
Kheyrin menghembuskan nafas kasar, manatap kosong kardus di depannya.
Kardus itu berisi bangkai kucing dengan kepala dan badan yang sudah terpisah.
Apakah ia takut? Tentu saja tidak.
Tidak ada nama pengirim atau pun kata-kata yang tertulis. Membuat Kheyrin bingung.
Drrttt...
Ting!
Kheyrin mengambil ponselnya. Baru saja ponsel itu menyala sebuah pesan dari nomor tak di kenal muncul di layar ponselnya.
Dengan cepat Kheyrin membuka pesan itu.
+62-824-xxxx
Gimana bagus kan salam perkenalan dari gue?
Mulai sekarang gue gak akan biarin lo hidup tenang!
Deg...
"Siapa lagi ini..."
Kheyrin mengacak-ngacak rambutnya frustasi. Masalah satu entah kapan kelarnya sekarang sudah muncul masalah baru.
Drrtttt....Drttt ....
Ponselnya kembali berdering, bukan pesan yang masuk melainkan sebuah panggilan telepon.
Melihat nomor yang sama dengan si pengirim pesan tanpa ragu Kheyrin langsung mengangkatnya.
"Hallo?"
"Lo pasti bingungkan dapet paket tiba-tiba? Ehm... itu adalah tanda perkenalan dari gue."
"To the poin aja."
__ADS_1
"Lo gak sabar banget yaa, gue bosan harus sembunyi terus. Lo akhir-akhir ini terlihat lebih tenang dan itu buat gue gak suka!"
"Lo siapa sebenarnya?"
"Lo gak perlu tahu, yang harus lo tahu mulai sekarang hidup lo gak akan tenang."
Tuutt...
Panggilan itu langsung terputus sebelum Kheyrin kembali berbicara.
"Apa yang harus gue lakuin?."
__________
"Makasih El." ucap Kheyrin tersenyum manis.
"Iya Khey." Axelio terkekeh kecil.
Sejak hari di mana mereka sepakat untuk berteman, keduanya jadi lebih dekat. Sesekali Kheyrin pulang dan berangkat ke sekolah bareng Axelio.
Seperti sekarang ini. Mereka berdua berangkat bersama ke sekolah. Kedua manusia berbeda gender itu berjalan di koridor beriringan.
Kheyrin tersenyum melambaikan tangan ke arah Lola dan Bunga. "Ehm Elio, gue susul sahabat gue dulu yaa..."
Axelio mengangguk mengerti tak lupa juga dengan senyum manis yang terbit di bibir lelaki itu.
Kheyrin melabai kecil ke arah Axelio dan berlari kecil menyusul kedua sahabatnya yang sudah menunggu dirinya.
"Pagi gengss" sapanya sedikit centil.
Lola tersenyum mengoda, "gue liat-liat lo makin deket aja sama Axel."
"Wajar kita kan temenan."
Bunga memicingkan mata curiga, "lo suka ya sama Axel?"
"Sukalah kalo gak ngapain gue temenan."
Bunga bedecak, "maksud gue--"
__ADS_1
"Selamat pagi."
Suara itu membuat ketiga gadis itu menoleh bersamaan.
"Hm pagi." balas Kheyrin malas.
"Pagi Sena." kata Lola tersenyum.
Sedangkan Bunga hanya diam memperhatikan mereka. Sudah pasti kan jika ada Sena pasti ada Tika dan Kevan bersama kedua sahabatnya.
Di antara mereka berlima yang selalu menyapa ketiga gadis itu adalah Sena. Bisa di katakan gadis itu yang paling netral setelah Panji.
"Sayang ayo." ucap Tika yang sudah mengandeng lengan Kevan.
Perkataan itu membuat ketiga gadis di depan mereka menatap bingung.
"Lo berdua udah jadian?" tanya Bunga.
"Iya dong." bukan Kevan yang menjawab melainkan Tika, gadis itu sedikit mengeraskan suaranya dan melirik sekilas ke arah Kheyrin.
"Bener itu Kev?" tanya Bunga memastikan.
"Iya." kata Kevan datar.
"Kok lo mau sih sama nih cewek?" Lola tersenyum mengejek.
"Maksud lo apa?" sinis Arka.
"Heh kutu kampret mending lo diem!" Bunga mendelik.
Kheyrin hanya menatap tanpa minat. Berdecak pelan melihat Tika yang menatapnya mengejek.
"Udah-udah kenapa pada ribut sih." ujar Sena menenangkan. "Hmm, kalo gitu kita permisi dulu yaa..." lanjutnya dan mengisyaratkan teman-temannya pergi.
Kheyrin, Lola dan Bunga menganggukkan kepala.
"Ayo Khey." Bunga menarik lengan Kheyrin dengan tangan yang satu merangkul bahu Lola. Ini karena ukuran tubuh Kheyrin lebih tinggi beberapa senti dari tubuh mereka. Membuat Bunga susah untuk merangkul.
Ketiga gadis itu kembali melanjutkan langkah mereka yang sempat tertunda.
__ADS_1
Baru beberapa langkah Kheyrin melirik ke arah belakang, memandang rumit punggung mereka.