
Kheyrin menatap sekitarnya. Hari ini Kheyrin memilih berangkat ke sekolah sendiri, ia ingin berangkat naik ojek sembari menikmati waktu sendiri. Kheyrin menatap ke arah kanan-kiri, serasa aman gadis itu melangkah menyebrang jalan. Tepat di depannya gerbang sekolah sudah terbuka lebar.
"KHEY AWAS!"
Sebelum sempat menoleh Kheyrin sudah lebih dulu tersungkur di samping jalan.
"Lo gapapa kan?" suara itu membuat Kheyrin menoleh ke sampingnya.
"Iya, gue gapapa." Kheyrin tersenyum tipis.
Sorot matanya menatap tak terbaca mobil hitam yang sudah berlalu pergi.
"Makasih Lola."
Lola mengangguk dan tersenyum, "lo kenapa gak liat-liat sekitar dulu, astaga tadi itu lo hampir aja ketabrak!" cerocosnya.
Kheyrin hanya membalas dengan senyum menenangkan. "Tapi gue gak ketabrak kan?"
"Iya, tapi itu hampir aja Khey! Sedikit aja gue telat mungkin lo udah ketabrak." Lola menatap Kheyrin khawatir.
"Udah-udah yang penting sekarang gue gak kenapa-kenapa." Memang benar mereka tidak ada luka atau lecet karena mereka jatuh di rerumputan.
Lola menghela napas, Kheyrin benar mereka tak apa-apa malah gadis itu terlihat sangat santai. Untung saja di depan gerbang tak banyak murid yang berlalu lalang jadi mereka tak jadi pusat perhatian.
Kedua gadis itu berjalan beriringan, melangkah masuk ke dalam sekolah.
Baru sampai di koridor Kheyrin menghentikan langkahnya membuat Lola menatap gadis itu bingung.
"Lo duluan aja ke kelas, gue mau ke toilet bentar."
"Yaudah tapi jangan lama-lama nanti keburu masuk."
Kheyrin menganggukan kepala sembari menatap punggung Lola yang perlahan menjauh. Kheyrin berjalan ke arah tangga, menyusul seseorang yang tak sengaja ia lihat dari ekor matanya.
"Tunggu!"
Gadis itu berhenti dan menatap ke sampingnya. "Kenapa?"
__ADS_1
"Gue gak mau basa-basi," Kheyrin menatap sekitar serasa aman Kheyrin menatap gadis itu lagi, "tujuan lo sebanarnya apa?"
Gadis itu menatap Kheyrin tanang sangat tenang, "tujuan gue yaa bahagialah."
Kheyrin terkekeh kecil, "bahagia mencelakan orang lain, gitu maksud lo?"
Gadis itu mematung, tak lama ekspresinya kembali berubah tenang. "Lo lagi bicarin apa, gue gak paham maksud lo."
Kheyrin terbahak, tak lama tatapannya berubah datar. "Itu lo kan! Lo pikir dengan rencana kaya gitu gue bakal takut? Lo salah besar Tika."
Tika, gadis itu menatap Kheyrin tanpa ekspresi. "Lo udah tahu yaa? Baguslah jadi gue gak akan lagi pura-pura baik sama lo."
Kheyrin tertawa kecil, "gerak-gerik lo mudah terbaca dan mobil tadi itu suruhan lo kan."
Tika tersenyum sinis, "lo benar itu rencana gue. Ternyata lo cukup pintar juga yaa."
Kheyrin menggibas rambutnya, menatap tengil ke arah Tika. "Gue gak bodoh kaya lo!"
Tika mengepalkan tangannya, ia tak puas dengan reaksi Kheyrin yang terlihat seperti mengejeknya.
Kheyrin terkekeh puas menatap Tika yang menahan emosi. "Nama lo Cantika tapi hati lo gak sesuai sama nama lo."
Setelah mengucapkan itu Kheyrin langsung menurini tangga meninggalkan Tika yang masih menahan emosi yang berkali-kali lipat ingin meledak.
"SIALAN LO KHEYRIN, GUE BAKAL BALAS LEBIH DARI INI! BANGSAT!"
Kheyrin hanya mengacungkan jari tengah sebagai balasan.
__________
Kheyrin menatap datar lelaki di depannya. "Udah ngadu yaa?"
"Lo apain Tika sampai dia nangis-nangis kaya gini! Lo kapan sadarnya sih bahkan selama ini saat lo bully pun, Tika masih berbaik hati gak ingin lo di hukum! Tapi ini lo masih aja nyari masalah sama Tika, sebenarnya mau lo apa Kheyrin!"
"Udah ngomongnya?" Kheyrin memutar bola mata malas menatap pasangan sejoli itu lebih tepatnya gadis di sampingnya yang masih menanggis tersedu-sedu.
Dada Kevan naik-turun dengan wajahnya yang sudah memerah menahan emosi.
__ADS_1
"Khey gak salah kok, ini semua karena aku." ucap Tika menundukkan kepala dengan senyum puas yang tersembuyi.
"Lihat dia masih aja bela lo!" desis Kevan tajam.
Kheyrin tertawa kecil, "gue gak perlu di bela sama manusia gak tahu diri kaya dia."
"Jaga omongan lo Kheyrin, disini lo yang gak tahu diri!" decih Arka.
Kheyrin menatap datar, "Arka lo itu gak tahu apa-apa! Jadi diam aja selagi gue masih baik."
"Udah Khey minta maaf sekarang!" kata Panji tiba-tiba.
Kheyrin mendengus, "harus gitu?"
Panji mengangguk yakin, "ini udah jelas salah lo!"
"Salah kenapa? Buat Tika nangiskah? Atau apa?" tanya Kheyrin mengetuk dagunya pura-pura berpikir.
"Khey udah minta maaf jangan perpanjang masalah!" ucap Panji tegas.
"Bener yang di bilang Panji, lo sebaiknya minta maaf." tutur Arka sinis.
Kheyrin masih sibuk berpikir lebih tepatny pura-pura bepikir. Tadi sebelum sempat ia sampai di kelas, mereka sudah menghadangnya. Tika ternyata terlalu cepat beraksi, ia gadis yang sangat terburu-buru ternyata.
Kheyrin menatap Panji, "gue pikir lo yang paling pintar disini ternyata lo sama aja kaya mereka."
"Dia gak terluka jadi buat apa gue minta maaf? Gue gak mungkin minta maaf hanya karena buat dia nangis kan?" lanjutnya.
Diam, mereka semua terdiam mendengar ucapan Kheyrin.
Kheyrin terbahak, "kalian lucu deh gak tahu masalahnya apa udah main nyuruh orang minta maaf aja."
Tika mendongak menatap tajam Kheyrin. Tidak ada yang menyadari itu karena mereka terlalu larut dalam pikiran masing-masing.
Kheyrin bertepuk tangan menyadarkan mereka dari keterdiaman. "Mending kalian nyari tahu dulu akar masalahnya, dan untuk lo Tika natapnya biasa aja takutnya copot tuh mata."
Tanpa menunggu balasan mereka, Kheyrin melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.
__ADS_1
Ketiga lelaki itu menatap Tika yang hanya menundukkan kepala. Tangan gadis itu meremas kuat rok abu-abunya.
"Sialan lo Kheyrin!"