
"Saya nikahkan engkau Tubagus Andra Pratama bin Bagus Harianto dengan ananda Ambika Pratiwi Binti Husain dengan mas kawin seperangkat alat shalat, uang tunai sebesar tiga puluh juta rupiah, beserta emas dua belas gram di bayar, TUNAI" akad nikah menggelegar dampai penjuru rumah.
Menarik nafas panjang "Saya terima nikah dan kawinnya Ambika binti Husain dengan mas kawin tersebut di bayar tunai" Ucap Andra dengan suara lantang. Ia menepis segala keraguan di hati demi memenuhi tanggung jawabnya sebagai laki laki. Kalau saja dia mau sudah dari dulu lari dari tanggung jawabnya. Namun, Andra berpikir lagi kalau sampai meninggalkan Ambika dalam keadaan seperti ini, pasti tidak akan mungkin, karena biar bagaimana pun Ambika mengandung buah cinta mereka berdua. Sekilas ia memeng kasar, keras kepala, dan susah di atur, tapi sejatinya Andra adalah sosok laki laki tanggung jawab. Kalau pun dia mau sudah dari awal ia menggugurkan kandungan Ambika. Setelah di timang timang akhirnya Andra memutuskan untuk mempertahankan si janin. Alasannya simple, tidak ingin membunuh janin tak berdosa demi keegoisan semata. Selama beberapa bulan belakangan Andra sudah berusaha menjadi laki laki tanggung jawab dengan memenuhu semua kebutuhan hidup.
"Bagaimana para saksi, sah?!"
"Sah"
"Alhamdulillah" Semua saksi ikut meraup wajah sembari mengucap syukur. Dalam pernikahan kali ini tidak terlihat raut bahagia sedikit pun dari wajah kerua orangv tua Andra. Entah mungkin masih terlalu kecewa atau belum bisa menerima semua yang terjadi. Di depan semua orang berusaha tersenyum, tapi nyatanya dalam hati menangis.
__ADS_1
(Semoga kedepannya anakku bisa hidup bahagia. Jangan sampai nasibnya seperti pernikahan orang tuanya, dan semoga ini jalan terbaik dari semua masalah) Tanpa di sadari air mata Nara terjatuh.
Eca berada di samping Nara langsung menyentuh lengan Nara "Ibuk tidak apa apa kan?" Tanpa kata Eca tau betapa kecewa hati Nara saat ini. Bukan sekali dua kali Nara harus menelan pil pahit kehidupan. Menurut Eca dunia tidak adil terhadap sang majikan, bertubi tubi luka dan derai air mata menghantam kekokohan diri, sampai orang sekitar ikut merasakan sakit.
"Saya hanya terharu saja kok" Ujar Nara sambil memgusap air mata. Tak berapa lama sepasang pengantin mendekat "Ibuk...." Andra yang pertama kali langsung memeluk Nara dengan derai air mata "Andra minta maaf atas semua kesalahan Andra" Lirihnya dalam pelukan sang ibu. Nara tak dapat berkata kata, air mata meluap tanpa terminta.
"Pasti, buk. Andra akan berusaha menjadi yang terbaik" Berulang kali Andra menciumi tangan sang ibu.
Kini giliran Ambika mencium tangan ibu mertua "Jadilah istri sholehah, manantuku. Jika suamimu ada salah kamu wajib meluruskan, dan jadilah air dalam rumah tangga kalian." Ujar Nara sambil cipika cipiki sama anak menantunya.
__ADS_1
"Insya Allah Ambika akan menjadi istri terbaik untuk mas Andra, Buk" Ujar Ambika seraya tersenyum simpul.
Ada beberapa tetangga tengah mengintip dari rumah tetangga lain, mereke penasaran berapa banyak mahar dari pihak laki laki. Mengetahui besarnya mahar membuat para tetangga panas "Pantas saja maharnya besar Bu Husain ketawa tiwi deh"
"Emang pihak lakinya orang mana sih buk? kok sampe kasih mahar gede banget. Kalau saya ogah kasih mahar gede sama keluarga mereka, nanti paling bentar lagi cerai. Kaya abangnya itu" Kakak perempuam Ambika sudah menikah tiga kali, dan selalu gagal di tengah jalan. Menurut pandangan warga sekitar sang kakak ini hanya memanfaatkan laki laki untuk mendapat harta. Memang sih keluarga Ambika bukan orang miskin, tapi sang kakak punya watak ambisius.
"Kita lihat saja nanti. Jadi kasihan ya sama pihak laki laki, takutnya anak dalam rahim Ambika itu buah dari hubungannya dengan laki laki lain. Tau sendiri kan dia itu banyak banget pacarnya" Sambung tetangga lain.
"Biarin aja Bu Husain rau rasa, jadi orang suka gibahin tetangga sih jadi kena batunya"
__ADS_1