
"Pindah aja lah!" dengus Kheyrin.
"Kenapa sih Khey?" Bunga menatap Kheyrin bingung.
Kheyrin berdecak kesal, "ngapain kita duduk di sini!"
"Sekali-kali lah Khey." ucap Lola.
"Tapi gak usah duduk sama mereka juga." Kheyrin memutar bola matanya malas. Menatap jengah sepasang kekasih yang saling suap-suapan dan itu tepat di depannya.
"Lagian mereka juga gak masalah, iya kan Sena?" timpal Bunga.
Sena mengangguk setuju, "Iya gapapa kok, kita gak keberatan. Malah bagus jadi rame."
"Tapi gue yang keberatan." sambung Kheyrin sebal.
"Udah Khey hanya untuk kali ini." kata Axelio menenangkan.
Kheyrin menoleh ke sampingnya, memberikan senyum manis yang sedikit di paksakan. "Oke-oke gue ngalah, kita duduk di sini."
Axelio mengelus puncak kepala Kheyrin, "jangan marah."
Kheyrin tersenyem tipis, "iya-iya gue gak marah kok."
"Lo kalo sih Axel aja di dengerin." dengus Bunga.
Kheyrin berdecak, "maap-maap, yaudah lanjutin makan lagi gih."
__ADS_1
Mereka berempat duduk bersama dengan Sena dan kedua pasangan baru. Siapa lagi kalo bukan Tika dan Kevan.
Jujur saja Kheyrin tak masalah duduk dengan mereka. Tapi kenapa ia harus duduk berhadapan sama sih Tika dan Kevan. Mana si Tika sesekali meliriknya dengan ekspresi mengejek, seakan berkata 'gimana panas kan lo!'
Rasanya Kheyrin ingin meludahi gadis itu. Cih, muka songongnya ingin Kheyrin cakar. Tidak ada yang melihat ekspresi gadis itu karena semua sibuk makan. Salah ia sendiri yang hanya memesan pisang dan cemilan jadi cepat habis.
Panji dan Arka tidak ada, makanya mereka bisa gabung dengan Tika dkk. Bukan kerena Panji atau Arka tidak setuju jika mereka gabung, tapi karena jika ada mereka berdua maka tempat itu tidak akan cukup buat mereka berempat. Kedua lelaki itu mungkin berada di ruang osis, mengingat mereka berdua adalah pengurus osis.
Mereka bertujuh duduk dengan Kheyrin yang ada di antara Axelio dan Bunga. Disebalah Bunga ada Sena dan di sebalah Sena ada Kevan. Di samping Axelio ada Lola dan di sebalah Lola ada Tika dan sudah pasti di samping Tika si Kevan.
Jika saja masih ada meja kosong sudah pasti Kheyrin tidak akan duduk disini. Sedikit muak jika harus menatap Tika lama-lama. Jika saja waktu itu Tika tak mencari masalah sudah pasti ia tak akan membenci gadis itu.
Tika yang sudah selesai makan tak sengaja melirik Kheyrin yang sedang melamun dan manatap Kevan?
Tika menatap Kheyrin tajam dan berdecih dalam hati. "Katanya gak suka tapi tetap aja natap Kevan diam-diam."-batinnya.
"Kenapa lo manggil gue?"
"Duduk dulu lah." Kheyrin menepuk pelan bangku kosong di sampingnya.
Melihat tak ada respon, Kheyrin dengan sedikit kasar menarik lelaki itu duduk di sampingnya.
"Apa yang mau lo omongin?"
"Seharusnya lo udah tahu.."
"Kalo gue tahu, gue gak akan kesini!"
__ADS_1
Kheyrin terkekeh, " ya, karena itu gue manggil lo."
"Gimana hubungan lo sama dia?"
"Baik-baik aja."
"Yakin?"
"Hm."
"Tapi yang gue lihat gak baik."
Lelaki itu mengerutkan alis, bingung. "Maksud lo?"
"Emang siapa yang lo pikir?" Kheyrin tertawa kecil.
Lelaki itu menatap Kheyrin dingin, "gue gak paham siapa yang lo maksud."
"Lo pikir gue gak tahu..."
"Lo..."
"Putusin Tika... Kevan."
Deg
Di belakang mereka ada Tika yang tak sengaja lewat dan mendengar kalimat terakhir itu. Tika mengepalkan tangannya menatap Kheyrin benci. Dengan emosi Tika berjalan ke arah mereka berdua.
__ADS_1
"MAKSUD LO APA KHEY!"