
"Lo jahat. Bertahun-tahun tetap bungkam padahal lo tahu itu semua bukan salah gue."
"Hentiin drama konyol ini sebelum gue bertindak lebih."
"Khey!"
"KHEYRIN BANGUN!"
"H-hah apa?" ucapnya linglung.
"Udah sampai Khey." ujar Bunga.
Kheyrin menatap bingung. Tak lama ia tersadar dan ingat bahwa diri nya tertidur saat berada dalam perjalanan sepulang dari sekolah.
"Ehh iya-iya." Kheyrin turun dari mobil dan melambaikan tangan nya. Menatap mobil Bunga yang sudah melaju meninggalkan pekarangan rumahnya.
Keasikan tertidur membuatnya tak sadar sudah sampai bahkan tak menyadari Lola yang sudah turun dari mobil.
Kheyrin berbalik. Sial, rumah ini lebih besar dari dugaannya.
"Ck, ini motor siapa lagi." Kheyrin bedecak melihat tiga motor sport yang terparkir di depan rumah itu.
Mengangat bahu acuh, kheyrin berjalan ke pintu utama yang terbuka lebar.
Sepertinya ada tamu-batin Kheyrin.
Terdengar gelak tawa dari arah ruang tamu. Kheyrin melihat ketiga lelaki dan dua orang gadis yang sedang bersenda gurau. Mereka tak menyadari kehadirannya membuat Kheyrin leluasa menatap satu-persatu wajah mereka.
"Baru pulang Khey?" suara itu mengalihkan atensi mereka semua dan menatap ke arah Kheyrin.
Kheyrin menatap seorang gadis yang duduk di ujung sofa.
Siapa dia?
"Ngapain sih Na lo ngobrol sama dia." ujar seorang lelaki yang tak Kheyrin tahu namanya.
"Jangan gitu Arka." ucap gadis itu.
Arka? ****, Arkana Putra, lelaki yang sangat tak menyukai Kheyrin.
"Udah-udah, Arka mending lo diem." timpal lelaki yang duduk di samping gadis itu.
__ADS_1
Lelaki itu sepertinya Kheyrin tahu namanya... Panji Thama, si pihak penengah.
"Si Panji mah suka gitu, lo sama Sena sama aja." dengus Arka.
Sena? Ohh Kheyrin tahu gadis itu, Senalia Amanda-sahabat si protagonis wanita.
Kheyrin tersenyum miring, menatap gadis di samping Sena.
Cantika Leani, si protagonis wanita. Dan bisa di tebak di samping gadis itu pasti protagonis pria, Kevano Alexander.
Bisa di lihat, lelaki itu yang paling tampan di antara yang lain dan tatapan tajamnya yang selalu datar.
Kheyrin menatap datar mereka semua, "ngapain di rumah gue? Gak punya rumah ya?"
Arka menatap sinis Kheyrin. Tapi Kheyrin tak memperdulikan itu.
"Kita lagi kerja kelompok Khey." jelas Panji.
Kheyrin hanya mengangguk sekilas, ia lupa kalo mereka itu sekelas.
"Jangan berisik gue mau tidur." Kheyrin melangkahkan kakinya ke arah tangga.
"Kamu gak mau gabung?" suara lembut itu menghentikan langkah Kheyrin yang sudah berada di anak tangga.
"Gue gak sekelas sama lo Sena." ketus Kheyrin dan melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda. Ia malas sekali berurusan dengan mereka.
Yang mengajaknya bicara adalah Sena, gadis yang selalu bertutur kata lembut.
"Tumben banget itu anak gak cari masalah."
Arka menganguk setuju dengan ucapan Panji. "Tapi bisa jadi aja itu cuman akal bulusnya buat nutupi rencana busuknya."
Sena mengeleng tak setuju, "kalian ingat kan kejadian di kantin tadi? Mungkin Kheyrin emang udah berubah."
Ucapan Sena membuat mereka terdiam. Mereka semua melihat kejadian itu, tapi tak ada yang menyadarinya karena mereka duduk di meja paling pojok.
"Udahlah mending lanjut diskusi." ucap Cantika tenang, membuyarkan pikiran mereka.
Cantika, kerap di sapa Tika. Berbeda dengan Sena yang lembut, Tika adalah gadis anggun dengan pembawaanya yang selalu tenang.
Di lantai atas sana, Kheyrin melihat semua itu. Tidak ada yang menyadarinya karena mereka terlalu sibuk memikirkan perubahan sikapnya.
__ADS_1
Kheyrin berbalik melangkah ke arah kamarnya.
________
Bagi Kheyrin waktu berlalu sangat cepat. Seingatnya ia baru tertidur semalam tapi kini ia sudah siap dengan seragam sekolahnya.
Kheyrin sudah memikirkan hal ini, Ia tidak akan mencari gara-gara dengan mereka. Karena ini adalah Kheyrina bukan Kheyrin. Tapi ia tak menjamin itu semua bakal terjadi sesuai keinginanya. Mengingat tubuh ini penuh dengan masalah.
Kheyrin menghela napas panjang dan membuka pintu kamarnya. Berjalan menuruni tangga dengan tenang.
Kheyrin berjalan ke arah meja makan. Sebenarnya ia tak ingin sarapan tapi sudahlah ia juga tak bisa menolak makanan.
"Kheyrin mau makan apa? Biar mama ambilin." ucap seorang wanita paruh baya. Bisa Kheyrin tebak pasti ibu pemilik tubuh yang ia tempati ini.
Di lihat dari pakaianya juga sudah pasti nyonya di rumah ini.
"Gak usah." tolak Kheyrin halus.
"Udah ma gapapa." kata Tika menenangkan wanita paruh baya itu yang menatap Kheyrin sendu.
Kheyrin hanya diam. Entahlah dia tak tahu harus berbuat apa. Ia hanya merasa tidak enak dan canggung. Sungguh tidak ada maksud lain, ia juga kan menolak dengan halus. Apakah itu salah?
Hubungan orang tua Kheyrin dengan Kheyrin asli tak cukup baik dan itu membuat Kheyrina merasa sangat canggung.
Di meja makan itu hanya ada keheningan. Semua sibuk dengan makanan masing-masing.
Tak lama Kheyrin selesai dan beranjak berjalan pergi ke pintu utama.
Di depan teras sudah ada mobil yang terparkir dan mama nya dan Tika sudah berada di dalam mobil.
"Khey mau mama anter ke sekolah?" tawar mama nya sedangkan Tika hanya diam dan duduk anteng di samping kursi kemudi.
Kheyrin mengangguk sekilas, toh ia juga belum tahu jalannya karena kemarin ia ketiduran jadi tak melihat arah jalannya. Dari pada nanti nyasar lebih baik ia ikut mama nya saja.
Ia dan Tika memang tinggal serumah. Jadi tak heran kenapa kemarin ia bisa bertemu pemeran utamanya.
Sampainya di gerbang sekolah. Tika turun berpamitan. Kheyrin menatap punggung belakang Tika yang mulai menjauh.
"Kamu gak turun Khey?"
Kheyrin mengalihkan pandangannya. Namun, sebelum benar-benar turun Kheyrin berkata sejenak yang membuat tubuh mamanya menegang.
__ADS_1
"Ma... mama gak usah kaya gitu. Itu gak akan merubah apapun."