Suddenly Became The Antagonist In T...

Suddenly Became The Antagonist In T...
10


__ADS_3

"AAAHHHHH MAMA!"


"Kenapa sayang?" Rina datang dengan terburu-buru.


Tepat di bawah tangga sana Kheyrin menatap tanpa ekspresi kedua orang yang berdiri di depan pintu utama. Hari ini adalah hari minggu jadi rencananya ia hanya akan tidur sepanjang hari. Ia hanya turun untuk mengambil cemilan, tapi ia urungkan karena melihat kedua orang yang membuat moodnya berubah.


Saat akan kembali ke kamar suara seseorang menghentikan pergerakkanya.


"Mau kemana kamu. Kesini Kheyrin, ada yang mau mama omongin!" suara dingin itu memasuki indra pendengeran Kheyrin.


Karena tak ingin jadi anak durhaka lebih baik ia menurutinya saja. Kheyrin berjalan dengan ogah-ogahan seraya berdecak pelan.


"Kamu yang ngirim itu?" tanya Rina datar. Menunjuk kotak dengan kertas bertulisan merah.


Kheyrin memandang kotak itu dan membaca tulisan yang tertulis di kertas itu, "Jauhi Kevan ****** atau hidup lo akan gue buat menderita." gumamnya.


Kata itu tertulis dengan acak-acakkan dan di kelilingi tikus-tikus mati, tapi tak membuat Kheyrin jijik atau takut.


"I-ini pasti dari lo kan?" ucap Tika yang terlihat masih sedikit syok.


Kheyrin mendengus, "ck, lagi dan lagi gue. Emang gak ada gitu yang lain, kenapa harus gue?"


"Tapi... hari itu kan kamu juga ngasih aku hadiah."


"Benar itu Kheyrin?" Rina memicingkan matanya.


Kheyrin tak menjawab, ia menatap Tika kesal, "lo kan tahu setelah nerima hadiah itu, gue langsung bilang kalo hadiah itu dari gue."


"Jadi ini bukan dari kamu?" Tika menatap Kheyrin ragu.


"BUKAN!"

__ADS_1


"T-tapi setiap kamu bully aku pasti kamu bilang jauhi Kevan dan jangan pernah dekati Kevan. Jadi gue rasa.. ini dari lo?"


Kheyrin mengerutkan keningnya, berusaha mengingat. "Ohh itu, emang saharusnya lo jauhi Kevan. Karena lo sama dia itu gak cocok!"


Ternyata si curut itu berkata benar. Memang saat ia membully Tika pasti akan selalu muncul kata-kata seperti yang gadis itu bilang. Dan Kheyrin tahu kenapa kata-kata itu muncul.


"Kamu suka yaa sama Kevan?"


Kheyrin terbahak, "Suka? Anggap aja begitu."


"Berarti kamu yang kirim kotak itu?" Tika tersenyum kemenangan, berhasil menjebak Kheyrin denga katanya.


Tawa Kheyrin semakin mengeras, "Lo ini memang bodoh yaa."


Tika mengerutkan alisnya, bingung. "Bodoh? Kenapa kamu selalu bilang aku bodoh?"


"Dimana lo liat gue nempel-nempel sama Kevan, beri dia bekal atau kasih tuh cowok perhatian?"


"N-natap Kevan?" Kheyrin berpikir, kapan ia menatap Kevan. Sial, pasti itu Kheyrin yang asli. Apakah benar Kheyrin asli menyukai Kevan?


Sudahlah daripada memikirkan itu lebih baik ia memberikan jawaban yang tak akan membuat Tika curiga.


Kheyrin berdehem sejenak, "Mungkin lo salah lihat."


"Salah lihat gimana? Aku lihat kamu udah beberapa kali natap Kevan."


"Kenapa sih salah gitu kalo gue natap Kevan? Atau lo cemburu." decak Kheyrin. Malas sekali ia di pojokkan.


"Iya, a-aku cemburu." cicit Tika pelan.


Kheyrin mendengus, perbucinan sudah di mulai. "Udahlah, gue gak peduli. Dan gue cuma mau bilang, kotak itu bukan gue yang ngirim!"

__ADS_1


Tanpa menunggu jawaban dari mereka, Kheyrin langsung berbalik kembali ke kamarnya. Ia muak dengan drama Tika yang selalu menyangkut pautin nama nya.


__________


Malam semakin larut. Gadis dengan pakaian serba hitam itu menaiki tangga yang ia taruh di samping balkon.


Memanjat tanpa membunyikan suara.


Dengan langkah yang sangat pelan gadis itu berjalan ke arah jendela. Matanya melirik ke arah sekitar. Setelah dirasa aman, ia mengambil sesuatu di sakunya.


Senyum miring terbit di bibir gadis itu. Wajahnya terlihat begitu senang dengan apa yang akan ia lakukan.


"Gue yakin pagi lo akan menjadi lebih indah."


Setelah itu ia dengan bahagia melangkah turun dari balkon dan mengambil tangga lipat yang ia bawa.


Berjalan santai ke arah mobil yang terpakir dibawa pohon yang tak terkena penerangan lampu.


Gadis itu menyetir dengan sesekeli bersiul, menandahkan bahwa dirinya begitu senang.


"Pagi ku cerah..." gadis itu bersenandung kecil.


"Lihatlah dia berlagak paling bahagia..."


Tak lama terdengar gelak tawa gadis itu. Bukan tawa bahagia melainkan tawa yang terdengar sumbang.


"Permata yang indah, halus seperti bulu domba. Nyatanya manusia tidak ada yang sempurna."


Gelak tawa kembali terdengar, kali ini lebih keras.


"Dia jahat, kita semua jahat. Siapa yang paling jahat disini?"

__ADS_1


__ADS_2