
"AAAHHH!!!!"
"Segitu sukanya lo sama hadiah gue?" ujar Kheyrin berbinar.
"ini... dari lo?"
Kheyrin mengangguk antusias. Sudah ia bilang kan, ingin memberi hadiah.
"Gimana, bagus kan.. Tika?"
Tika menatap Kheyrin horor, "bagus lo bilang? Gila lo!"
"Lo sampe teriak kaya gitu udah pasti karena lo suka kan sama hadiah gue?" Kheyrin tersenyum begitu manis.
"Boneka bibir yang di jahit dan noda darah di sekitarnya juga belatung mati, itu yang lo bilang bagus?" Tika berdecih.
Senyuman masih menghiasi bibir Kheyrin. "Gue harus kasih lo apresiasi buat bibir lo yang ternyata suka banget ngomongin hal-hal buruk tentang gue."
"Cihh, maksud lo apa bangsat!" ucap Tika yang terlihat sedikit emosi.
"Ohoo santai dong, kemana Tika yang terkenal dengan ketenangannya? Apa begini asli lo, kalo lagi sama gue?" kata Kheyrin santai, sangaja ingin memancing emosi gadis itu.
Mereka berdua sedang berada di taman belakang sekolah. Kheyrin menyuruh adik kelasnya membawa Tika ke taman belakang sekolah dan memberi hadiah yang sudah ia persiapkan untuk Tika dan dengan bodohnya Tika mengikuti dan menerima hadiah darinya. Ternyata sangat gampang memancing gadis itu.
Seakan sadar, Tika menghela nafas sebentar. "Gue gak tahu maksud lo apa Khey." katanya tenang.
Lihatlah gaya bicaranya yang sudah berubah. Sangat pencitraan sekali gadis itu.
Kheyrin ingin berdecih tapi ia harus tetap mempertahankan senyumnya. "Itu hadiah gue buat lo yang udah susah-susah bikin nama gue makin terkenal." Terkenal buruk maksudnya-lanjutnya dalam hati.
"Gak usah bertele-tele gue tahu lo pasti ada maksud tertentu kan." Tika menatap Kheyrin tenang.
__ADS_1
Dalam hati Kheyrin berdecih, sungguh wajah Tika yang tenang sangat memuakkan di matanya.
"Tumben lo pintar, lihat hadiah gue baik- baik." Kheyrin menunjuk dengan dagunya ke arah kotak hitam yang sudah terjatuh di rerumputan.
Tika melihat ke arah kotak itu dan berbalik menatap Kheyrin lagi, bingung dengan maksud Kheyrin.
Senyuman Kheyrin semakin lebar, " boneka bibir yang di jahit itu salam sayang gue buat lo!"
Tika terdiam. Lagi, bingung dengan ucapan Kheyrin.
"Rencananya gue gak mau berurusan sama lo lagi, tapi gue diem aja ternyata buat lo makin besar kepala!" sinis Kheyrin tak ada lagi senyuman manisnya.
"Lo itu memang gak bakal berubah yaa. Jangan-jangan yang kemaren itu beneran sikap palsu lo." Tika terkekeh.
"Sikap gue atau lo yang palsu?"
Skakmat. Tika terdiam, terjadi keheningan di antara keduanya.
Tika menegang membuat Kheyrin tersenyum puas. Kheyrin melangkahkan kakinya meninggalkan Tika yang masih terdiam.
Baru bebarapa langkah Kheyrin berhenti tanpa ada niatan untuk berbalik menatap ke arah belakang.
"Lo udah cari masalah sama gue dan sebagai balasannya gue kasih lo hadiah, itu sebagai peringatan pertama dari gue. Dan Gue juga gak akan bully lo lagi, gue harap ini terakhir kalinya kita berurusan.
"Soal boneka itu... sebaiknya lo hati-hati Tika, bisa jadi suatu hari nanti mulut lo akan sama seperti boneka itu."
__________
Bunga dan Lola tertawa terbahak mendengar hadiah dari Kheyrin. Mereka bertiga sedang ada di mobil Bunga. Mereka baru pulang dari sekolah dan seperti biasa Kheyrin menumpang. Katanya sih hemat ongkos dan tenaga.
"Gila sih Khey, itu hadiah kalo di kasih tengah malam pasti jadi horor." kata Bunga dengan sisa tawa nya.
__ADS_1
"Bener yang di bilang Bunga tapi ada bagusnya sih lo kasih hadiah itu ke Tika tengah malam." Lola kembali terbahak.
Kheyrin tertawa kecil, "ide lo bagus juga."
Tak lama ketiga nya tertawa bersama-sama.
"Turun Khey dah sampe." ucap Bunga.
Kheyrin turun dari mobil dan malambaikan tangannya melihat mobil Bunga yang sudah melaju meninggalkan pekarangan rumahnya.
Kheyrin berdecak malas menatap rumah megah itu.
Dengan langkah yang sangat malas ia berjalan. Membuka pintu utama ogah-ogahan.
Kheyrin menghela nafas lega menatap rumah yang ternyata masih sepi.
Ia sangat malas bertemu mamanya yang pasti akan mengoceh, apalagi juga harus melihat Tika.
Tapi sepertinya dugaannya salah. Saat ia sudah berada di tangga ia bertemu Rina yang juga sedang menuruni tangga. Sial, kenapa mamanya itu tidak kerja? Biasanya juga jam segini tidak ada di rumah.
"Baru pulang Khey?"
Kheyrin tak menjawab tetap berjalan acuh tak menghiraukan mamanya.
Rina menatap sendu anaknya, "mau sampai kapan kamu kaya gini Khey?"
Kheyrin mendengar itu tapi tetap melangkah melewati mamanya acuh.
"Mama capek sama sikap kamu yang kaya gini terus."
Perkataan itu berhasil membuat langkah Kheyrin terhenti. Kheyrin berbalik menatap mamanya yang juga sedang menatapnya.
__ADS_1
"Ma, disini... kheyrin yang paling capek."