
Perjalanan mereka memakan waktu hampir tiga jam lamanya. Malam semakin larut. Hawa dingin seakan menguliti diri. Jalanan mulai sepi tak berpengguni. Lampu kota menyinari jalan nan tak bertepi. Bagaikan musibah selalu menerpa kehidupan Nara saat ini. Dalam diam ia berpikir (Kapan semua ujian ini akan berlalu?) Semua telah di lalui dengan ikhlas hati, tapi keikhlasan hati manusia sangatlah tipis. Setipis benang sutra. Manusia tidak bisa menjanjikan rasa ikhlasnya atas musiban yang terjadi. Sebab hati manusia tidak selebar dunia. Terkadang saja ikhlas di mulut belum tentu ikhlas di hati.
"Bagaimana kamu bisa tau kalau Andra dalam masalah, mas?" Di tengah perjalanan mereka, Nara mencoba memecah ketegangan. Sambil menaiki motor matic, mereka saling berpacu dalam emosi. Bagus menaikkan kaca helm seraya melihat wajah Nara dari kaca Spion "Aku tidak tau kalau Andra membawa lari seorang gadis, yang aku dengar dari temanku, Andra bekerja sebagai tukang ojek online, dan tinggal tidak jauh dari tempat temanku berada. Maka dari itu, sebenarnya aku tadi sudah di jalan mau ke arah rumah kamu. Tujuannya mau menanyakan apakah benar Andra pergi dari rumah atau temanku itu hanya salah lihat saja. Pas hampir sampai tiba tiba Eca telepon katanya kamu dalam masalah. Biar bagaimana pun tidak akan aku biarkan ibu dari anakku kenapa kenapa. Apa lagi menyangkut masalah anak, aku masih punya hak" Tuturnya sambil terus mengendarai motor. Andai waktu bisa berputar kembali, maka saat ini ia ingin kembali ke masa lalu. Masa di mana rumah tangganya nyaman tanpa adanya pelakor. Tapi sayang nasi terlanjur jadi bubur.
"Pantas saja selama ini aku coba berkomunikasi dengan Andra tidak bisa. Ternyata dia minggat dari rumah" Kalau di tanya tantu Bagus sakit hati. Anak pergi dari rumah berbulan bulan, tapi Nara tidak mengabarinya. Itu sama saja Nara tidak menganggapnya ada. Sejatinya seorang anak masih menjadi tanggung jawab orang tua, selama dia beluk menikah. Setelah menikah mereka masih punya hak, tapi tidak sepenuhnya.
(Aku menyadari semua salahku. Selama ini aku terlalu egois, sampai tidak memikirkan akibat dari semua perbuatanku ini) dalam diam Nara berpikir semua kesalahan yang di perbuatnya.
"Aw...." Hampir saja Nara teejatuh karen kondisi jalan. Jalan panjang kadang berlubang, berkelok, kadang pula menanjak. Seperti kehidupan Nara.
"Pegangan erat, jalanan lagi nggak bersahabat. Tau sendiri tadi sore habis hujan. Nggak usah sungkan, pegangan saja" ujar Bagus.
Nara terdiam. Dalam hati paling dalam ia masih belum bisa menerima semua perlakuan Bagus terhadapnya si masa lalu. Namun, dengan kondisi seperti ini apa boleh buat. Tanpa sosok Bagus dia juga tidak akan bisa menyelesaikan semua
Dari pada bersitegang dengan keadaan lebih baik berdamai. Untuk apa mementingkan ego di saat masalah muncul ke permukaan.
(Tenang, Ra. Ini hanya sementara. Semua demi Andra) Dengam ragu Nara perpegangan pada pundak Bagus. Tidak seperti dulu, saat mereka pergi berdua pasti Nara selalu memeluk mesra Bagus sambil menyandar pada pundak. Sekarang situasi berbeda. Tidak akan lagi bisa seperti dulu.
Pada hakikatnya seorang ayah tetaplah seorang ayah. Meski dia sudah bercerai dengan sang istri, tapi perannya masih menjadi seorang ayah. Tanggung jawab terhadap anak jauh lebih utama dari pada mementingkan keegoisan. Begitu pula dengan Nara. Dia harus bijak dalam menyikapi segala problema. Biar bagaimana pun Bagus masih punya tanggung jawab besar terjadap Andra.
"Sudah hampir Delapan bulan dia kabur dari rumah. Hampir semua temannya ku datangi, tapi mereka tidak tau keberadaan Andra. Bahkan, setiap pagi aku datang ke sekolah, tapi tetap saja dia tidak datang ke sana" Jelas Nara.
"Awalmya aku juga marah sama kamu, kenapa anak kabur selama itu tapi kamu tidak membertahu aku. Bagaimana pun hubungan kita saat ini, anak tetaplah anak. Aku masih ada hak atas dia. Jadi, aku minta mulai sekarang tolong jangan sembunyikan apa pun yang meyangkut tentang Andra" Pinta Bagus.
"Masih jauh atau tidak sih? dari tadi belum nyampe juga" Kesal Ramli.
Seorang menepuk lengan Ramli dari belakang. Saat ini mereka tengah berkrndara motor mengikuti Bagus dari belakang "Jangan jangan tu orang mau peemainkan kita, bro. Awas saja kalau dia berani bohong sama kita, habis anaknya kalau ketangkap sama gua"
__ADS_1
Mengeratkan rahang "Pokoknya kalau sedikit saja adik gua kenapa napa, lihat aja apa yang bisa gua perbuat" Ramli tidak akan tinggal diam ketika ada seseorang membuat adiknya terluka. Sedikit saja air mata Ambika jatuh, orang itu pasti langsung masuk rumah sakit.
"Setuju gua, bro. Kita habisin aja tuh anak. Berani sekali dia bawa anak orang. Di kiranya udah jagoan kali ya"
Tak berapa lama sa.pailah mereka di depan sebuah rumah sederhana. Di depan rumah terlihat ada dua sandar tergeletak. Segera mereka turun lalu mengetuk pintu.
"Permisi...." Sambil mengetuk pintu.
Tak lama kemudian pintu terbuka "Ayah..." Benar saja Ambika keluar dari dalam kos. Semua orang tertegun melihat penampilan Ambika. Gadis yang dulunya cantik berkulit putih bersoh, sekarang berubah penampilan seperti emak emak. Yang paling membuat merek syok adalah ketika seorang lelaki muncul dari belakang Ambika. Dialah Andra. Melihat banyak orang di depan mata, tentu membaut Andra terkejut. "Lho ada apa ini? siapa mereka sayang?" Tanya Andra heran.
Nara langsung melepas helm lalu menghampiri Andra.
Plak....
Sambil memegang pipi "Ibuk?" Nada suara mulai gemetar menyebut nama sang ibu. Kemarahan di mata sang ibu terlihat sangat jelas. bagaimana tidak marah, anak yang selama ini dia didik dengan penuh kasih sayang, tega berbuat hal nekat.
"Jujur ibu sangat kecewa sama kamu, Ndra. Ibu pikir kamu anak yang baik, tapi ternyata kamu berani membawa kabur seorang gadis (Tatapan beralih pada Ambika) kamu sudah mencoreng nama baik keluarga" Nara tak kuasa menahan air mata. Kecewa, sakit hati, dan malu, menjadi satu kesatuan yang bisa membuat harga diri seorang ibu terluka.
Tiba tiba saja seseorang menyeret Andra dengan kasar "Baji**n kamu" Ramli pun melayangkan tinju tepat di pelipis. Pukulan keras Ramli membuat Andra terjatuh. Segara Ramli kembali membuat Andra berdiri. Sekarang Ramli mencengkeram baju Andra "Berani sekali lo bawa adek gua...." Ketika Ramli hendak memukulnya kembali, tiba tiba Ambika memeluk Ramli dati belakang "Kak, tolong jangan sakiti dia. Semua murni bukan salah dia saja, tapi aku juga salah"
Ramli mematung sejenak kala dia merasa ada yang aneh pada diri sang adik. Segera ia lepas Andra lalu berbalik badan. Tatapan Ramli mengarah pada perut Ambika. Daster jumbo membuat perut buncit Ambika terlihat biasa saja. Namun, di saat Ambika memeluknya, ada sesuatu yang berbeda "Jawab kakak dengan jujur. Kenapa dengan perut kamu itu?"
Ambika langsung tertunduk lesu.
"Katakan...." Bentak Ramli seraya mencengkerang kedua lengan adiknya. Perlahan tangan Ramli menyentuh perut Ambika. Dengan gemetar ia menyentuhnya.
"Ada apa ini Ramli?" Sang ayah langsung mendekati mereka. Belum mendapat jawaban, air mata Ramli sudah menjawab semua pertanyaan.
__ADS_1
"Nggak mungkin, ini pasti hanya mimpi" Ramli segera membuang muka. Tak teras aair matanya jatuh membasahi pipi. Tidak pernah sekali pun terlintas olehnta kalau nasib sang adik akan seperti ini "Kamu hamil, bukan?" Ucapan Ramli membuat semua orang melempar pandang ke arah Ambika. Benar saja setelah di lihat secara teliti, perut gadis itu sedikit membesar.
"Nggak mungkin, jangan menyebar fitnah ya. Mana mungkin anak saya menghamili dia" Bagus pun langsung turun tangan. Dia menatap mata Andra. Bukannya Andra membela diri, justru dia malah terdiam menunduk. Dari sikap Andra jelas kalau dia tidak mengelak atas tuduhan Ramli.
"Kak...Ambika minta maaf" Ambika langsung berlari dan kembali memeluk Ramli.
Sigap Ramli melepas pelukan Ambika "Kakak kecewa sama kamu, dik. Ambika yang aku kenal bukan wanita murahan seperti ini, dia tidak bisa tunduk pada seorang laki laki. Kamu pasti bukan Ambika adik ku. Nggak mungkin, ini nggak mungkin terjadi" Memu durkan langkah sampai salah satu temannya menepuk pundak "Ini bukan kesalahan Ambika, tapi si Baji**n itu. Dia sudah menghancurkan masa depan adik lo. Dia harus menerima hukuman atas semua perbuatan buruknya"
Kedua tangan mengepal. Tatapan tajam seperti burung elang mengarah oada Andra. Segara amarah menggumpal jadi satu "Kamu....." Berjalan ke arah Andra. Berulang kali Ramli memukul wajah sampai Andra terjatuh. Tidak sampai di sana, Ramli juga menendang perut Andra. Sontak Andra meringkuk kesakitan.
"Stop! kakak jangan sakiti dia, atau aku mati di depan kalian semua" Ambika mengalungkan sebuah gunting tajam. Entah di dapat dari mana gunting tersebut, tiba tiba saja ia mendapat senjata tajam itu.
"Ambika jangan macam macam kamu, nak. Ayo letakkan kembali gunting itu. Ayo sayang jangan seperti itu" Bujuk sang ayah.
Sembari berjalan mundur menghampiri Andra "Lebih baik aku mati dari pada meluhat kalian menyiksa mas Andra. Aku sangat mencintai dia. Kalau kalian mau aku mati silahkan saja pukuk dia lagi" Ancam Ambika.
"Ambika, Cukup! Buang benda itu, kakak tidak mau kamu kenapa napa. Buang sekarang juga atau...."
"Atau apa, kak? selangkah lagi kakak mendekat, gunting ini siap menusuk leher ku. Kalian pasti malu bukan melihat aku hamil di luar nikah, maka dari itu lebih baik aku mati saja biar kalian semua puas"
Susah payah Andra berusaha meraih tangan Ambika "Sayang, jangan lakukan apa pun. Buang benda itu" pinta Andra.
Ambika terlanjur kebawa suasana "Tidak. Aku tidak main main sama ucapan aku. Sedikit saja mereka nyakitin kamu, aku tidak segan menyerahkan nyawa demi kamu, sayang"
"Oke, oke, begini saja. Kita pukang dulu lalu kita bahas tindakan selanjutnya seperti apa" Pak Rt mencoba mencari jalan kelaur dari masalah mereka.
"Tindakan selanjutnya? jelas dia (Menunjuk Andra) harus masuk penjara. Aku tidak terima dia menghancurkan masa depan Ambika" Ramli kembali terdulut emosi.
__ADS_1
Nara sudah tidak bisa berkata kata. Kesedihan sudah menguasai diri. Bagus sendiri selalu mendampingi Nara. Dia berada di samping Nara sambil terus menengkan.
"Ramli, bapak mohon jangan keras kepala. Yang penting sekarang adik kamu sudah ketemu. Kita bicarakan semua di rumah. Ayo kita bawa adik kamu pulang" Tutur Sang Ayah.