
Kheyrin berjalan sendiri di koridor. Banyak murid-murid yang berlalu lalang. Sesekali ada yang menyapanya dan menatap dirinya takut juga sinis. Kheyrin tak memperdulikan itu, ia hanya merespon sapaan yang baik. Selebihnya ia hanya mengangap angin lalu.
Walau ia terkenal pembuat onar dan suka membully tapi yang di bullynya hanya Tika, selebihnya tidak ada. Kheyrin di kenal tidak menyukai anak-anak yang cupu. Tapi tidak pernah membullynya hanya menjaga jarak dari mereka dan itu membuat sebuah rumor bermunculan, bahwa ia anti dengan murid yang culun.
Karena itu banyak yang tak percaya dengan tindakan dirinya waktu di kantin.
Beberapa meter di depan Kheyrin ada seseorang yang sedang tak ingin ia lihat.
"Pagi Khey." sapa Sena, sedangkan gadis di sampingnya ada sahahatnya yang tak lain adalah Tika.
Tika hanya diam membuat Kheyrin meresa aneh dengan gadis itu yang selalu diam saat bertemu dengannya.
Kheyrin hanya tersenyum sekilas. Sena dan Tika melanjutkan langkah mereka bersamaan dengan Kheyrin hingga membuat Tika terjatuh karena bertabrakan dengannya.
Bruukkk
"Aduhh." pekik Tika pelan.
Kheyrin mengulurkan tangan nya, "Maaf."
Tika mengangguk dan mengambil uluran tangan Kheyrin.
"Tika kamu gapapa?" tanya Sena khawatir.
Tika tersenyum tipis, "gue gapapa kok Sena. Ehm.. Khey gue juga minta maaf."
Kheyrin hanya berdehem. Terlalu malas untuk berkata 'Iya'.
"TIKA KAMU GAPAPA?" teriakan itu membuat murid-murid menatap mereka bertiga.
Sial, Kheyrin tak ingin menjadi pusat perhatian. Bisik-bisik mulai terdengar membicarakan Kheyrin membuat ia berdecak pelan.
"Aku gapapa Kev." ucap Tika tenang.
"Kheyrin gak ganggu kamu kan?" tanya Kevan.
Tika tersenyum menenangkan membuat Kevan menghela nafas lega.
"Lo kalo jalan liat-liat dong." Kevan menatap Kheyrin tajam.
Kheyrin mengangat satu alisnya. "Lo punya mata kan? Gue udah minta maaf, lagian bukan cuma gue yang salah."
Kheyrin sudah melihat Kevan yang menatap mereka bertiga sedari tadi. Ia yakin lelaki itu tak cukup bodoh untuk memahami situasi ini.
Kevan mendengus, "Awas aja kalo lo cari gara-gara lagi sama Tika! Gue gak akan tinggal diam."
"Udah Kev gak usah cari keributan." suara Sena mengalun dengan lembut.
__ADS_1
Kheyrin menatap mereka bertiga bergantian dan berdecak malas. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun ia langsung berjalan meninggalkan mereka bertiga. Entah kemana babu-babu Kevan, tapi untuk itu Kheyrin bersyukur karena tak bertemu si julid Arka. Bisa panjang nanti ceritanya kalo ada si julid Arka.
"Suara itu..."
__________
Sekarang sudah masuk jam istirahat. Itu membuat Kheyrin lega karena sedari tadi ia sudah sangat lapar.
"Ayo La ke kantin, dah laper banget gue." ajak Kheyrin menarik lengan Lola.
Mereka berdua keluar dari kelas dan berjalan di koridor dengan langkah yang cepat. Seperti sedang terburu-buru.
"Pelan-pelan dong jalan nya."
Kheyrin cengegesan dan memperlambat langkahnya.
"Hai bestai." ucap Bunga yang langsung nempel di samping Kheyrin.
"Di kata tai apa." cibir Kheyrin.
"Jangan gitu lah bestai."
"Ini anak mulutnya minta di tampol." decak Lola.
Tak lama akhirnya mereka bertiga sudah sampai di kantin.
"Ini duduk di mana? Mejanya udah penuh." kata Lola bingung.
Kheyrin dan Lola menatap ke arah yang di tunjuk Bunga. Benar di sana masih ada meja yang kosong.
Tanpa berlama-lama lagi, Kheyrin menarik kedua sahabatnya. Ia tak ingin keduluan orang lain.
"Oke sekarang mau pesen apa? Hari ini gue yang pesenin." ujar Bunga saat mereka bertiga sudah duduk anteng di kursi kantin.
"Gue nasi goreng sama bakwan." kata Lola.
"Lo?" Bunga menatap Kheyrin.
"Samain aja biar gak ribet."
Bunga mengangguk dan beranjak memesan pesanan mereka.
Tak lama pesanan mereka datang. Mereka bertiga makan dengan tenang.
Kheyrin terlihat begitu menikmati nasi goreng ini. Apa karena terlalu lapar ia merasa nasi goreng ini menjadi sangat enak?
Ketenangan mereka tak berlangsung lama. Kerena...
__ADS_1
PRANG!
Kheyrin menatap sedih makannya yang sudah berhamburan di lantai.
"GUE UDAH BILANG JANGAN GANGGU TIKA BANGSAT!"
Kheyrin menatap pelaku yang sudah seenaknya membuat makanannya terbuang sia-sia.
Kheyrin menghela napas kasar, tak lagi memperdulikan mereka akan menjadi tontonan murid-murid. Karena baginya saat ini makanannya lebih penting.
"Ganti makanan gue." titah Kheyrin tegas.
"Udah deh Kheyrin, gak usah ngelak la-"
"Gue gak ngomong sama lo!" sela Kheyrin sinis ke arah Arka.
Sebelum Arka berbicara lagi sudah ada Panji yang menahannya.
"Lo yaa bener-bener! Masih aja cari masalah sama Tika!" sengit Kevan tajam.
Raut wajah lelaki itu tampak marah.
Kheyrin mendengus, "emang gue buat ulah apa?"
"Lo yang kunciin Tika di gudang?" tanya Panji.
"Nuduh gue gitu?" Kheyrin menatap mereka tak percaya. Wow ia diam saja tapi tetap di sangka pelaku nya.
"G-gak gue hanya ingin memastikan." jelas Panji.
"Dari kata lo aja udah bukan seperti pertanyaan melainkan sebuah pernyataan." ucap Kheyrin datar.
Perkataan itu membuat Panji terdiam.
"Udahlah Khey emang siapa lagi. Cuman lo yang benci Tika." sinis Arka.
"Bener yang di bilang Arka. Di sini itu cuma lo yang benci sama Tika dan suka bully dia, jadi otomatis ini pasti ulah lo lagi. IYA kan!!" gertak Kevan.
"Tuh kan yang gue bilang pasti perubahan sikapnya kemarin itu hanya menutupi niat jahatnya. Emang dasar perempuan licik!" kompor Arka.
"Udah deh Arka mending lo diem." dengus Bunga.
"Lo itu cuman nambah panasin suasana aja." tambah Lola.
Saat Arka ingin membalas perkataan Bunga dan Lola,, Kheyrin sudah lebih dulu membuka suara.
"Kalo gue nyuruh lo tanya sama sahabat gue nanti pasti di bilang 'Namanya juga sahabat pasti sekongkol buat nutupin kelakuannya'. Jadi gue rasa,, akan percuma juga kalo gue bilang itu bukan salah gue karena sedari tadi gue sama Lola dan Bunga. Mau gue ngelak juga pasti kalian bakal nuduh gue terus kan?."
__ADS_1
Perkaatan itu berhasil membuat ketiga lelaki itu bungkam.
Kheyrin perlahan maju dan berbisik, "Gue tahu lo gak bodoh!"