
Kheyrin berjalan dengan tergesa-gesa memasuki mobil.
Braakk
"Anjing nutup pintu nya pelan-pelan. Kalo pintu mobil gue rusak lo harus ganti!" decak Lola.
"Tapi pintu nya gak rusak kan?"
Lola berdecak sebal, "kan kalo!"
"Ehh Khey lo tahu gak?" ujar Bunga.
Kheyrin menatap Bunga sekilas. Bunga duduk di samping kursi pengemudi sedangkan Lola yang menyetir.
Karena ini hari minggu jadi ketiga gadis itu berniat pergi jalan-jalan, lebih tepatnya Kheyrin.
Kheyrin yang mengajak tapi menyuruh Lola yang jemput, awalnya di tolak keras oleh Lola. Tapi dengan segala bujukan manisnya akhirnya Lola mau menjemput dirinya.
"Ya mana gue tahu Bunga! Lo belum bilang apa-apa." Kheyrin mendelik.
"Lo tahu gak si culun?"
"C-culun?"
"Itu cowok yang lo bantu waktu di kantin." jela Bunga.
"Dia punya nama kali." dengus Kheyrin.
"Gue kan gak tahu namanya."
"Axelio."
"H-hah?"
"Itu namanya."
"Owwhh..." Bunga mengangguk.
"Lo aneh deh Khey, sejak kapan lo mau deket-deket sama anak culun?" ucap Lola.
Bunga mengangguk setuju dengan ucapan Lola. "Gue pikir cuma gue yang ngerasa lo sedikit berbeda?"
"Gue kan hanya berniat membantu. Salah gitu kalo gue berubah?"
"Enggak! Tapi perubahan lo kaya ada yang beda..." kata Lola.
"Udahlah, Bunga lanjut aja yang pengen lo omongin."
Bunga berdehem sejenak, "gini menurut info terbaru yang gue dapet, Axel si cupu itu anak yang sedikit misterius."
"Maksud lo gimana?" bingung Kheyrin.
"Si cupu satu itu kan gak punya teman dan juga berpenampilan culun, karena itu banyak yang ingin bully dia."
"Gak heran lagi sih."
"Lo ingat hari dimana lo nolongin dia? di hari itu ada yang bully cowok itu."
__ADS_1
Kheyrin melotot, "beneran lo?". Padahal yang ia lihat cowok itu masih baik-baik saja, gak seperti orang yang habis di bully.
Bunga mengangguk, " iya, katanya ada yang bawa dia ke gudang."
"Terus-terus gimana?" kepo Kheyrin.
"Itu--"
"Turun dah sampe!" suara Lola menghentikan obrolan mereka berdua.
Kheyrin mendengus, tak lama mata nya berbinar melihat banyaknya wahana permainan.
Seakan melupakan rasa penasaran nya tadi, Kheyrin dengan antusias menarik Lola dan Bunga.
__________
Tak terasa sudah 4 jam mereka bermain. Sekarang sudah sore, membuat ketiga gadis itu terlihat lelah dan sedikit kusam.
"Ayo makan gue udah laper banget." keluh Bunga.
Kheyrin dan Lola mengangguk. Mereka bertiga keluar dari area wahana dan pergi ke parkiran.
Mobil silver itu melaju pergi dari tempat wahana permainan itu.
"Mau makan di mana?" tanya Lola.
"Terserah, gue mah ngikut."
"Gue juga, asalkan tempat makan nya enak."
Setelah memarkirkan mobil, mereka bertiga turun dan masuk ke dalam cafe.
Ketiga gadis itu memilih duduk di dekat jendela.
"Mau pesen apa?" tanya Bunga yang memegang menu.
"Samain aja." ujar Kheyrin yang bingung melihat menu makanan.
"Kalo lo?"
"Gue ngikut aja." kata Lola.
Selesai memesan ketiganya sibuk dengan ponsel.
"Ohhiya lanjutin yang tadi dong." Kheyrin menyengol pelan bahu Bunga yang duduk di sebelahnya.
"Yang mana? Udah lupa gue."
"Yang Axelio."
"Ohhiya dia, gue tadi bilang udah sampe mana yaa?" ujar Bunga bingung.
"Itu kalo gak salah di bawa ke gudang." ucap Kheyrin, gadis itu ternyata masih ingat juga.
"Gudang? Ohhiyaiya, ada orang yang lihat cowok itu di seret ke gudang. Namun, anehnya besok orang yang bawa itu cowok ke gudang tiba-tiba sudah pindah sekolah." jelas Bunga.
"Lo tahu itu darimana?"
__ADS_1
"Bunga gitu lho, gue punya grup gosip antar kelas jadi pasti tahu soal kejadian-kejadian terbaru." Bunga menepuk dadanya bangga.
Lola memutar bola mata malas, "udah gak heran lagi sama tukang gosip."
"Idih kenapa masalah buat lo?" sinis Bunga, di balis delikan malas Lola.
Bunga menatap Kheyrin, "Ohh iya Khey bukan cuma itu, yang bikin aneh itu..."
"Aneh gimana?"
"Gini deh, coba lo pikir! Mereka kan pasti niat mau bully tapi kok malah jadi mereka yang pindah? Harusnya kan tu cowok culun."
Kheyrin terdiam, dalam hati setuju dengan ucapan Bunga. Ia juga baru sadar kalo kemaren di sekolah ia tak melihat Axelio.
__________
Hari senin. Hari ini Kheyrin berangkat pagi-pagi sekali. Selain tak ingin terlambat ia juga malas bertemu dengan mama nya dan juga Tika.
Sekarang masih ada setengah jam sebelum bel berbunyi. Kheyrin sudah duduk anteng di dalam kelas. Pagi ini masih sangat sepi, murid-murid baru sedikit yang datang.
15 menit bermain ponsel membuat Kheyrin merasa bosan. Ia meletakkan ponselnya kembali di sakunya dan memilih menatap ke arah luar.
Deg
Matanya tak sengaja melihat Axelio yang berjalan di depan kelasnya. Mereka bertatapan sebelum Axelio melewati kelasnya dan memutuskan kontak mata mereka.
Tatapan itu seperti ada yang berbeda. Atau hanya perasaannya saja?
Kheyrin memikirkan kejadian di taman. Apa kah dirinya menyukai Axelio?
Baru kali ini ada cowok yang membuatnya malu padahal baru pertama kali bertemu. Sudahlah mungkin itu berarti tandanya ia masih punya urat malu. Biasa kan juga ia hanya malu-maluin.
Tak lama bel masuk berbunyi bertepatan dengan banyaknya siswa yang mulai berdatangan. Dan ada juga yang berlalu lalang di koridor, mungkin karena hari ini ada upacara. Tak heran banyak siswa yang sudah berlari ke lapangan, tapi ada juga masih pergi ke dalam kelas.
"Tumben banget lo dateng cepat." kata Lola menepuk pelan Kheyrin.
Kheyrin sekarang berada di lapangan. Berdiri di bawah pohon samping lapangan sembari menunggu yang lain, karena upacara masih belum di mulai.
"Emang kenapa sih!" decaknya.
"Kepagian Khey." ucap Bunga.
Kheyrin cengengesan, "sengaja."
"Ada masalah ya?" tebak Lola.
"Jujur sih ada."
Bunga berdecih, "pasti karena Tika lagi kan."
Tak mengherankan lagi karena sudah pasti masalah Kheyrin tak jauh-jauh dari Tika.
"Tapi kan lo udah gak buat ulah sama dia?" bingung Lola.
Kheyrin mendengus, tak lama senyum manis terbit di bibirnya. "Sepertinya gue harus kasih hadiah."
Lola dan Bunga saling pandang, hadiah apa yang Kheyrin maksud?
__ADS_1