Suddenly Became The Antagonist In T...

Suddenly Became The Antagonist In T...
13


__ADS_3

"Gue suka sama Kevan."


Deg


Tika menatap Kheyrin tak percaya, sedangkan Kevan menatap Kheyrin tanpa ekspresi.


"Jadi dugaan gue bener?" desis Tika.


"Kenapa? Masalah buat lo?"


"Lo bodoh?" sinis Tika.


Kheyrin tertawa pelan, "gue gak bodoh kaya lo! Gue tahu bahkan sangat tahu kalo lo pasti gak suka kan."


"Iya gue gak suka! Jujur aja Lo mau rebut Kevan kan!" ucap tajam Tika.


"Gak deh, makasih."


"Terus kenapa lo nyuruh Kevan mutusin gue!" rahang gadis itu mengeras, menatap marah Kheyrin yang hanya terlihat santai.


Kheyrin berdecih, "udah gue bilang kan lo itu gak cocok sama Kevan."


"DASAR ******!"


Kheyrin terbahak, baru segitu udah kepancing emosinya. Ya, gadis itu memang sengaja memancing emosi Tika. Tak perlu memerlukan banyak tenaga, gadis itu sudah emosi. Terlihat menyenangkan di mata Kheyrin, gadis itu selalu terlihat tenang tapi lihatlah sekarang hanya karena Kevan emosi Tika dengan cepat meluap.


"Sekarang lo putusin Tika atau..."


PLAAKKK

__ADS_1


Sudut bibir Kheyrin berdarah, tamparan Tika ternyata tak main-main. Kheyrin mengusap sudut bibirnya dengan ibu jarinya. Kepalanya kembali menoleh ke arah Tika. Gadis itu terlihat sangat emosi, raut mukanya juga terlihat merah. Sial rasanya sakit, Kheyrin menarik nafas pelan. Berusaha meredahkan emosinya.


"Lihat cewek lo Kev, dia sangat kasar. Apa lo yakin gak salah pilih?" Kheyrin melirik sekilas ke arah Kevan yang hanya diam dan kembali menatap Tika memberikan senyum mengejek.


"BANGSAT LO KHEYRIN!" nafas Tika memburu, menatap bengis Kheyrin.


Saat tangan gadis itu kembali terangkat Kheyrin dengan cepat memegang dan menghempaskan dengan kasar.


Kheyrin terkekeh tak peduli dengan Tika yang terlihat sangat emosi, ia dengan santai menatap Kevan. "Lo yakin pertahanin nih cewek?"


Tanpa menjawab Kevan menarik Tika dan melenggang pergi. Saat keduanya sudah jauh samar-samar Kheyrin mendengar suara Kevan yang berkata, 'kamu gak usah dengerin gadis itu'.


Raut muka Kheyrin berubah datar.


____________


"Ini udah pelan Khey."


"Ssshh,, perih juga ternyata."


"Namanya juga luka."


"Dah selesai."


Kheyrin tersenyum tulus, "makasih El udah mau obatin luka gue."


"Gue malah senang kok, tapi jangan kaya gini gue gak suka." dengus pelan Axelio.


Kheyrin tertawa pelan, "lo khawatir yaa sama gue?"

__ADS_1


"Kalo gue gak khawatir gue gak akan obatin lo."


Kheyrin terbahak membuat Axelio menahan senyum. Mereka saat ini sedang berhenti di halte. Axelio memaksa ingin mengobati luka di sudut bibir Kheyrin. Hari ini ia kembali pulang bersama Axelio dan waktu di parkiran cowok itu tak sengaja melihat luka di bibirnya.


Kheyrin mengiyakan ucapan Axelio yang ingin mengobati lukanya dengan satu syarat tak ingin di parkiran sekolah. Karena ia tak mau jadi pusat perhatian murid-murid yang berlalu-lalang ingin pulang.


Awalnya Kheyrin sudah menolak karena bagi Kheyrin luka itu terlalu kecil, tapi dengan paksaan lelaki itu akhirnya Kheyrin mengiyakan.


"Ohiya Khey itu yang nampar siapa?" tanya Axelio penasaran.


"Nyamuk, mungkin?"


"Serius Khey."


"Cie yang mau di seriusin." ujar Kheyrin menaik turunkan alisnya mengoda.


"Kheyrin astaga."


"Kenapa sayang?"


"Ehh, bilang apa lo?" cengo Axelio.


Kheyrin tersenyum mengoda. "Kenapa sayang?"


Saat itu juga rona merah muncul di pipi Axelio.


ignore


ddd dddd dddd ddd ddd ddd ddd ddd ddd ddd

__ADS_1


__ADS_2