Suamiku Penjahat Wanita (Part 2)

Suamiku Penjahat Wanita (Part 2)
Kedatangan Keluarga Ambika


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian. Sekitar jam delapan malam, Nara kedatangan tamu dari jauh. Total ada enam orang laki laki. Empat orang remaja dan dua lagi usianya sudah lumayan tua. Awalnya para pemuda itu turun duluan. Mereka langsung mencecar Nara dengan beberapa pertanyaan. Nara bingung sebenarnya mereka siapa? dan ada masalah apa ini sebenarnta? wajah garang mereka membuat Nara ketakutan. Dari cara mereka bicara jelas kalau mereka sedang marah. Kalimat pertama yang mereka tanyakan adalah Di mana Andra berada. Sontak saja Nara panik "Sebelum kita biacara lebih lanjut, bagaimana kalau kalian masuk terlebih dahulu. Kita bicara di dalam saja" Ajak Nara sambil mempersilahkan mereka masuk.


"Silahkan duduk. Saya mau ke belakang sebentar...."


"Kami ingin bicara sama anda sekarang juga, buk. Anda duduk saja bersama kami" Salah seorang lelaki paruh baya meminta Nara duduk bersama mereka. Kalau di lihat dari gerak gerik mereka, jelas ada hal yang membuat mereka marah.


"Iya, nanti saya kembali. Saya cuma mau minta sama orang saya untuk menutup warung" Ujar Nara sembari menutupi rasa takutnya.


Tiba tiba saja Eca keluar dari dapur. Ia terkrjut ada banyak orang tengah menatap Nara dengan tatapan menakutkan "Buk....ada apa ini? mereka siapa?" Tanya Eca sambil melihat ke arah mereka secara bergantian. Dari pandangan saja jelas mereka bukan mu makan.


Nara menyentuh lengan Eca dengan memberi kode padanya. Sedikit mencengkeram lengan Eca seraya berkata "Kamu tutup dulu warungnya, saya ada tamu"

__ADS_1


"Baik, buk" Eca langsung menutup warung. Setelah itu Eca langsung kembali masuk dapur "Mending aku coba telpon pak Bagus saja, siapa tau dia bisa datang bantu ibu" Eca segera menelepon Bagus. Kebetukan haru ini Bagus juga mengarah ke warung, karena baru mendapat kabar dari sesorang bahwa Andra minggat dari beberapa bulan lalu. Tentu saja Bagus langsung marah. Sebagai seorang ayah dia berhak tau apa pun tentang anak anaknya "Siapa lagi telepon di saat kaya begini" Menepikan motor sembari mengeluarkan ponsel "Eca? tumben dia telepon, ada apa ya?" Segera memgangkat telepon "Halo, Ca ada apa ya? tumben malam begini telepon saya"


Sambil tengok ke depan, memastikan Nara masih baik baik saja "Pak, tolong datang ke warung sekarang juga. Ibu sedang dalam masalah" lirih Eca.


"Masalah? memang ada masalah apa, Ca?" Selama ini Bagus tidak pernah melihat Nara berseteru dengan orang lain kecuali dengan selingkuhan Bagus. Sejak dulu Nara terkenal baik. Tidak mungkin dia punya musah.


"Pokoknya bapak langsung ke sini saja. Saya juga kurang tau mereka itu siapa, pak. Yang jelas mereka kelihatan matah banget, mungkin mereka itu....." Belum selesai berkata telepin sudah terputus "Aduh batreku habis lagi, gimana dong ini...." Eca ikut panik. Tidak tau harus berbuat seperti apa.


"Begini, ibu ya. Kedatangan kami ke sini mau menanyakan apakah benar anak ibu yang bernama Tubagus Andra Saputra, membawa lari seorang gadis. Di mana gadis tersebut adalah adik kandung saya, yang bernama Ambika." Jelas lelaki berbaju merah. Dia mengaku sebagai kakak Ambika, gadis yang di bawa kabur Andra.


Betapa terkejutnya Nara mendengar lenjelasan dari salah satu dari mereka "Nggak mungkin, anak saya tidak mungkin berbuat hal serendah itu. Kalian jangan menyebarkan fitnah seperti ini. Saya bisa laporkan kalian pada pihak berwajib dengan ancaman pe cemaran nama baik" Sontak Nara marah. Ia berdiri di hadapan banyak orang. Tatapan mata Nara seolah tidak takut dengan bumurang perang.

__ADS_1


Ayah Ambika ikut bangkit "Silahkan saja anda laporkan kami. Karena kami juga bisa menjerat anak anda dengan pasal pencilikan. Kalau anda tidak percaya lihat saya ini" Beliau mengeluarkan ponsel. Sebuah pesan singkat dari seseorag ia tunjukkan kepada Nara sebagai barang bukti solid. Sebuah Foto di mana Ambika bersama Andra tengah menenteng tas keluar dari kosan. Waktu itu tanpa di sadari kepergian mereka di ketahui oleh anak pemilik kos. Sontak saja anak pemilik kos langsung memberitahu orang tuanya bahwa Ambika dengan lelaki yang di bilang sepupunya telah meninggalkan tempat. kedua orang tua Ambika awalnya tidak ciruga kalau selama berbulan bukan sang putri tidak pulang. Dan setiap kali ayah dan ibu hendak menengoknya pasti di larang, ternamyata setelah rindu tak terhatan, mereka memutuskan datang tanpa sepengetahuan Ambika. Namun, batapa terpukulnya mereka saat tau anak mereka sudah tidak di tempat. Mereka di kasih tau oleh pemilik kosan. Sudah lama kos di huni orang lain karena Ambika telah pergi tanpa pamit. Bagi pemilik indekos tidak perduli orang itu mau pergi atau tidak yang penting uang sewa sudah di bayar. Dari situ mereka sadar bahwa putri mereka di bawa kabur oleh seseorang yang bernama Andra. Mereka tau bahwa lelaki itu adalah Andra, di saat mereka telepin salah satu teman dekat Ambika. Dia bilang kalau Ambika akhir akhir ini sering menyendiri dan banyak menghabiskan waktu di kosan. Salah satu dari teman baik Ambika kelepasan bicara soal sosok lelaki yang bersama Ambika saat itu. Setelah mengirek semua informasi dari teman teman Ambika, keluarga besar Ambika memutuskan mencari siapa lelaki tersebut. Tidak butuh waktu lama mereka telah menemukan alamat Andra.


"Jangan percaya buk, bisa jadi itu foto setingan. Mana mungkin mas Andra rambutnya kaya gitu. Selama ini mas Andra paling tidak suka rambut gondrong. Itu pasti bukan mas Andra" Tanpa permisi Eca masuk dalam obrolan mereka. Bukan tanpa alasan, karena Eca berusaha membela majikannya.


Seorang pemuda menghampiri Eca "Eh, mbak. Coba deh lu lihat, wajah dia itu mirip nggak sama si Andra itu? Mana ada kami main setingan. Kami itu kehilangan keluarga lho, mbak. Kalau mau ngomong di hati hati dong"


Nara tidak mau Eca terbawa dalam masalah kelaurganya. Akhirnya Nara meminta Eca masuk ke dalam lagi "Lebih baik kamu masuk dulu, Ca. Biarkan kami berunding terlrbih dahulu"Menepuk lengan Eca, berusaha kuat di atas semua masalah.


"Tapi buk...."


"Kamu tenang saja, Ca. Ada saya di sini" Seketika semua orang menoleh ke arah sumber suara.

__ADS_1


"Mas Bagus?" Lirih Nara sembari melihat Eca dan berganti menatap Bagus. Anggukan kepala Eca membuat Nara mengerti bahwa dia telah meminta bantuan Bagus. Mau tidak mau Nara harus kolaborasi dengan mantan suaminya demi meluruskan pokok perkara.


__ADS_2