
Dalam derai air mata mereka saling menatap untuk waktu yang lama. Sampai hujan mulai mengguyur keduanya.
"Biar hujan malam ini menghapus jejak kita di masa lalu" Lirih Anggi sambil memgulas senyum. Derai air mata telah beradu dengan air hujan. Perlahan Anggi memundurkan langkah "Terima kasih atas cinta yang pernah kau beri...." Setelah mundur tiga langkah, ia lalu berbalik badan. Teramat sesak jika di ingat kembali masa di mana mereka pernah saling mencintai. Sampai sekarang pun cinta mereka masih menyisakan rasa di hati masing masing. Tapi sayang, cinta mereka berakhir kandas.
Melihat Anggi perlahan menjauh membuat Andra ingin sekali berlari mengejarnya, memeluknya, dan bekata mari kita rajut kembali kisah kita, namun semua tak akan terulang kembali. Semua telah benar benar berakhir saat Andra mengucap ijab kobul depan penghulu.
Sambil berjalan perlahan "Jika dia memang tercipta bukan untukku, maka hapuskan rasa ini" Secepatnya Anggi pergi dari sana. Sekilas pandang memisahkan mereka dari sakit dalam bercinta. Pandangan Andra terus melihat Anggi sampai ia menghilang dari pandangan "Selamat tinggal wanita terbaikku, semoga kelak kau dapatkan lelaki yang jauh lebih baik dariku. Aku memang terlalu bodoh sampai tidak bisa menilai ketulusan dari cintanya, mata benar benar buta" Menengadahkan wajah hingga butiran air hujan menyapu air matanya.Satu hal yang paling ia sesali, adalah kehilangan Anggi.
Andra kembali terduduk sambil menyesali semua peebuatan "Arrgghhhh....." Andai bisa tergambar mungkin penyesalan Andra lebih besar dari bumi, lebih tinggi dari gunung, lebih luar dari laut. Begitulah hidup, ketika mendapat masalah baru kita sadari bahwa sesuatu yang pernha kita tinggalkan jauh lebih berharga dari apa yang saat ini kita perjuangkan.
__ADS_1
"Bagaimana sus sudah memberi kabar kepada keluarga pasien?" Tanya Dokter yabg baru saja keluar dari ruanga rawat Ambika. Pendarahan yang di alamni Ambika membuatnya dokter harus segera bertindak cepat, kalau tidak anak dalam rahim Ambika tidak akan selamat. Usia kandungan Ambika sudah genap tujuh bulan, jadi mau tidak mau harus melakukan Cesar demi menyelamatkan si jabang bayi.
"Belum, dok. Saya sudah menghubungi semua pasien dan nomor atas nama ibu pasien tapi tidak tersambung, Dok" Jawab suster.
Dokter tersebut panik melihat kondisi pasien sangat genting, tapi pihak keluarga tidak ada yang bisa di hubungi "Bagaimana ini? kita tidak mungkin melanggar prosedur rumah sakit, tapi bagaimana dengan keselamatan janinnya" Ketika Dokter berhadapan dengan dua pilihan antara menolong atau peraturan, sungguh di lema. Kalau langsung ambil tindakan pasti prosedur menyalahkan para medis, karena setiap tindakan ada prosedur yang harus di lalui terlebih dahulu, entah meyangkut nyawa atau apa pun itu.
"Apa? jadi menantu saya pendarahan?" Kebetulan Nara menelrpon Ambika untuk sesuatu hal. Tak lama mendapat kabar tanpa tunggu lama ia bergegas menuju runah sakit "Ya Allah cobaan apa lagi ini" Begitu banyak ujian menimpa keluarga Nara, sampai mengeluh tak lagi terasa sakit.
"Huh....kuatkan hambamu ya Allah" Sambil berharap tidak ada hal buruk menimpa menantu dan calon cucunya.
__ADS_1
"Pak tolong lebih cepat lagi" Ucap Nara kepada Driver ojek Online yang saat ini membawanya ke rumah sakit.
"Baik, buk"
Setelah beberapa saat kemudian sampailah Nara di runah sakit tersebut. Ia berlari mencari keberadaan sang menantunya saat ini "Pasien atas nama Ambika Pratiwi di rawat di ruang apa, sus?"
"Sebentar ya buk saya coba cek terlrbih dahulu" Setelah melakukan pengecekan ketemulah nama Ambika Pratiwi "Pasien di bawa ke UGD buk, silahkan ikuti saya" Salah satu suster mangajak Nara menuju ruangan di mana Ambika berada sekarang.
"Sebelumnya kami mau minta persetujuan kepada pihak keluarga pasien terlebih dahulu, sebab pasien mengalami pendarahan hebat yang mengakibatkan janin harus segera di keluarkan, kalau tidak janin dalam rahim tidak bisa terselamatkan" Suster tadi memberinya sebuah surat persetujuan. Tanpa tunggu lama Nara pun tanda tanggan agar bisa cepat menyelamatkan menantu dan cucunya.
__ADS_1