
Seperti hari sebelumnya, Kheyrin masih berangkat pagi-pagi sekali ke sekolah. Ia tak peduli di bilang menghindar, toh ia sudah terbiasa tidak sarapan dengan mereka.
Alasannya sudah pasti karena ada Tika, itu yang membuat Kheyrin asli jarang sekali sarapan dengan mereka.
Kheyrin berjalan santai di koridor sekolah yang lengang. Matanya terus menatap layar ponsel, tidak takut menabrak seseorang karena suasana sekolah yang masih sepi.
Bruukkk
"Aduh bokong seksi gue." pekik Kheyrin yang terduduk di atas lantai.
Sepertinya dugaannya salah, baru juga di pikirin ehh udah kejadian aja. Kheyrin yakin yang ia tabrak bukan tembok. Tapi rasanya keras, apa jangan-jangan ia menabrak dada bidang seseorang?
Kheyrin melihat ulurun tangan di depannya dan mengambilnya tanpa melihat wajah orang itu.
Saat sudah berdiri, ia melihat tingginya hanya sebatas dada cowok itu. Kan benar ia menabrak dada bidang...
Kheyrin mendongak, "E-elio?"
"Lo gapapa?" tanya Axelio dengan tatapan khawatir.
"Hehe gapapa, tenang aja." cengir Kheyrin. Sakit sebenarnya tapi sudahlah ia harus tetap happy kiyowo.
"Maaf yaa Khey." Axelio menatapnya tak enak.
Kheyrin mengangguk, "udah gapapa ini juga salah gue gak lihat jalan."
Axelio menghela nafas lega. "Kalo gitu gue pergi dulu."
"Ehh mau kemana?"
"Gue mau nyari buku di perpus."
"Gue ikut boleh?"
Axelio mengangguk, mereka berdua berjalan beriringan. Sepanjang jalan hanya ada keheningan. Tak lama mereka sampai di perpustakaan.
Kheyrin menatap Axelio yang sedang sibuk mencari buku. Entah buku apa yang di cari lelaki itu. Kheyrin tetap jalan mengekor di belakang lelaki itu.
"Ehh udah?" tanya Kheyrin begitu melihat Axelio yang sudah memegang satu buku di tangannya.
"Iya, mau langsung pergi atau masih mau di sini?"
"Di sini aja lagian juga bel masuk masih lama."
Axelio mengangguk. Mereka berdua berjalan dan duduk berhadapan di dekat jendela.
"Gue mau nanya boleh?" ujar Axelio ragu.
Kheyrin mengangat alisnya, heran. "Bolahlah, gak ada yang larang juga."
"Lo kenapa mau deket-deket sama gue? Bukannya--"
"Soal itu hanya rumor dan gue deketin lo karena nyaman aja walau kita baru kenal, gak ada maksud buruk. Gue cuma hanya ingin berteman aja." sela Kheyrin yang sudah tahu pikiran lelaki itu.
Axelio meringis, sepertinya Kheyrin tahu maksud dia. "Lo yakin mau temenan sama anak culun kaya gue?"
Kheyrin mengangguk mantap, "iya Elio, gue mau temenan sama lo. Tapi.. kalo lo gak mau gue juga gak akan maksa."
__ADS_1
"Gue mau kok." ucap Axelio cepat tak ingin membuat gadis itu berpikiran yang tidak-tidak.
Kheyrin tersenyum, "makasih udah mau temenan sama gue."
"Gak, harusnya gue yang bilang makasih karena lo satu-satunya orang yang mau temenan sama anak culun kaya gue." jelas Axelio dengan senyuman tulus, di balas senyuman manis Kheyrin.
"Ohh iya, nanti di kantin makan bareng gue yaa." ajak Kheyrin.
Axelio mengangguk seraya tersenyum.
__________
"Lo nyari siapa si Khey, gue lihat-lihat lo terus natap ke arah pintu kantin." dengus Bunga.
Kheyrin tak menjawab, matanya tetap menatap pintu kantin.
"Siapa sih yang lo tunggu." Lagi, tak ada jawaban dari Kheyrin membuat Lola berdecak.
"EL!" teriakan itu membuat murid-murid menatap ke arah Kheyrin tapi tak berlangsung lama karena mereka kembali ke aktivitas masing-masing.
"El siapa sih?" bingung Lola.
"Iya, siapa El?" tanya Bunga.
"Nanti juga kalian tahu." jawab Kheyrin acuh tak acuh.
"Maaf Khey, nunggu lama yaa?" suara itu mengalihkan atensi mereka bertiga.
"Hehe sedikit, tapi gapapa gua tahu lo pasti sibuk kan?"
"I-iya, sekali lagi maaf gue gak enak buat lo nunggu lama."
Kheyrin menarik pelan lengan Axelio dan membuat lelaki itu terduduk di sampingnya.
Lola dan Bunga melongo, "ini yang lo tunggu?" ujar mereka berdua serempak.
"Iya dong."
"Terus siapa El? Ini kan Axel." bingung Lola. Wajar saja ia bingung Axelio itu di kenal dengan nama Axel atau Axelio.
"Lho namanya kan Axelio jadi gak ada salahnya gue manggil El." sahut Kheyrin santai.
"Gak, gue yang salah." dengus Lola.
Bunga menatap Kheyrin tak percaya, "Lo berdua pacaran?"
"Gue..." Kheyrin mengangat satu alisnya, telunjuknya menunjuk dirinya dan Axelio, "sama Elio itu cuma temanan."
"Lah tadi manggilnya El sekarang Elio." heran Bunga.
"Terserah gue dong, Elio juga gak masalah." sahut Kheyrin santai.
"Bener itu Xel?" Lola menatap Axel meminta jawaban dari lelaki itu.
"Iya, gue gak masalah. Senyaman Khey aja mau manggil nama gue gimana." ucap Axelio tanpa menatap lawan bicara karena sibuk menguyah makanan.
Lola dan Bunga saling pandang. Heran dengan kedua sejoli itu yang sudah asik makan. Sejak kapan mereka berdua dekat?, itu yang ada di pikiran kedua gadis itu.
__ADS_1
"Axel gue mau nanya deh." ujar Bunga. Ia sudah sangat ingin menanyakan hal ini dan mendengarnya langsung dari orangnya.
"Nanya apa?" Axelio menatap Bunga yang menatapnya penasaran.
"Bener ya lo--"
BRAAKKK
Kheyrin mendelik, menatap Tika si pelaku yang mengebrak mejanya. Sedangkan Tika, gadis itu sudah menatap Kheyrin marah.
Kheyrin berdiri menatap gadis itu datar. Jangan lupa dengan para pawangnya dan juga sahabatnya yang berdiri di belakang gadis itu.
"Maksud lo apa? Ganggu waktu makan gue aja." Kheyrin berujar dengan santai. Menahan segala umpatan yang ingin ia keluarkan.
Tika melempar foto di atas meja membuat Kheyrin menatap bingung. Itu adalah foto Tika yang sedang bercumbu mesra dengan seorang lelaki yang kelihatan sedikit tua. Lalu apa hubungan foto itu dengan dirinya?
"Lo kan yang udah ngirim foto itu?"
Kheyrin mengangat satu alisnya, terkekeh pelan. "Atas dasar apa lo nuduh gue?"
"Lo--"
"Ternyata lo tetap gadis bodoh! Gue udah bilang kan gak mau berurusan lagi sama lo. Tapi apa ini? Lo sendiri datang dan nuduh-nuduh hal yang gak jelas." decak Kheyrin.
"Gue gak percaya omongan lo! Karena gue tahu cuma lo yang paling benci sama gue!" desis Tika.
Kheyrin terbahak, "Lo lucu deh, selalu kata itu lagi. Kalo itu ulah gue, gue gak mau pake cara rendahan kaya gitu, terlalu pasaran. Semua orang yang lihat juga pasti akan tahu itu foto editan."
"Terus siapa lagi kalo bukan lo!" geram Tika.
"Nanya gue? Harusnya lo nanya sama diri lo!" dengus Kheyrin.
"KHEYRIN!"
"udah mulai berani yaa sama gue?" Kheyrin menutup mulutnya dengan tanganya. Kaget, lebih tepat pura-pura kaget.
"Emang sejak kapan gue gak berani sama lo!" desis Tika pelan.
Kheyrin terkekek kecil, "Ehh iya, lo kan selalu berani saat gue... bully."
Raut muka Tika terlihat menegang tapi dengan cepat berubah menjadi tenang. "Gue gak ngerti maksud lo yang itu. Yang buat gue sampe nyamperin lo kesini itu karena perbuatan lo udah melewati batas."
"Bener yang di bilang Tika, foto editan itu bisa buat akan salah paham dan nama Tika akan jadi buruk." cibir Arka.
"Arka, gue saranin lebih baik lo diam!" ucap Kheyrin datar.
"Bener kok yang di bilang Arka!" desis Kevan menatap Kheyrin tajam. Lelaki yang sedari tadi diam itu mulai mengangat suaranya.
"Udah-udah, kita omongin ini dengan kepala dingin." kata Panji.
Sena mengangguk setuju dengan ucapan Panji. "Iya, semua bisa di bicarakan dengan baik-baik."
"Gue gak butuh pendapat kalian."
Bunga dan Lola tertawa mengejek. Ucapan Kheyrin itu benar, mereka yang notaben sahabat Kheyrin saja tak ikut campur. Selagi masih bisa Kheyrin selesaikan mereka hanyadiam dan akan membantu jika suasana sudah tak terkontrol.
"Gue akui Tika, gue benci banget sama lo dan itu fakta. Tapi masalah kali ini bukan karena gue! Gue kira lo ngerti sama ucapan gue waktu itu, tapi ternyata lo tetap bodoh!" dengus Kheyrin.
__ADS_1
"Gue yakin itu pasti ulah lo!"
Kheyrin tersenyum miring. "Yakin cuma gue yang benci sama lo?"