Suamiku Penjahat Wanita (Part 2)

Suamiku Penjahat Wanita (Part 2)
Cibiran Tetangga


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, pernikahan keduamya di langsungan dengan menghadirkan beberapa saksi juga keluarga besar kedua mempelai. Pernikahan tertutup hanya di hadiri beberapa orang tetangga dekat saja. Pernikahan berlasung di kediaman sang mempelai perempuan. Tentunya banyak mulut tetangga komat kamit membicarakan pernikahan mereka.


"Eh jeng(Mencoel tetangga sebelehnya)...... lihat deh perutnya udah segede gentong gitu, bentar lagi orok keluar tuh" Bisik salah satu tetangga yang menghadiri acara pernikahan tersebut. Tidak hanya menjadi bahan gunjingan warga, bahka pihak kelurga ikut menanggung malu.


"Saya saja tidak menyengka lho jeng masa anak sekecil itu tiba tiba pukang ke rumah, eh sudah hamil gede. Menurut saya itu salah orang tuanya. Udah tau punya anak gadis, kok boleh tingggal di kosan, mentang mentang orang kaya. Itulah akibatnya jadi kebablasan" Sambung tetangga lain.


"Ehem...." Seorang wanita paruh baya berdehem mendengar cibiran para tetangga.


"Tolong ya ibu ibu jangan ngegosib di acara saya. Kalau kalian datang hanta untuk mencibir anak saya, belih baik kalian tidak usah datang" Ketus ibunda Ambika. Bagi siapa saja akan berlaku sama jika ada seseorang menghina anaknya. Bagi seorang ibu sehina apa pun seoranga anak tetaplah ratu dalam hati mereka. Dalam sesaat rasa kecewa pasti ada, namun tidak lantas membuat seorang ibu membenci anaknya sendiri. Bahkan andai bisa ingin dia tutup semua mulut di luar sana demi melindungi sang anak.

__ADS_1


"Lho kita kan bicara apa adanya. Kita nggak lagi bicara omong kosong lho, buk. Kalau nggak mau di omongin tetangga mending nggak usah ngundang kita" Dengan berabi salah satu tetangga membantah ucapan Ibu Ambika. Ada total tiga wanita paruh baya ikut keluar bersama tukang gosip.


"Mau nyangkal seperti apa juga nggak ngaruh kali, emang anaknya udah hamidun duluan pake nggak terima. Dih nggak jelas tuh orang" Cibiran orang semakin menjadi jadi. Sekarang cibiran tidak hanya di belakang orangnya tapi juga langsung depan mata.


"Kalian ini....." Beliau hampir lepas kendali, tapi melihat keluarga besan telah datang, membuat beliau menghentikan niatnya.


"Untung besannya orang kaya coba aja kalau orang miskin, pasti dia nggak bakal senyam senyum kaya gitu" Sambil jalan melewati rombongan Besan, para tentangga masih meninggalkan cibiran. Keluarga Ambika sendiri terkenal julid kepada sesama tetangga, maka dari itu banyak pula tetangga yang julid terhadap mereka.


Lain kali jangan suka mengusik kehidupan orang lain kalau tak mau kehidupanmu terusik. Biarlah mata melihat tanpa mulut berbicara. Jauh lebih baik diam dari pada berbicara yang keasliannya tidak kita ketahui. Jagalah lisanmu dari perangi dosa duniawi. Sebab tajamnya pisau tak mampu menandingi tajamnya lidahmu. Mencari keburukan orang demi mendapat simpati dari sesama, tentu tidak menguntungkan sama sekali. Dari pada kita punya mata, mulut, dan telinga, untuk menilai orang lain alangkah baik kita perbaiki diri sendiri. Jadilah kaca untum diri sendiri dari pada harus menjadi kaca untuk orang lain.

__ADS_1


"Hih....emang dasar cari muka" Sambung tetangga lain.


Samar samar Nara mendengar cibiran tetangga sekitar. Ia pun berpikir mungkin selama ini ibunda Ambika tidak pernah akur sesama tetangga.


(Kenapa mereka mengatai beliau? apakah mungkin selama ini beliau punya citra buruk di masyarakat)


"Mari silahkan duduk, sebentar lagi ijab kobul terlaksana" Pinta ibu besan.


Tak berapa lama semua orang telah duduk menghadap sepasang pengantin.

__ADS_1


__ADS_2