali dulu cinta macam apa yang di tawarkan pasangan. Apakah cinta karena cinta, atau cinta karena nafsu. Sejatinya Cinta tulus tidak akan pernah keluar dari batas kewajaran pada umumnya. Seorang pasangan akan senantiasa menjaga diri pasangan. Sedikit pun tidak ada niatan merusak harga diri seorang gadis. Namun, kalau cinta sampai mengorbankan segalanya itu sudah bukan cinta lagi tapi dosa.


"Awas saja ya kalau Andra berani macam macam. Lihat saja besok...." Saking kesal Nara langsung memgunci pintu lalu masuk kamar.


Meski begitu Nara masih merasa tidak tenang. Badan lelah lesu tapi mata masih terjaga "Kenapa perasaanku tidak tenang seperti ini. Coba telepon lagi...."


Drtttttt....


"Siapa, sayang?"


Andra mengacungkan jari telunjuk meminta Ambika diam sejenak "Oke" Sembari memeluk Andra. Gadis cantik berkulit putih itu tengah bermanja setelah adegan panas yang baru saja terjalin.


"Ada apa, buk" ucap Andra.


"Di mana kamu? jam berapa ini? sudah larut malam masih belum pulang juga kamu. Awas ya kalau sampai macam macam, ibu hukum kamu. Pulang sekarang!" Kemarahan Nara mulai meluap. Sebagai seorang ibu pasti dia resah ketika anak tak kunjung pulang. Apa lagi di jaman sekarang banyak kejahatan mengintai.


"Sejak kapan ibuk perduli sama aku? ke mana ibuk selama ini? kenapa baru sekarang ibuk sok perduli sama aku? ibuk tenang saja aku bisa kok jaga diri, karena sebelumnya pun aku sudah hidup bagai yatim piatu"


Deg....


Ucapan Andra sangat menyakiti hati sang ibu "Bicara apa kamu ini? kamu tau situasi ibu saat itu seperti apa. Harusnya kamu menguatkan ibu bukan malah menyalakan seperti ini"


Rasa kecewa Andra sangat besar, pasalnya hampir dua tahun dia hidup tanpa kasih sayang dari kedua orang tuanya. Hidup bagai yatim piatu. Sang ibu terlalu sibuk meratapi kepergian sang adik, sampai tidak memperdulikan bagaimana perasaan Andra.

__ADS_1


"Halah.....udahlah, buk. Andra mau tidur" Andra mematikan telepon secara sepihak.


"Andra....halo, halo" Air mata seorang ibu katuh terurai "Apa benar semua salahku? kenapa selama ini tidak terpikir sedikit pun tentang dampak dari kesedihanku. Ya Allah ya Tuhanku. Kuatkan hamba dalam menjalani hidup yang serba salah ini. Hamba yakin di balik semua ujian-Mu banyak pelajaran untukku. Tapi, bahu hamba tidak sekuat itu Ya Allah" Menangis tersedu. Sampai akhirnya pandangan Nara tertuju pada sebuah bingkai kecil di atas meja. Foto kedua putranya. Perlahan ia menggapai bingkai tersebut "Ibu sangat menyayangi kalian berdua" Mengusap foto lalu membawanya berbaring di atas ranjang. Sampai tanpa di sadari ia tertidur.


Ke esokan hari Andra pulang ke rumah sekitar pukul enam pagi.


"Nginep di mana kamu semalam?"


Andra bersikap boda amat dengan terus berjalan tanpa perduli apa pun yang di ucapkan Nara.


"Oh jadi ceritanya kamu mau diemin ibuk. Oke kalau gitu mulai sekarang kamu jangan lagi tinggal di sini. Pergi saja kamu, kalau perlu jangan sampai pulang"


Ucapan Nara membuat langkah kaki Andra terhenti. Tepat depan pintu kamarnya "Oke, kalau itu kepurusan Anda" Setelah terdiam beberapa saat ia masuk kamar.


Blammm....


Pintu di banting dengam keras.


Tak berapa lama Andra kelaur dengan membawa tas besar "Kalau begitu aku pergi biar anda puas" Tanpa rasa belas kasihan Andra meninggalakan sang ibu. Hatinya sudah membatu sampai tidak tersentuh sedikit pun dengan kondisi sang ibu.


Selangkah lagi Andra akan benar benar pergi dari rumah itu. Nara berusaha bangkit dengan segala kelukaan yang di rasa. Air mata tak lagi ia hiraukan. Perih tak ada lagi artinya. Dia benar benar hancur sekarang. Kehilangan kedua anak beserta suami. Sungguh itu pasti sangat sulit sekali.


"Andra tunggu, jangan tinggalkan ibu"


Andra tidak menghiraukan teriakan, tangisan, bahkan ratapan sang ibu. Semua tidak mempengaruhi dirinya sama sekali. Sambil menaiki motor sekilat Andra melihat ibunya berlari. Tapi, dengan cepat ia langsung tancap gas pergi dari sana.


Sesampainya depan pintu, melihat snag putra benar benar pergi meninggalaknnya. Tentu hal itu membuatnya lemah. Badan kembali luruh "Ya Allah, apa salah hamba sampai Engkau membuat hidup hamba hancur seperti sekarang ini? kenapa ya Allah?" Teriakan Nara mengundang simpati dari orang sekitar. Kebetulan hari ini warung libur.


"Bu, ada apa?" Seorang penjual bubur menghampirinya setelah mendengar teriakan Nara dan sikap arogan Andra saat berkendara.


"Ayo, mas kita bawa bulek masuk dulu. Nvgak ensk di lihat banyak orang" Salah satu tetangga ikut meliaht apa yang terjadi. Dengan posisi Nara menangis histeris seperti orang tak sadarkan diri.

__ADS_1


"Istigfar, bulek" Salah satu warga mengusap lengan memintanya mengingat tuhan.


"Tolong ambilkan minyak angin" Titahnya.


Tak berapa lama seseorang mengambilkan minyak angin. "Bulek tenangkan dulu hati dan pikiran bulek. Istifar bulek" Orang sekitar terus memberi dukungan untuk Nara.


"Andra....Andra pergi dari rumah. Tolong hentikam dia, saya tidak mau kehilangan anak lagi. Tolong mas, tolong bude, bawa Andra kembali" Sambil terisak ia meminta tolong kepada para tetangga.


"Kita pasti bantu sampean, buk. Tapi, ibu harus tenang dulu"


"Bagaimana saya bisa tenang kalau anak satu satunya pergi meninggalkan saya"


"Ada apa ini?" Datanglah Eca. Ia mrndengar dari seseorang bahwa sang Nara tengaj dalam masalah. "Ibuk kenapa?" Segera Eca bersimpuh di depan Nara yang masih lemas dengan berderai air mata. Badan lemas Nara di topang oleh salah satu tetangganya.


"Eca, tolong saya. Bawa Andra pulang, Eca. Saya nggak mau kehilangan Andra. Sudah cukup saya kehilangan semuanya, tapi tidak lagi dengan Andra" Tangan Nara gemetar ketika menyentuh tangan Eca.


"Pasti. Eca akan coba bujuk mas Andra suapaya dia mau pulang. Ibuk harus tenang dulu, baru kita bicara"


Setelah Nara sedikit tenang. Semua orang pun pergi. Tinggal Nara dan Eca saja. Setelah diam air mata Nara masih terus meloloskan diri. Eca tau tidak gampang berapa di posisi itu. Di mana seorang wanita di guncang ribuan masalah.


(Mungkin kalau orang lain atau aku sekali pun, udah nggak sanggup jalani semua masalah ini. Ibuk orang yang baik tapi selalu di sakiti. Kasihan ibuk selalu saja terluka. Kapan semua akan berakhir? semoga saja ibuk bisa secepatnya keluar dati kegrlapan ini) Gumam Eca sambil mengusap lengan sang majikan.


"Saya buatkan ibu teh dulu, ya"


Nara meraih tangan Eca "Tidak perlu, Ca. Sekarang saya minta tolong hubungi Andra, suruh dia pulang. Saya yang salah sudah mengusirnya. Tolong saya bawa dia kembali, Ca"


"Baik, buk. Eca coba dulu ya"


Berulang kali berusaha menghubungi Andra, tapi tidak ada respon sama sekali.


"Pasti ibuk suruh mbak Eca telepon" Buru buru Andra membuang kartu perdana miliknya lalu menggantinya dengan yang baru "Dengan begini ibuk bakal menyesal sudah mengusirku dari rumah"

__ADS_1


__ADS_2