
Beberepa hari kemudian. Selama kabur dari rumah, Andra tidak lagi masuk sekolah. Bersama dengan Ambika ia menjalani kehidupan panuh liku. Kini Andra bekerja di sebuah bengkel demi mencukupi kebutuhan sehari hari, sedangkan Ambika sendiri masih sekolah. Mereka sudah sepakat untuk hidup bersama dalam susah maupun senang. Mereka belum tau dalam perjalanan hidup ke depannya akan ada hambatan seperti apa. Yang mereka tau hanya bersenang senang saja. Mereka belum tau cara bertahan dan bersabar, karena di usia seperti mereka ini belum waktunya mamikirkan hal semacam itu.
"Sayang, hari ini aku mau bawa bekal dari rumah saja ya, soalnya kalau beli mahal" Ujar Andra sambil mengeringkan rambutnya. Baru saja selesai mandi dan hendak bersiap kerja. Ambika tengah sibuk menyisir rambut hendak berangkat sekolah "Nggak bisa gitu dong, aku ada jadwal pagi hari ini. Kalau kamu mau bawa bekal ya udah masak saja sendiri, masih ada telor di kulkas"
Memicingkan mata "Loh kok kamu jadi gitu sih. Aku kerja buat kamu juga, tapi di suruh buatin bekal kok malah kaya gitu" Andra mulai emosi ketika Ambika menolak permintaannya.
Dengan kesal Ambika menjawab "Emang kamu kira aku nggak cepak, setiap hari di suruh masak. Kamu kira aku ini pembantu"
Plak...
Andra menamparnya keras "Kamu kira aku nggak capek kerja dari pagi sampe sore cuma demi apa? demi kamu. Lita sudah sepakat untuk bahu membahu, tapi kenapa baru gini aja kamu udah ngeluh" Ucap Andra dengan nada tinggi.
Menyentuh pipi "Kamu jahat" Ambika langsung berlari keluar kosan dengan berderai air mata.
"Arrrghhhhh...." Sontak saja Andra ngamuk bukan main. Niat hati bisa hidup bahagia tapi ternyata baru beberapa hari sudah merasa sengsara. Apa yang ia bayangkan tidak sejalan dengan kenyataan "Gue kira dengan begini hidup gue bisa bebas, seneng, bahagia. Ternyata gue kejebak sama situasi"
"Dia sudah berubah. Berani sekali dia menamparku" Ambika berlari kecil sambil menangis. Gadis se usia Ambika belum bisa terbebani dengan hal seperti itu. Jangankan masak sayur, masak telur saja kadang keasinan, kadang gosong, kadang pula hambar. Usia memang tidak mempengaruhi pola pikir seseorang. Tapi di usia remaja seperti mereka ego masih berkuasa. Mereka belum bisa mengemban tanggung jawab besar. Mereka hanya tau senang senang saja tanpa memikirkan bagaimana cara mencukupi kebutuhan hidup.
"Terpaksa hari gue harus puasa" Terpaksa hari ini Andra harus berangkat kerja tanpa makan sarapan sedikit pun. Hal ini membiatnya rindu rumah. Biasanya setiap pagi sarapan sudah tersaji tinggal ambil mau makan apa. Sekarang dia harus berjuang demi sesuap nasi. Sungguh tragis kehidupan Andra saat ini. Setelah beberapa saat kemudian, ia berangkat kerja meski dengan perut kosong.
"Anak baru itu belum pulang juga?" Tanya seorang laki laki teman kerja Andra. Dia bersama Ali. Usianya jauh lebih tua dari Andra. Dia juga sudah bekerja di bengkel itu selama hampir tiga tahun lamanya.
"Nggak tau gue bang. Kenapa tuh anak sampe jam segini belum juga datang. Mungkin motornya mogok kali" Ujar seorang lagi.
Ali berdecak kesal "Gue udah bilang sama bos nggak perlu terima anak curut itu kerja di mari, masih aja di terima. Ginikan jadinya. Kita udah kerja dsri tadi dia belum kelihatan batang hidungnya" Sambil berkacak pinggang seperti seorang bos.
__ADS_1
Salah satu rekan kerja langsung berbisik kepada temannya "Kalau bang Ali udah marah bisa bisa kita kena juga. Mending kita menjauh aja yuk" Bisiknya lalu mengajak yang lain menjauh. Ali adalah orang nomor satu yang paling di takuti. Tidak hanya tangan kanan bos besar, tapi Ali juga masih ada hubungan saudara dengan pemilik bengkel. Semua orang jadi takut padanya. Di banding dengan bos besar, peran bang Ali sendiri sangatlah dominan. Hampir semua berjalan atas perintahnya.
Tak berapa lama Andra datang. Baru memarkirkan motor, tiba tiba saja Bang Ali menghampirinya dengan raut wajah sangar "Cakep banget lo jam segini baru datang...." Ucap Bang Ali dengan nada menyendir. Melipat kedua tangan "Udah berasa bos besar aja lo"
"Maaf, bang. Tadi jalanan macet banget" Andra langsung turun dari motor sambil melepas helm.
"Halah....alasan aja terus. Coba lo lihat mereka (Menunjuk segerombolan orang tengah bekerja) datang dari jam 7 langsung kerja. Rumah mereka juga tidak dekat, tapi mereka bisa sampai lebih awal, kan? emang lo nggak bisa hindari jalanan macet? emang lo nggak bisa bangun pagi?" Ocehan Bang Ali membuat Andra emosi. Kedua tangan mengrpal erat. Ingin sekali bogemnya melayang keras tepat pada wajah bang Ali. Namun, seketika Andra tersadar kalau dia sampai di pecat pasti akan menyulitkan diri sendiri. Akhirnya Andra menelan kembali amarahnya demi tetap bertahan.
Menundukkan kepala "Maaf, bang. Lain kali gue bakal berangkat lebih awal"
"Oke, kali ini gue maafin Lo. Tapi, sekali lagi lo terlambat gue nggak bakal kasih ampun. Dan satu lagi, sebagai hukumannya hari ini lo nggak dapet jatah uang rokok"
Seketika Andra menatap Bang Ali. Bagaimana dia bisa melewati hari tanpa makanan dan tanpa sebatang rokok. "Jangan begitu dong, bang. Gue udah minta maaf loh. Oke dsh nggak apa apa gue lembur sampe malam, tapi jangan potong uang rokok ya" Baru kali ini Andra memohon kepada seseorang. Dahulu apa pun yang dia inginkan pasti langsubg bisa di dapat. Sekarang mau makan saja harus bekerja keras.
Berusaha tenang menghadapi situasi saat ini. Mau tidak mau Andra harus belajar mengendalikan amarah, sebab tidak semua hal bisa di atasi dengan emosi.
"Ngapain masih bengong, cepet ganti baju. Kerjaan udah numpuk malah bengong kaya sapi ompong" kecam bang Ali. Hati Andra langsung berasa panas. Aliran darah lengsung naik seratus delapan puluh derajat. Kedua matanya sudah memerah. Kedua tangan mulai mengepal.
"Aduh bahaya ini" Salah satu rekan kerja langsung mendekati Andra "Bro, nggak usah pikirin dia. Lebih baik jangan cari pekara sama bang Ali. Udah lo buruan ganti baju, kita masih banyak kerjaan" Lirih Bimo. Satu orang yang respeck dengan Andra. Biar pun dia sudah bekerja lebih dulu di bengkel tersebut, tapi Bimo tidak menjunjung tinggi kedudukannya. Bagi para pekerja entah lama atau baru, mereka sama sama pekerja. Sama sama di bayae dari hasil kerja keras mereka. Untuk apa bangga hanya dengan proses dan seberapa lama, yang penting hasil. Tidak penting siapa senior siapa junior, yang jelas semua sama sama kerja mencari nafkah demi sesuap nasi.
"Eh....ngomongin apa lo" Bang Ali merasa terusik sampai emosinya naik. Sobtak saja Bang Ali menghampiri mereka "Berani kalian bicara tentang gue...." Meraih krah baju belakang Bimo sampai terseret mundur sedikit "Nggak kok, bang. Kami nggak ada bicara tentang abang. Tadi gue cuma bilang sama dia cepet ganti baju, kerjaan masih banyak. Beneran bang gue nggak bohong"
Melihat Bimo ikut terseray dalam pekara, Andra pun kesal. Bagaimana bisa sama sama pekerja, sama sama cari uang, tapi sikap udah kaya bos besar saja. Seharusnya tidak seperti itu. Setiap pekerja punya hak mereka masing masing. Cara menegur yang baik tidak dengan cara kasar seperti itu. Semua bisa di bicarakan baik baik tanpa aliran emosi.
"Sudahlah, bang. Bimo nggak salah kok, dia cuma minta gue biar cepet ganti baju. Tolong lepasin dia" Pinta Andra.
__ADS_1
Mendapat kedudukan di atas yang lain tentu membuat Bang Ali bangga "Oke, kalau begitu kalian cepat kerja. Jangan banyak cincong" Melspas cengkraman lalu berjalan meninggalkan Andra dan Bimo.
"Lo nggak apa apa, bro?"
Bimo mengacungkan jempol "Gue baik baik saja. Ya sudah lo buruan ganti baju, jangan buay situasi semakin runyam"
Andra langsung berganti pakaian lalu mulai kerja dengan yang lain.
"Ambika...." Seseorang emanggil nama Ambika.
Secepatnya Ambika menutup wajah dengan memakai masker.
"Loh, kamu kenapa kok tumben pake masker?" Tanya Indah teman satu kelasnya.
"Aku nggak apa apa kok. Cuma sedikit flu aja, takut nular jadi pake masker" Dustanya sambil menunduk.
(Kayanya ada yang aneh deh sama Ambika. Ada yang dia sembunyikan) Tatapan Indah masih belum percaya alasan Ambika memakai masker.
"Tapi kok kaya abis nangis gitu. Kamu kenapa sih, bilang dong sama aku. Siapa tau aku bisa bantu" Indah sudah lama mengenal Ambika. Dia tidak hanya seperti sahabat saja tapi sudah seperti saudara perempuan.
"Aku nggak apa apa. Udah ah kita masuk kelas yuk"
"Tapi...."
"Udah nggak usah kepo deh. Mending kita buruan masuk" Ambika langsung meraih tangan Indah. Mereka pun langsung masuk dalam kelas.
__ADS_1