Suddenly Became The Antagonist In T...

Suddenly Became The Antagonist In T...
14


__ADS_3

Kheyrin tertawa melihat Axelio yang malu. Pipi lelaki yang memerah itu terlihat lucu di matanya.


"Gak usah malu El." Kheyrin cekikikan.


Axelio membuang muka, "gak, siapa juga yang malu." elaknya.


Tawa Kheyrin semakin mengeras, membuat Axelio menatap gadis itu tajam. Tapi bagi Kheyrin itu tetap lucu.


"Udah mau sore, ayo pulang." ujar Axelio mengalihkan topik.


Kheyrin menghentikan tawanya dan mengangguk. Mereka berdua berdiri dan melangkah ke arah motor yang terparkir di pinggir jalan, tepat di depan halte.


Tak lama motor matic itu melaju pergi.


Sepanjang jalan hanya ada keheningan. Kheyrin menyandarkan kepalanya di punggung Axelio. Ia mengantuk, lelah dan entah apa yang akan terjadi di rumah. Sungguh Kheyrin rasa pasti Tika sudah mengadu.


Kheyrin mendengus melihat motor itu sudah berhenti di gerbang rumahnya. Menghela nafas kasar, gadis itu turun dari motor.


"Makasih El." kata Kheyrin lembut.


Axelio menganggukkan kepala, "Iya, muka lo kenapa kusut gitu?"


Raut wajah Kheyrin berubah menjadi cengiran. Tak ingin cowok itu berpikir yang tidak-tidak. "Gak, gue cuma gak mau udah nyampe rumah aja." jujurnya.


Axelio menatap Kheyrin bingung.


"Boleh turun dulu dari motor?" pinta Kheyrin.


Kening Axelio mengerut, kebingungan terlihat jelas di wajahnya. Namun, lelaki itu tetap turun dari motor.


"Kenapa Khey?"


Kheyrin tersenyum, "boleh rentangin tangan lo?"


"H-hah?"


"Udah ikutin aja kata gue."

__ADS_1


Axelio mengangguk dan merentangkan tangannya.


Deg


Lelaki itu menegang, kaget dengan gadis itu yang tiba-tiba memeluknya.


"Rileks El. Biarin gini dulu yaa.." Kheyrin memeluk erat dan menengelamkan wajahnya di dada bidang Axelio. Tak lupa ia juga sudah melepas helm terlebih dahulu, akan lucu nanti jika ia masih memakai helm.


Mendengar itu tubuh Axelio tak setegang tadi. Jujur cowok itu sedikit kaku, ini adalah pelukan pertama dari temannya dan itu dari seorang gadis. Dengan sedikit kaku Axelio membalas pelukan Kheyrin dan menepuk pelan punggung gadis itu.


Kheyrin tak tahu kenapa ia memeluk Axelio. Yang ia rasa hanya lelah, lelah dengan segala pikirannya. Setidaknya untuk kali ini saja ia merasa tenang.


Dalam hati Kheyrin terus menyemangati dirinya. Ia tidak takut dengan masalah, tapi ia hanya lelah jika terus-terusan menghadapi masalah. Tidak di rumah, tidak di sekolah seakan tidak ada hari tenang baginya. Sekitar delapan menitan barulah Kheyrin melapaskan pelukan itu.


"Maaf El gue meluk lo tiba-tiba, itu gak sopan banget." Kheyrin menundukkan kepalanya tak berani menatap mata Axelio. Ia sangat malu memeluk cowok itu, rasanya sekarang ia ingin menghilang dari hadapan Axelio. Entah kemana perginya sikapnya tadi. Tindakkannya memeluk itu hanya pergerakan spontannya.


Axelio terkekeh, merasa lucu dengan gadis itu yang sudah malu-malu kucing. "Gapapa, lo pasti lagi ada masalahkan? Mungkin dengan pelukan setidaknya bikin lo tenang."


Kheyrin mendongak matanya berkaca-kaca. Terharu, ternyata cowok itu peka, "huwaaa lo peka banget jadi cowok."


Kheyrin tersenyum dan mengangguk.


"Yaudah gue pulang dulu, sana gih masuk." ucap Axelio menunjuk dagunya ke arah rumah Kheyrin.


"Gak, lo balik aja dulu sana."


"Udah sana masuk." Axelio memutar tubuh Kheyrin dan mendorongnya pelan.


Kheyrin menghela nafas pelan dan berbalik, "yaudah iyaiya, gue masuk dulu hati-hati di jalan."


Axelio tersenyum dan mengangguk melambaikan tangannya, di balis juga lambaian tangan dari Kheyrin.


__________


PLAAK


Lagi tamparan lagi, kali ini di pipi yang sebelahnya. Bukan di pipi yang Tika tampar tapi yang di sebalah. Saat pulang sekolah mamanya tidak ada di rumah itu membuat Kheyrin lega. Tapi saat waktu makan malam, Kheyrin sengaja datang terlambat tapi ternyata mamanya masih berada di meja makan.

__ADS_1


Kheyrin menatap tajam, "Gak usah tampar aku bisa!"


"MAMA GAK PERNAH AJARIN KAMU JADI PERUSAK HUBUNGAN ORANG!" teriak Rina dengan dada yang naik-turun.


Kheyrin berdecih, "Tika udah ngadu yaa, emang dasar itu cewek tukang ngadu!"


"Stop salahin Tika! Di sini itu kamu yang salah!." desis Rina tajam.


"IYA INI SALAH KHEY PUAS MA!" cukup kali ini Kheyrin benar-benar muak denger kata salah, salah dan salah di tunjukkan ke dirinya.


"Minta maaf sekarang sama Tika!" ujar Rina penuh penekanan.


Kheyrin memutar bola mata jengah, "OGAH!"


"KHEYRIN! KAMU ITU SALAH UDAH NYURUH-NYURUH KEVAN MUTUSIN TIKA! MEREKA ITU BELUM LAMA JADIAN DAN KAMU UDAH NYURUH PUTUSIN! TIKA ITU SAYANG BANGET SAMA KEVAN, KHEY!"


"Hanya karena itu mama sampe nampar aku?" Kheyrin menatap jengah Rina. Tak abis pikir lagi, Tika sudah seperti anak emas.


"Mama gak mau kamu jadi perusak hubungan orang Khey! Biarin aja itu kebahagian Tika." nada bicara Rina tiba-tiba menjadi lembut.


Kheyrin mendengus, heran dengan mamanya yang cepat sekali berubah sikap. "Gak bisa ma! Kheyrin gak bisa biarin itu."


"Kenapa? Kamu gak mau Tika bahagia?"


IYA! kata itu sangat ingin Kheyrin teriakin. Buat apa ia peduli dengan kebahagian Tika sedangkan disini Kheyrin yang menderita dan itu karena Tika. Gadis satu itu ternyata tak menyukai Kheyrin. Ya Kheyrin sadar itu, lihatlah dari cari dia yang diam-diam mengadu pada mamanya dan menuduh dirinya yang tidak-tidak.


Protagonis yang satu itu tidak menye-menye. Namun, sangat menyebalkan. Begitu menyebalkan membuat Kheyrin muak.


"Tika lagi, Tika lagi! Yang mama peduliin disini hanya Tika, Tika, dan Tika!"


"G-gak Khey mama juga peduli sama kamu."


"Ma! Bahkan anak kecil juga bisa tahu kalo yang mama peduliin hanya Tika!" desis pelan Kheyrin.


"Bukan gitu sayang, mama--"


"Jujur aja Ma... Kheyrin ini anak mama atau bukan?"

__ADS_1


__ADS_2