
Kheyrin menatap bosan papan tulis di depannya. Ia sangat benci pelajaran matematika.
"Bu izin bentar ke toilet." sahutnya mengangat tangan kanannya, semua orang memandang ke arahnya. Termasuk teman sebangkunya yang tak lain Lola. Ia dan Lola satu kelas sedangkan Bunga berada di kelas lain.
Guru paruh baya itu mengangguk. Kheyrin beranjak dan berjalan keluar kelas.
Sepanjang koridor hanya kesunyian yang menyapa, mungkin karena sekarang jam pelajaran.
Sejujurnya Kheyrin tak beneran pergi ke toilet, tadi itu hanya alibinya saja.
Ia berjalan ke arah taman belakang sekolah. Karena tempat itu cukup sepi membuatnya yakin tidak akan ada yang menganggu ketenangannya. Untuk saat ini dirinya butuh waktu sendiri. Otaknya serasa mau pecah melihat deretan angka-angka di papan tulis.
Kheyrin tahu letak taman itu dari novel. Di jelaskan taman belakang sekolah berada di samping ruang perpustakaan. Lebih tepatnya beberapa meter dari ruang perpustakaan.
Dan ruang perpustakaan sejalan dengan arah kantin. Hanya saja perpustakaan ke arah kiri sedangkan arah kantin lurus.
Tak lama Kheyrin sampai di taman yang sunyi. Terlihat sedikit seram dengan suasana yang sangat sepi. Walau begitu tak membuat Kheyrin takut.
Ia malah dengan santai mendudukkan bokongnya di bangku taman. Memejamkan matanya seraya menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya.
"Kapan ini berakhir? Gue udah muak"
"Lo pikir semudah itu?"
Samar-samar terdengar suara seorang gadis dengan seorang lelaki?
Kheyrin membuka matanya. Melirik ke arah samping di mana suara itu berasal.
Terlihat siluet dua orang yang sedang beradu argumen. Wajah mereka tak terlalu jelas karena duduk membelakangi Kheyrin. Sepertinya mereka tidak tahu ada orang lain selain mereka disini.
Kheyrin bersembunyi di semak-semak yang tak berada jauh dari posisi kedua orang itu. Cukuplah untuk menutupi tubuhnya ini.
Kheyrin menajamkan pendengarannya.
"Tapi harus sampai kapan kita kaya gini? Jujur aja lah."
__ADS_1
"Gak bisa, ngertiin situasinya sekarang. Lo jangan mulai seenaknya gini dong"
"Gue seenaknya gimana? Ohh jangan-jangan lo udah ada rasa sama dia yaa."
"GAK USAH NGOMONG SEMBARANGAN!"
"LO MARAH GINI SAMA AJA MEMBUKTIKAN KALO UCAPAN GUE ITU BENER."
"MENDING LO PIKIR-PIKIR LAGI SUPAYA GAK ASAL NGOMONG KAYA INI!"
Dan setelah itu tak terdengar lagi percakapan mereka. Kheyrin keluar dari persembunyiannya.
"Kemana mereka?" ujar pelan.
"Lo ngapain di sini?" suara dari arah belakangnya membuat Kheyrin gugup, apakah dirinya ketahuan menguping atau jangan-jangan ketahuan oleh guru?
Kheyrin berbalik, "huftt gue pikir siapa." katanya lega.
"Emang apa yang lo pikirin?"
"Gua kira lo guru." Kheyrin cengegesan.
"Gak Elio." Yang memergokinya tadi adalah Elio ehh lebih tepatnya Axelio.
Lelaki itu menukik alis bingung, "E-elio?" beonya.
"Nama lo kan Axelio jadi gue panggil Elio aja biar gak kepanjangan. Salahkah?" bingung Kheyrin.
Axelio mengelengkan kepalanya, "enggak,, cuman terdengar aneh aja. Biasanya gue di panggil Axel bukan Elio."
"Gapapa anggap aja itu panggilan khusus gue. Nama Elio itu cocok buat wajah soft lo ini." cengir Kheyrin.
Axel tersenyum, "yaudah senyaman lo aja mau manggil apa."
Kheyrin tersenyum lebar dan mengangguk kecil. "Ohhya lo ngapain di sini?"
__ADS_1
"Gue habis dari perpus dan gak sengaja lihat lo disini."
"Beda emang sama anak rajin." kekeh Kheyrin.
"Khey..."
Kheyrin mengangat alisnya, "kenapa?"
"Lo... cantik"
________
Sial, Kheyrin sangat malu. Pipinya bersemu merah hanya karena kata 'cantik' dari Axelio. Bukan kali ini ia mendengar ada yang memujinya cantik. Tapi entah mengapa saat Axel berucap itu terdengar berbeda dengan yang lain.
"Pipi lo kenapa merah?" tanya Bunga heran, " lo sakit ya?" lanjutnya menaruh tangan di dahi Kheyrin.
Kheyrin menepis pelan tangan Bunga. "Gak kok cuman lagi kepanasan aja."
"Owwhhh..."
"****** lo Kheyrin, seenaknya ninggalin gue sendiri di kelas." Sinis Lola melempar tas Kheyrin yang di tangkap dengan gesit oleh gadis itu.
"Eehh kenapa sih?" kepo Bunga.
Lola berdecih, "nih anak tadi ijin ke toilet katanya sih bentar, tapi sampai bel pulang gak muncul-muncul di kelas ehh gak tahu nya ada bareng lo di sini."
Kheyrin hanya cengegesan tak jelas. "Maap sis tadi itu ada sedikit kesalahan teknisi."
"Nyenye ngaku aja lo tadi niat bolos kan." tuduh Lola.
"Hehe pintar nya Lola kuu..." cengir Kheyrin mencubit pipi Lola yang langsung di tepis gadis itu.
"Udah ayo pulang!" Bunga menarik kedua sahabatnya itu.
Sedangkan Lola dan Kheyrin hanya pasrah di tarik.
__ADS_1
Mereka berjalan menuju parkiran yang sudah sepi. Untung saja hari ini Kheyrin berangkat bersama sahabatnya jadi ia tak perlu kesusahan mencari alamat rumahnya. Di novel tak terlalu di jelaskan jadi wajar saja Kheyrin tak tahu jalannya.
"Alur ini... seperti ada yang salah..."