
"Pagi Khey." sapa Axelio.
"Alangkah cerah pagi ini. Pagi juga masa depan, ehh." Kheyrin cengegesan.
"Masa depan?" beo Axelio.
Kheyrin mengangguk semangat, "bisa jadi aja kan lo calon masa depan gue." ujarnya dengan mimik wajah serius.
Axelio terkekeh, "lo ada-ada aja."
"Kayanya gue suka deh sama lo? Baru lo cowok pertama yang bikin gue nyaman."
"Udah Khey gak usah bercanda."
Kheyrin tertawa pelan, "iya-iya, yokk berangkat." katanya dengan menaiki motir matic Axelio dan menepuk bahu lelaki itu pelan.
Hari ini Kheyrin berangkat bareng Axelio. Akhir-akhir ini ia memang sering bersama Axelio. Apalagi jika pulang sekolah sudah pasti sama Axelio.
Motor itu melaju pergi meninggalkan pekarangan rumah Kheyrin. Bagi Axel ucapan gadis itu tak serius, walau tampang Kheyrin serius tapi pasti gadis itu bercanda. Lagian mereka juga hanya dekat dan bertemu saat di sekolah. Di luar sekolah mereka bertemu hanya saat Axel menjemput gadis itu, tidak ada waktu romantis yang bisa membuat Kheyrin baper. Hanya hal-hal biasa saja tidak ada yang spesial.
Tak lama mereka sudah sampai di parkiran sekolah. Kheyrin turun terlebih dahulu. Tidak usah membayangkan ada adegan cowok melepaskan pengait helm cewek. Karena hal semacam itu tidak terjadi, kembali ke kenyataan. Kheyrin dengan mandiri melepas helm dan manaruh di kaca motor.
Mereka berjalan berdampingan ke arah koridor. Murid-murid yang berlalu-lalang sudah terbiasa dengan pemandangan itu. Juga sudah terbiasa dengan Kheyrin yang tak lagi terdengar membully Tika.
Seperti sudah di atur, Kheyrin bertemu dengan Tika dkk. Kheyrin berusaha tak menghiraukan mereka, namun lagi dan lagi ia harus menanggapi mereka. Tidak lebih tepatnya Arka.
"Akhir-akhir ini lo kelihatan tenang, gue lihat juga udah gak bully Tika lagi." ucapan Arka itu berhasil menarik perhatian Kheyrin.
__ADS_1
Kheyrin berhenti tepat di depan mereka, "bukannya itu bagus?" dengusnya.
"Bagus banget malah tapi gue rasa di balik sikap lo ini, pasti lo sedang rencanain sesuatu kan!" Arka menatap Kheyrin curiga.
"Udah Khey gak usah dengerin Arka. Arka pasti bercanda kok." Sena mengalihkan pembicaraan saat melihat Kheyrin yang ingin membuka suara.
Kheyrin tersenyum tipis ke arah Sena, ia tahu Sena tak ingin ia membalas perkataan Arka yang mana malah akan berkhir menjadi pertengkaran. Kheyrin mengalihkan tatapannya, menatap sinis Arka. "Lo itu terlalu banyak bacot!"
"Cihh, dasar cewek--"
"Udah Arka." potong Sena menyengol pelan cowok itu.
Arka mendengus, "ck, iyaiya"
Kheyrin tersenyum tipis. Sepertinya mereka belum tahu masalahnya dan Tika juga Kevan. Pasti kalo tahu sudah jelas Arka akan lebih banyak bacot. Ia pikir Tika sudah mengadu tapi ternyata gadis itu tidak atau belum mengadu. Entah apa yang di rencanin gadis itu, Kheyrin rasa ia harus lebih waspada mulai sekarang.
Arka melotot tak terima, belum sempat protes Kheyrin sudah melangkah maju dan dengan sengaja menyengol cowok itu.
Panji si penengah bagi Kheyrin hanya cowok yang menikmati percecokan mereka. Karena nyatanya cowok itu lebih banyak diam daripada membantu. Tika, gadis itu selalu diam jika bersama mereka. Padahal jika hanya berdua bersama Kheyrin, gadis itu banyak bicara. Apalagi kalo menyangkut soal Kevan. Berbicara soal Kevan cowok itu akhir-akhir ini Kheyrin perhatiin lebih banyak diam.
"Ayo Kev." ujar Tika lembut.
"Kamu gapapa? Akhir-akhir ini aku lihat kamu banyak melamun."
Kevan mengeleng, "gapapa kok." ucap tersenyum tipis mengelus pelan kepala Tika.
Tika tersenyum dan mengandeng tangan Kevan. Mereka berdua berjalan bergandengan tangan menyusul teman-temannya yang sudah lumayan jauh di depan.
__ADS_1
Keterdiaman Kevan tidak membuat Tika curiga, karena kepribadian lelaki itu memang kadang tak banyak bicara.
_________
"Khey ngelamun aja."
Tepukkan di bahunya membuat Kheyrin menoleh ke samping, "gue lagi mikir aja ini siapa yang iseng." ucapnya mengeluarkan tikus kecil yang tak bernyawa dari dalam tasnya.
"Iihh buang Khey buang." Lola menatap jijik tikus di tangan Kheyrin.
"Ini juga mau gue buang." Dengan santai Kheyrin melempar tikus itu ke tong sampah.
"Itu kok bisa ada di tas lo?" tanya Lola heran.
Kheyrin mengangat bahu acuh, "gak tahu, gue tadi mau ambil pulpen malah yang kepegang tikus itu."
"Lah jadi itu lo naruh lagi di dalam tas?"
"Hm, gue sengaja ingin nunjukin hadiahnya udah gue terima." ujar Kheyrin santai.
"Emang lo tahu siapa orangnya?"
"Gak tahu." sahut Kheyrin santai.
"Hah? Lah terus gimana bisa orang itu tahu sedangkan pengirimnya aja lo gak tahu."
Kheyrin menatap ke arah jendela, Lola mengikuti pandangan Kheyrin. Terlihat seorang gadis yang berada tak jauh dari kelas Kheyrin dan sedang menatap ke arahnya juga.
__ADS_1
"Bunga..."