Suamiku Penjahat Wanita (Part 2)

Suamiku Penjahat Wanita (Part 2)
Kesaksian Anggi


__ADS_3

Hampir setiap hari Nara selalu mencari keberadaan Andra, tapi sampai sekerang belum ketemu juga. Semua temannyajuga tidak tau keberadaan Andra sekarang, bahkan pihak sekolah sempat mendatangi rumah, di karenakan Andra sudah hampir dua bulan tidak masuk sekolah. Perasaan berkecamuk membebani pikiran Nara. Setiap waktu lantunan doa selalu terpanjat darinya. Harapan terbesar saat ini adalah melihat Andra kembali pulang dengan selamat. Tidak ada orang tua secara sadar menyakiti perasaan anak anak mereka. Semua terjadi akibat dari kemarahan sejenak yang mengakibatkan seorang anak gagal faham.


"Haruskah mas Bagus tau tentang ini? rasanya aku sudah menyerah" Dengan berlinang air mata ia menggenggam ponsel. Ada kala ingin meminta bantuan kepada mantan suami tersebut, tapi kemudian terhenti ketika sesaat perasaan kesal dan marah kembali membuatnya terluka "Tidak! aku tidak boleh minta bantuan darinya" Mengurungkan niat dalam hati.


"Kenapa tiba tiba aku kepikiran sama Andra..." terlintas sejenak rasa rindu kepada sang putra. Sudah berbulan bulan tidak bertemu membuat Bagus kepikiran bagaimana kondisi Andra saat ini.


Jono melihat kegelisahan di wajah Bagus "Kenapa, bro? kelihatan kaya mikirin sesuatu gitu" Tanya Jono. Sambil mengusap keringat ia duduk di samping Bagus. Mereka baru saja istirahat setelah proses kerja yang panjang. Bagus dan Jono bekerja sebagai kuli di sebuah pabrik gula.


"Gue kepikiran sama anak gue, Jon. Udah lama nggak ketemu, bahkan nggak ada komonikasi anatara kita" Dari nada bicara Bagus terdengar jelas ada kerinduan dan rasa bersalah yang besar. Saat ini Bagus baru sadar bahwa tidak mudah menjalani hukum karma dari segala perbuatannya. Ketika dia sedang jatuh ternyata para wanita yang dulu menjadi primadono, sekarang acuh padanya. Mereka tak lagi perduli bahkan ketika berpapasan sekali pun seperti orang asing. Kemana mereka yang selalu menempel kala itu? apakah mereka ada di saat Bagus tidak berdaya? apakah mereka merawat Bagus sampai sembuh? Oh, jelas Tidak! Mana ada kupu kupu hinggap pada bunga kering. Pasti dia akan mencari bunga mekar lalu meninggalkan si bunga kering.


Yang terlihat indah belum tentu memberikan kenyamanan. Benar kata pepatah, burung terbang tidak menjanjikan kepemilikan.


Menepuk pundak Bagus "Kalau lo kangen sama Andra, samperin aja dia. Lo masih punya hak untuk itu. Sekalian kan udah lama juga lo nggak nengok mantan bini lo itu, pasti rindu juga kan?" Menyenggol bahu Bagus mencoba menggodanya.

__ADS_1


"Apaan sih lo, Jon"


Jono tertawa "Hahahaha....ngaku aja deh, lo kangen juga kan sama Nara? hayo ngaku nggak lo"


"Nggak perlu gue jawab pasti lo udah tau jawabannya" Bagus segera bangkit lalu pergi mengambil bekal makan siangnya.


"Aduh panase pol...." Eca baru saja keluar dari pasar. Sambil menenteng belanjaan ia mengipas ipaskan tangan. Hari yang sangat terik. Buliran keringat membasahi badan dengan sengatan mentari mengenai kulit. Kendaraan berlalu lalang menambah polusi udara siang itu. Langkah gontai perlahan terhenti "Ini pasar rasanya jauh banget yak" Jarak warung ke pasar tidak terlalu jauh hanya sekitar lima puluh meter saja. Tapi Eca sudah mengeluh.


Suatu ketika tepat di depan warung Eca melihat sosok gadis memakai seragam putih abu abu, ia tengah berhenti sesaat melihat ke arah warung. Dari kejauhan Eca merasa tidak asing dengan gadis itu. Ia langsung mempercepat langkah, hendak menghampiri gadis tersebut. Kebetulan Eca baru saja pulang dari pasar "Semoga dia tau keberadaan Mas Andra" Lirihnya sembari mempercepat langkah.


Anggi langsung mematikan motor, kemudian turun dari motor "Boleh mbak" Mereka menepi dan bicara sejenak.


"Kalau tidak salah kamu itu Anggi ya, teman dekat mas Andra?" Tanya Eca.

__ADS_1


Si gadis cantik itu pun mengangguk dengan memaksakan senyum "Iya, banar mbak. Aku Anggi teman sekelas Andra"


"Mas Andra banyak cerita tentang kamu. Kalau kamu tau sesuatu tentang mas Andra, atau keberadaan Mas Andra sekarang, tolong kasih tau saya sekarang juga. Kasihan ibuk mencarinya kemana mana. Semua teman sudah kami tanyai tetap saja mereka tidak tau keberadaannya" Meraih tangan Anggi sambil berharap Anggi tau keberadaan Andra.


Wajah Anggi seketika menunduk lesu. Terdiam tanpa kata. Dia juga marasa sangat kehilangan sang pacar. Setelah berdebatan kecilnya waktu itu, tidak ada lagi kabar dari Andra. Beberapa bulan lalu, bertepatan dengan hari ulang tahun Andra. Sebuah pertengkaran kecil memicu renggangnya hubungan mereka. Saat itu Andra meminta sebuah hadiah, yang mana Anggi tidak bisa mengabulkan. Andra meminta hal paling tidak masuk akal. Tentu saja Anggi menolaknya. Sejak saat itu mereka tidak lagi saling berhubungan. Bahkan tidak lagi saling bertukar kabar. Tidak ada kata putus antara mereka namun jarak sudah membuat mereka menjauh secara perlahan. Meski begitu tidak bisa di pungkuri cinta Anggi masih sangat besar untuk Andra. Setiap saat ia selalu menanti permintaan maaf dari sang kekasih. Dengan begitu ia akan memberi kesempatan kedua pada Andra.


"Kamu kenapa?" Tanya Eca lagi. Melihat Anggi tertunduk lesu, membuatnya mengira ira (Jangan jangan dia juga tidak tau keberadaan Mas Andra, atau telah terjadi hal buruk pada mas Andra?) Pikiran di penuhi banyak pertanyaan. Entah kapan semua akan terjawab yang pasti cepat atau lambat semua akan terungkap.


"Mbak...." menatap Eca dengan mata berkaca kaca "Jujur aku tidak tau di mana dia berada. Sudah hampir dua bulan dia menghilang tanpa kabar. Berhari hari ku coba mencarinya di berbagai tempat yang sering kami kunjungi bersama, tapi dia tidak ada di sana. Aku juga sudah tanya ke semua temannya tapi tidak ada satu pun yang melihat Andra. Mereka bilang sudah sejak dua bulan lalu tidak lagi kumpul dengan Andra. Aku takut terjadi sesuatu sama dia, mbak. Aku nggak bisa " Anggi tak kuasa menahan perih sampai ia menangis sesenggukan. Anggi adalah gadis baik. Tidak hanya punya wajah cantik tapi hatinya juga murni.


Segera Eca mengusap lengan Anggi, berupaya menenangkan hatinya "Kalau boleh tau apa sebelumnya kalian ada masalah? atau maaf ni yah, apa kalian putus?"


Pertanyaan Eca membuat Anggi terdiam sesaat. Sampai akhirnya ia menggeleng kepala "Tidak, mbak. Kami tidak ada bertengkar sama sekali. Bahkan sebelumnya kita masih baik baik saja. Tapi, entah kenapa tiba tiba dia menghilang tanpa kabar." Dusta Anggi. Biarlah semua masalah hanya diri sendiri yang tau.

__ADS_1


Teman paling setia adalah diri sendiri. Tempat curhat paling aman adalah diri kita sendiri. Yang paling mengerti seberapa sakitnya kita ya hanya diri kita sendiri. Jadi, jangan gantungkan kepercayaan kepada sesama manusia. Gantungkan semua hanya pada Tuhan dan diri kita sendiri. Terkadang manusia ada kalanya di fase marah. Dan jika sudah seperti itu bisa jadi rahasia yang lain terbongkar, yang rugi kita sendiri. Tidak usah menghiba kepada sesama manusia. Belum tentu di muka terlihat baik di belakang akan baik baik saja. Cukup kita sendiri dan Tuhan yang tau semua. Yang lain hanya bisa menilai tanpa merasakan.


__ADS_2