Suamiku Penjahat Wanita (Part 2)

Suamiku Penjahat Wanita (Part 2)
Kemarahan Berujung Pertemuan


__ADS_3

Satu minggu kemudian. Andra memboyong Ambika ke runah kontrakan yang baru saja ia kontrak. Rumah kontrakan terdebut lumayan luas, ada dua kamar tidur, satu kamar mandi, dan dapur. Teras depan rumah juga sangat luas, bisa untuk parkir dua mobil. Kenapa Andra tidak membawanya tinggal di warung? karena dia tidak mau sang istri terusik saat istirahat. Lalu kenapa Andra tidak tinggal di rumah ibu mertua? karena dia sadar seorang kepala rumah rangga kewajibannya menanggung semua keburuhan istri. Untuk beli rumah tentu tidak mungkin, jadi ia memutuskan tinggal di kontrakan saja dulu.


"Aku pulung...." Andra baru saja pulang kerja. Segera melepas jaket lalu membuka pintu perlahan "Sayang kamu di mana? tolong dong ambilkan minum, aku haus banget nih" Titah Andra sambari duduk. Di panggil dari tadi Ambika tidak nampak batang hidungnya "Kemana sih dia di panggil dari tadi nggak nyaut" Andra pun bangkit kembali lalu mencari sang istri.


Ketika Andra membuka pintu, ternyata Ambika malah sibuk main telepon genggam sambil tertawa tawa sendiri "Kamu tidak dengar aku panggil dari tadi?"


Ambika hanya melihat sekilas lalu kembali fokus ke layar ponsel "Alah kamu kan bisa ambil sendiri, Mas. Harusnya kamu ngerti dong aku itu lagi hamil besar lho, masih aja di suruh suruh"


"Setiap hari aku sudah mengerti kamu lebih dari aku ngertiin diri aku sendiri, tapi kamu nggak ada sedikit pun mau mengerti aku. Sedikit saja kamu pahami tugas seorang istri, mungkin aku tidak semarah ini sama kamu" Tatapan Andra memperlihatkan puncak emosi yang berusaha di tahan semampunya.


"Tugas suami itu mengutamakan istri bukan ego. Mana aku lagi hamil kaya gini masih saja di suruh suruh, mending sana cari pembantu biar ada yang ngurusin" Jawab Ambika santai.


Jawaban Ambika membuatnya geleng kepala. Sejak menikah sampai sekarang Ambika tidak ada tanggung jawab sama sekali sebagai seorang istri. Selalu seenaknya sendiri. Sehari dua hari Andra mempu menahan emosi, tapi ada kalanya suami lelah seharian bekerja ingin di layani istri, di perhatikan, di beri kenyaman dalam rumah, bukan malah seenak jidat sendiri.


Kehamilan bukan sebuah alasan seorang wanita tidak memenuhi tanggung jawab sebagai seorang istri, harusnya dia tau kewajiban seorang istri. Bukan malam main ponsel tiap hari tanpa henti. Siapa sih yang tidak marah dengan perilaku seperti itu? jelas tidak ada yang terima.


Saking kesal Andra meraih sebuah vas bunga depan meja rias lalu melemparnya ke lantai.


Pyar....


Vas beserta isi hancur berserakan "Aku tau kamu hamil, tapi apa susahnya sih buatin suami minum? aku ini seharian cepek kerja lho, hujan ke hujanan, panas kepanasan, tapi kamu nggak ada pengertian sama sekali sama aku. Yang kamu tau cuma belanja online, pesan makan online, semua serba online. Aku juga butuh perhatian kamu. Tau begitu mending kamu nikah saja sama pemilik perusahaan Online biar semua serba online" Ketus Andra. Ia sudah tidak dapat menahan emosi, setiap hari selalu di abaikan seperti seorang bujangan. Lalu untuk apa menikah kalau semua harus di kerjakan sendiri.


"Oh jadi kamu nggak ikhlas menikah sama aku? kamu keberatan cari nafkah buat aku?" Seketika Ambika bangkit dengan susah payah Perut buncit menghalangi segala aktivitas sehari hari, yang membuatnya malas melakukan pekerjaan rumah. Kalau Ambika mau berusaha dia masih bisa kok kalau cuma ambil minum atau sekedar beveres rumah, sayangnya dia terlalu manja dan tidak mau susah payah.


Emosi mulai memuncak, dengan mengepalkan kedua tangan dan mata melotot "Bukan masalah nafkah yang aku bahas di sini, tapi kewajiban kamu sebagai seorang istri nggaka ada sama sekali. Kalau bukan karena anak ini (Menunjuk perut Ambika) aku tidak sudi menikah sama kamu" berbalik badan lalu berjalan ke arah pintu kamar.

__ADS_1


"Oke, fine. Kita cerai"


Suara Ambika seorah menggetarkan dunia, sampai detak jantung bergemuruh kencang "Bicara apa kamu berusan?" Menatap tajam ke arah Ambika.


"Iya, aku minta cerai" Ucap Ambika memperjalas. Seketika Andra menyunggingkan senyum sinis "Oke kalau itu kemauan kamu. Akan aku kabulkan sesegera mungkin" Andra langsung menutup pintu kamar dengan keras.


"Astaga bicara apa aku ini?" Setelah Andra pergi barukah Ambika sadar bahwa ucapannya akan membawa bumerang dalam hidupnya sendiri. Di tambah lagi sekarang dia mengandung anak Andra.


"Mas Andra tunggu...." Ambika berlari mengejar Andra. Namun, Andra keburu pergi.


"Mas......" Teriak Ambika sampai para tetangga mendengarnya. Bahkan beberapa orang keluar rumah melihat apa yyang terjadi "Maafkan aku, mas. Tolong kembalilah" Berlari sambil memegangi perut berharap masih bisa mengejar sang suami.


Tinnnnnnn.....


"Mbak ini bagaimana sih udah tau hamil gede malah lari larian di tengah jalan, bagaimana tadi kalau anda tertabrak sama mobil saya? bisa apes saya nanti" Ketus seorang lelaki paruh baya yang baru saja keluar dari mobil.


Dengan berlinang air mata Ambika menjawab "Maaf, maafkan aku, pak" hanya kata maaf yang mampu terucap, dan tiba tiba saja Ambika merasa perutnya sakit "Aw....sakit" Suasana tegang langsung mencair dengan kejadian depan mata mereka. Semua orang langsung panik melihat Ambika mengeluh kesakita "Tolong, sakit, sakit, pak. Selamatkan anakku"


Kejadian itu menyita banyak simpati earga sekitar, sampai mereka langsung berbindong bondong membantu Ambika menepi lalu membawanya ke rumah sakit terdekat.


Beberapa saat kemudian, Andra duduk di pinggir jalan sambil sesekali mengacak rambut "Arghhhhhh....gue kira menikah jalan terbaik, nayatanya malah bikin tambah runyam" Semua teejafi bukan salah takdir Tuhan, tapi salah manusianya sendiri. Menciptakan Takdir dari sebuah kekeliruan yang berujung penderitaan.


"Loh itu Andra, kan?" Seorang wanita mengendarai motor melihat Andra terduduk sendiri dengan wajah mawut "Mending aku samperin saja sekalian ngucapin selamat" Ia menepikan motir lalu menghampiri Andra.


"Andra...." Ucap Anggi lembut.

__ADS_1


Andra tadinya menunduk langsung menatapnya "Anggi?" Betapa terkejutny Andra saat melihat Anggi berdiri tegak di hadapannya "Kok kamu bisa sampai di sini? kamu sama siapa?" Clingak clinguk melihat siapa tau Anggi ada teman.


"Aku sendirian mau ke rumah teman. Kalau kamu sendiri ngapain duduk di sini? lagi ada masalah ya?" Meski sampai sekarang Anggi tidak bisa membohongi diri bahwa dia masih mencintai Andra seorang.


"Oh...."


Tatapan sayu Andra menjelaskan kesedihan mendalam yang mana tidak bisa terucap.


Tiba tiba saja Anggi mengulurkan tangan. Andra menatap heran padanya "Maksudnya?"


Anggi tersenyum "Selamat buat pernikahan kamu. Semoga menjadi keluarga sakinah, mawadah, dan warohmah. Aku doakan langgeng terus sampai maut memisahkan" Hampir saja ia tidak bisa mengendalikan rasa sakit, tapi dengan senyum rasa skait tak begitu terlihat.


Andra ragu ketika menjabat tangan Anggi. Dari turur kata Anggi jelas kalau dia belum sepenuhnya mengiklaskan Andra pergi dari hidupnya.


"Kalau begitu aku peegi dulu ya" Buru buru Anggi berbalik badan sambil menyeka air mata "Semoga bahagia selalu" Baru saja mau pergi, Andra sudah merauh tangan Anggi "Tunggu...." Kemudian Anggi berbalik arah lagi berhadapan langsung dengan Andra. Sisa air mata di pipi Anggi membuat Andra langsung menyeka air mata itu "Maafkan aku, Anggi. Selama ini aku sudah banyak nyakitin kamu, minta hal yang bukan bukan dari kamu. Sungguh aku sangat menyesalinya" Dari tatapan mereka terlihat jelas kalau di antara mereka masih menaruh cinta satu sama lain. Namun, terhalang oleh dinding pemisah.


Tiba tiba saja Anggi langsung memeluk Andra "Jujur aku sangat merindukan kamu. Tapi, semua tidak lagi berguna, kisah kita cujup sampai di saat itu saja."


Perasaan bersalah berkecamuk dalam hati mereka berdua, tapi apa bisa di kata kalau kisah cinta mereka kalah dengan nasib sebuah kisah.


"Hey (Menyentuh kedua pipi)....biar pun kisah kita berakhir tapi kenangan kita masih abadi di hati ini. Sampai kapan pun kamu adalah wanita paling istimewa dalam hidupku. Semua karena salahku pada waktu itu, yang tidak melihat wanita sebaik kamu. Maaf karena cintaku kalah dengan hawa nafsu. Maafkan aku" mendekatkan wajah sampai kening mereka menempel "Tapi aku yakin orang sebaik kamu akan mendapatkan jodoh terbaik. Maaf, jika aku banyak menyakiti hati kamu. Tapi asal kamu tau aku masih sangat mencintai kamu, Anggi"


Air mata kembali berderai ketika Andra mengungkap isi hati "Sekarang sudah bukan waktunya tentang cinta kita lagi, meski kita tidak bisa saling memiliki, setidaknya kita masih bisa jadi sahabat"


Andra mengangguk sambil terus menatap sendu wajah haru Anggi saat ini.

__ADS_1


__ADS_2