
"Assalamualaikum....." Terdengar seorang mengetuk pintu.
Kala itu Eca baru saja keluar dari kamar mandi. Segera ia berjalan ke arah pintu "Waalaikumsalam" Dan ketika pintu terbuka, sesok lelaki paruh baya berdiri tegap di depannya. Sembari melebarkan senyum ia berkata "Maaf Ca saya mu mengganggu waktu kamu sebentar, boleh?"
Eca menatap Bagus. Sekitar dua tahun lebih tidak pernah bertemu lagi dengan sang mantan majikan lelaki. Dari segi penampilan banyak yang berubah darinya. Badan gagah yang dulu selalu menjadi kebanggaan orang, sekarang kisut termakan usia. Wajah tampan menawan kini terlihat lusuh dengan gurata garis tipis di dahi. Penampilan Bagus jauh berbeda dari dulu. Pasti siapa pun akan pangling melihatnya.
"Pak Bagus? malam begini ada apa bapak ke tempat saya?" Tanya Eca. Melihat sekeliling nampak sepi membuat Eca sedikit katekutan. Bagaimana tidak takut, Dahulu Bagus terkenal nakal sama wanita. Eca hanya takut terjadi sesuatu dengannya nanti. Dia bingung harus memperdilahkan masuk atau mengusirnya. Tapi, biar bagaimana pun Bagus seorang tamu. Mana ada tuan rumah langsung mengusir tamu secara kasar tanpa tau niat awal. Perasaan Suudzon mulai membuat Eca resah.
(Jadi ngeri deh sama pak Bagus, takut dia nagapa ngapain)
"Begini, Ca. Saya boleh minta tolong temani saya ke warung, nggak? Saya pengen ketemu sama Andra, sekalian mau kasih sesuatu untuknya. Nggak enak kalau saya datang ke sana sendiri. Kamu tau saya dan ibuk sudah bukan siapa siapa lagi, maka dari itu saya minta tolong kamu temani saya ke sana, ya" Pinta Bagus.
Eca menghela nafas (Syukurlah dia tidak macam macam)
"Kok kamu diam, Ca? bisa tidak temani saya?"
Eca bingung harus menjawab apa. Kalau dia mengatakan bahwa Andra tidak di rumah, pasti banyak pertanyaan dari Bagus. Dari pada banyak di cecar dengan berbagai pertanyaan, akhirnya Eca memilih pura pura tidak tau.
(Lebih baik Pak Bagus tau sendiri dari mulut ibuk. Aku nggak boleh ikut campur dalam masalah keluarga mereka. Takutnya kalau salah bicara bisa timbul masalah baru. Mending anter bapak langsung saja deh)
"Baiklah, pak. Mari saya antar"
Setelah mengunci pintu, Eca mengantar Bagus menuju warung. Hanya berjalan beberapa meter saja, mereka sudah sampai depan warung. Dari luar terlihat Nara tengah duduk bersandar pada tembok. Tangan masih memegang pena dengan secarik kertas di atas meja. Seperti biasa setiap kali warung tutup, tugas Nara mencatat bahan untuk jualan besok.
__ADS_1
"Assalamualaikum..." Eca memberi salam sambil mengetuk pintu beberapa kali. Sengaja Eca mengetuk pintu karena dia tau Nara tengah melamun.
Suara iEca membuat lamunan Nara pecah "Kamu?(Bangkit seraya berjalan ke arah pintu) ngapain kamu bawa dia datang kesini, Ca?" Tatapan Nara memperlihatkan kemurkaan. Lolongan kebencian terpancar jelas, sampai kedua sudut matanya menggenang air mata.
"Maaf, tapi aku datang hanya sekedar ingin beetemu anakku" Ucap Bagus.
"Apa kamu bilang? Anak? memangnya kamu masih pantas di sebut sebagai bapak? lebih baik kamu pergi dari hadapanku, sebelum kamu melihat kemurkaanku"
"Buk....tenangkan diri ibuk, biarkan bapak masuk dulu. Kita bicara di dalam. Tidak enak banyak orang melihat kita" Eca berusaha menenangkan Nara. Meski sepertinya akan sia sia saja.
"Diam kamu, Eca. Saya tidak ada urusan smaa kamu." Perlahan Nara mendekati Bagus yang masih berdiri di luar rumah.
"Sudah ku bilang jangan pernah lagi usik kehidupan ku dan Andra. Lebih baik kamu pergi sekarang, pergi, pergi nggak?!" Saking kesal ia mendorong Bagus sampai hampir terjatuh.
"Buk, sabar dulu. Bapak datang ke sini mau bicara tentang mas Andra kok. Jangan begini ya buk, nggak enak sama bapak. Udah jauh jauh datang kesini lho"
"Nara, aku ngaku semua salahku. Tapi, kedatangan ku hanya semata ingin silaturahmi dan ingin ketemu Andra. Apa aku salah menemui putra ku sendiri? apa hak kamu melarangku bertemu dengan darah dagingku?" Bagus pun mulai tersulut emosi. Karena baru kali inj dia di perlakukan kurang baik oleh seorang wanita. Jelas Harga diri Bagus terluka.
"Oh.....jelas aku ada hak. Kamu sudah mencampakkan keluarga demi seorang pelakor murahan, sekarang di saat kamu di tinggalkan olehnya, baru sadar kamu kalau masih punya tanggung jawab? Baru ingat kamu, ha?" Tanpa gentar Nara membalas semua ucapan Bagus.
Pertengkaran mereka malam itu memicu banyak tanggapan dari orang sekitar. Eca melihat ada banyak orang melihat sinis ke arah mereka "Pak, buk, mending kita masuk bicara di dalam saja. Nggak enak di lihat tetangga" Ujar Eca sembari mengajak Nara masuk. Nara nampak masih sangat marah. Emosinya selalu meluap ketika melihat wajah Bagus. Wajar saja seorang wanita kehilangan kedudukan sebagai seorang istri, sebab ulah suami. Seorang ibu kehilangan anak karena ulah si mantan suami. Siapa tidak murka atas semua kejadian itu? jelas semua orang akan marah kalau ada di posisi Nara.
Bagus ikut masuk lalu duduk sedikit jauh dari Nara "Bapak mau minum apa?" Eca menawarkan minum untuk mantan bosanya tersebut.
__ADS_1
"Apa saja boleh" Jawabnya.
"Kalau begitu tak buatin kopi ya, pak" Segera Eca masuk ke dapur membuatkan minuman untuknya.
Sekarang tinggal Nara dan Bagus. Nara diam membisu. Untuk melihat wajah bagus ia tidak sudi. Bahkan sekarang Nara lebih memilih berada di dekat tumpukan sampah dari pada di dekat Bagus.
"Sebenarnya niat aku datang ke sini, mau memberikan sedikit uang untuk biasa sekolah Andra. Ya mungkin tidak bisa mencukupi semuanya, tapi paling tidak bisa membantu meringankan beban kamu" Mengambil sebuah amplop berisi uang gajinya selama bebetapa bulan ini. Sengaja dari pertama kerja sampai sekarang uang hasil kerja kerasnya, ia simpan untuk biaya sang putra.
"Mohon di terima. Biar pun sedikit tapi aku ikhlas memberikannya"
Nara masih diam membisu. Salah jika dia menolak uang dari Bagus. Karena sekecil apa pun nominalnya kalau sudah menyangkut nafkah untuk anak, dia tidak pantas menolak. Bukan dia tidak mampu membiayai anak, tapi kewajiban seorang ayah terletak pada anak anaknya. Biar pun sebuah kelaurga telah bercerai berai, wajib hukumnya untuk memberi nafkah.
"Kalau di ijinkan sebentar saja aku pengen ketemu Andra" Pinta Bagus.
"Dia lagi maen ke rumah temannya. Maaf, aku nggak bisa lama lama ngobrol sama kamu. Aku capek mau istirahat" Tanpa memikirkan bagaimana perasaan Bagus sekarang ini. Nara pergi begitu saja. Masuk ke dalam kamar.
"Ya Allah....aku harus bagaimana? nggak sanggup aku bilang yang sebanarnya sama maa Bagus" Bersandar pada pintu sampai perlaha terduduk. Kedua tangan meraup wajah "Begitu berat beban hidup ini. Sampai kapan cobaan terus menimpaku? apa salahku sampai Tuhan hukum aku seperti ini?" Nara menangis sambil meratapi nasib.
"Loh pak, ibu di mana?" Tanya Eca. Baru saja ia kelaur dengan membawa secangkur kopi untuk Bagus.
"Masuk kamar. Oh iya Ca bukannya tidak menghargai kamu, tapi saya mau pamit pulang saja" Bagus bangkit lalu meraih uang di atas meja "Tolong kasih uang ini sama ibuk"
"Bapak minum dulu saja kopinya, sudah terlanjut tak buatin"
__ADS_1
Bagus tersenyum sambil meraih secangkir kopi "Ya sudah saya minum ya(Meminum kopi yang terlanjur di buat) sudah, makasih banyak ya Ca. Salam sama Andra kalau dia pulang nanti" Bagus pun pulang dengan membawa kekecewaan. Niat hati ingin ketemu anak tapi apa daya anak tidak di rumah.
"Kenapa ibu tidak bisa saja kalau mas Andra kabur dari rumah? ah sudahlah, bukan urusanku ini"