
"Sekarang apa yang ingin lo lakuin?" tanya Lola membuka suara setelah beberapa saat mereka terdiam.
Saat ini kedua gadis itu berada di taman belakang sekolah. Sejak kejadian tadi membuat mood Kheyrin turun. Dan sekarang mereka tengah bolos, tidak bolos sebenarnya karena kelas mereka sedang jamkos. Entahlah sepertinya keberuntungan ada di pihak Kheyrin kali ini.
Bunga tidak bersama dengan mereka karena kelas gadis itu sedang belajar dan yang mengajar adalah guru yang terkenal killer. Membuat Bunga ragu untuk bolos, jadi hanya mereka berdua yang ada di taman ini.
Kheyrin menghembuskan nafas kasar, "gue juga bingung. Segala rencana gue untuk hidup tenang sekarang malah gagal total."
"Apa gue harus bales si Tika?"
"Gak usah, ini masalah gue. Nanti kalo gue butuh bantuan gue bakal bilang sama lo dan Bunga."
Lola mengangguk mengerti. "Lo bakal bales Tika gimana?"
"Kita lihat aja nanti."
"Maksud lo?"
"Gue bakal bertindak jika itu sudah sangat menganggu."
________
"El!"
"Ishh Elio!"
"Hos...hos..huhu,, gue manggil lo El!" ujar Kheyrin ngosngosan. Capek juga lari dari keridor ke arah parkiran.
"Kenapa Khey?" kata Axelio, cowok berkacamata bulat itu menatap Kheyrin lembut.
Kheyrin mengerucutkan bibirnya, "Gua manggil lo tapi lo nya gak denger."
"Ehh maaf, gue lagi sibuk lihat ponsel."
"Emang apa sih yang lo lihat sampe gak denger suara gue?" kepo Kheyrin.
"Enggak bukan apa-apa hanya tugas kelompok dari guru."
Kheyrin berdecak, "gue kira lo lagi chat sama pacar lo!"
Axelio tertawa pelan, "gue gak punya pacar Khey."
"Ohh yaudah jadi pacar gue aja."
"Ehh?"
__ADS_1
"Bercanda El." cengir Kheyrin.
Axelio mengaruk kepalanya tak gatal, "ohhiya kenapa lo manggil gue?"
"Hehe, gue nebeng yaa" pinta Kheyrin penuh harap.
"Bukannya lo pulang bare--"
"Gak, gue udah nyuruh mereka pulang duluan. Jadi sekarang bisa kan gue nebeng sama lo?"
"Yaudah ayo. Ehh tapi gue gak bawa helm?"
"Gapapa gue punya helm kok." Kheyrin mengangat tanganya yang memegang helm yang belum lama ia beli lewat aplikasi online. Ya, seniat itu dirinya ingin pulang dengan Axelio.
Kheyrin tersenyum senang dan duduk di jok belakang motor matic Axelio. Motor itu melaju pelan meninggalkan pekarangan sekolah.
"El nama lo emang cuma Axelio doang?" tanya Kheyrin sedikit keras karena suara kendaraan lain cukup bising.
"Gak, nama gue bukan Axelio aja."
"Ohh, kirain nama lo cuma satu."
"Lo gak pengen tahu nama gue yang satu lagi?"
"Gak, gue tau itu pasti privasi. Secara nama lo kan di sekolah hanya Axelio jadi gue rasa itu mungkin privasi?"
__________
PLAAKKK
Jika hari itu Kheyrin di beri pertanyaan sekarang yang ia dapat sebuah tamparan.
Kheyrin mengusap pipinya, berdecih pelan.
"KHEYRIN KAMU ITU EMANG GAK BISA DI BILANGIN YAA!"
"Apa lagi kali ini ma!" ujar Kheyrin malas.
"Kamu kenapa tega banget sama Tika? Dia itu saudara kamu Khey!" geram Rina.
"Tega gimana sih maksud mama?"
"Kenapa kamu edit foto gak jelas itu, kamu tahu kan foto itu pasti akan buat orang-orang berpikiran buruk sama Tika."
"Udahlah Khey gak mau bahas itu!" decak Kheyrin.
__ADS_1
"Minta maaf sama Tika sekarang!"
"Gak, itu bukan salah aku. Ngapain aku harus minta maaf." tolak Kheyrin mentah-mentah.
"Mama gak pernah ajarin kamu kaya gini Khey!"
"Oke!" kali ini Kheyrin menuruti, ia hanya malas jika masalah ini tak kunjung kelar.
Kheyrin diam mengikuti langkah Rina yang berjalan ke arah ruang tamu. Matanya melihat seorang gadis yang duduk dengan menundukkan kepalanya.
"Tika sayang." panggil Rina lembut.
Tika mendongak, "Iya ma?"
"Ini ada yang mau Kheyrin omongin."
Kheyrin berjalan mendekat menatap tenang ke arah Tika yang terlihat menahan senyum.
Tika berdiri, "kamu gak usah minta maaf Khey, aku tahu ini pasti bukan salah kamu. Ini pasti ada orang yang sudah nuduh kamu." ujarnya tenang.
Rina yang melihat itu terharu. Wanita paruh baya itu menatap teduh Tika yang tetap membela Kheyrin walau gadis itu sudah menyakitinya.
Ingin sekali Kheyrin berkata 'Iya lo yang udah nuduh gue'. Tapi yang keluar malah... "Udah ngocehnya?"
Rina dan Tika menatap Kheyrin heran.
PLAAKKKK
"Hadiah permintaan maaf dari gue." kheyrin tersenyum manis yang kalo di lihat lebih teliti itu adalah senyum mengejek.
"KHEYRIN!" pekik Rina kaget.
Mata Tika mulai berkaca-kaca. "K-kamu kenapa nampar aku?"
Tika memang suka memakai Aku-Kamu jika berada di rumah. Tak heran lagi mungkin itu hanya pencitraan.
"KAMU APA-APAAN SIH KHEY!"
"Jangan mikir gue akan minta maaf, gue gak sebaik itu. Dan buat lo Tika gue harap setelah ini lo bakal baik-baik aja." Kheyrin tersenyum begitu manis.
"Maksud kamu apa Khey?" Tika menatap Kheyrin bingung. Entah mengapa beberapa hari ini perkataan Kheyrin selalu membingungkan.
"Ego dan manusia memang tidak mudah di pisahkan. Karena itu kejujuran selalu tertutupi dan terkadang perbuatan baik kita tak ada artinya."
"H-hah?"
__ADS_1
"Manusia terkadang sangat suka lupa diri..."