
Kalau bukan karena steven mengirimkan pesan padaku, mengingatkan bahwa hari ini kami sudah janjian untuk membahas mengenai ospek mungkin aku tidak akan ingat.
Seluruh pikiranku terkuras karena masalah alex. Ya walaupun kami masih intens berkirim pesan dan alex pun masih perhatian dan tidak berubah seperti sebelumnya, tapi tetap saja sku merasa alex berbohong.
" Kalian mau langsung pulang? " Tanyaku ke kim dan stefani yang duduk di dekatku
" Iya liz aku mau langsung pulang, ngantuk banget rasanya hari ini " Jawab kim sambil menguap
" Kamu jadi ketemuan sama steven? "
" Jadi, dia udah nunggu di taman kampus "
Sepanjang perjalan dari kelas ke taman kampus stefani mencoba untuk menenangkan aku yang katanya terlihat galau
" Tenang liz, aku coba cari kabar juga kok ke teman temanku yang lain tentang alex, aku bahkan sampai cek sosial medianya, tapi sejauh ini belum ada yang mencurigakan selain alex yang berbohong kemarin " Ucap stefani seraya merangkulku
" Iya stef, aku dan alex juga masih berhubungan seperti biasa, seperti tidak ada yang berubah. Ya semoga kemarin hanya salah paham saja ya "
Dari kejauhan aku melihat steven sudah duduk di bawah pohon rindang. Mengenakan jaket hoodie abu abu, celana jeans hitam dan sepatu kets.
" Widih tampil banget nih yang mau kerja kelompok " Ujar stefani menggoda stevan.
" Haha bisa saja, soalnya kan nanti mau liburan akhir tahun, takutnya pada pulang kampung susah lagi kan mau ngebahas ini "
" Iya deh iya, bakal susah ketemu juga ya steve, bakal kangen dong sama liz? " Stefani masih menggoda steven yang hanya bisa senyum senyum.
" Sudah jangan di godain terus nanti nangis loh haha " Kim berusaha menimpali yang mana stefani semakin tertawa.
" Ya sudah kita pulang dulu yaa, titip temen kita ya steve. Kalo udah selesai sekalian anterin pulang, soalnya lagi ga bawa motor dia "
" Tidak usah, aku pulang naik ojek online saja nanti " Jawabku sambil membuka buku notes ku
" Ya kalo ada yang bisa nganter kenapa harus naik ojek online liz, lagi juga kalian kan searah, steve juga ga keberatan kok. Ya kan steve? " Ujar stefani yang masih berusaha
" Iya tidak apa apa nanti aku antar pulang, sejalan kok liz " Ujar steven.
" Nah kan enak kalo gitu, ya sudah ah pulang yaa kita " Dan kedua sahabatku meninggalkan aku dan steven.
Steven mulai membahas round down acaranya. Membahas bagaimana teknisnya nanti agar acara berjalan kondusif.
" Kamu ada ide lain ga liz? " Tanya steven
__ADS_1
" Hmm belum kepikiran sih, nanti kalau ada ide aku info kamu ya. Berarti sementara yang final yang kita bahas sekarang dulu ya? "
" Iya sementara itu dulu deh, nanti kalo kamu atau aku ada tambahan tinggal saling info saja yaa, ya walaupun pesanku tidak pernah kamu balas sih " Ujar steven sambil memasukan alat tulisnya kedalam tas kanvas hitam polos.
Ada perasaan bersalah mendengar steven mengatakan itu. Sejujurnya sudah beberapa kali aku ingin membalas pesannya yang selalu ia kirimkan setiap hati kepadaku, tapi rasanya canggung sekali dan akhirnya bingung harus membalas apa.
" Liburan akhir tahun pulang kampung liz? "
" Pulang sepertinya "
" Bareng yuk naik kereta "
Aku baru ingat kampung halaman steven ini kalo naik kereta posisinya setelah kampung halamanku. Tapi tentu saja aku tidak mau diajak pulang bareng
" Tidak ah "
" Kenapa? "
" Ya ngapain harus pulang bareng kamu, sendiri saja aku bisa "
" Ya kan biar ada yang jagain " Aku langsung meliriknya jutek
" Nah gini dong mukanya jutek lagi, sepanjang kita diskusi wajah kamu sedih terus. Aku kan jadi tidak enak, orang orang akan berpikir aku yang bikin kamu nangis haha "
" Kamu pulang tanggal berapa? Biar aku beli tiket di tanggal yang sama"
" Tidak usah, aku tidak butuh perlindungan. Apalagi dari kamu "
Mendengar jawabanku steven hanya tertawa. Lebih baik aku tidak pulang daripada harus pulang kampung bersama steven, sudah kebayang aku akan jadi objek keisengannya sepanjang jalan
" Aku beneran loh, kabari aku yaa "
" Aku mending naik pesawat atau tidak udah pulang sekalian daripada pulang bareng kamu "
" Ya ampun segitunya, kapan lagi coba kamu pulang di kawal laki laki tampang dan kuat sepertiku " Ujar steven sambil mencoba menunjukan otot otot di bahunya, konyol sekali.
" Kalo kamu menggoda aku terus, aku pulang naik ojek online saja " Ujarku cemberut.
" Iya iya aku berhenti deh. Ayo aku antar pulang "
Sepanjang perjalan steven tidak berhenti bicara. Bicara apapun, ya cuaca , ya kuliah kami, ya liburan akhir tahun bahkan sekedar memberitahu makanan yang enak di sepanjang jalan yang kami lewati.
__ADS_1
Handphoneku berbunyi, ada pesan masuk dari alex yang bertanya aku ada dimana. Aku jawab jalan pulang ke indekost. Selanjutnya alex tidak balas apapun.
Memasuki area indekost, aku lihat motor alex sudah terparkir didepan kamar kost ku. Dan diatasnya sudah ada alex yang memandangku dengan wajah marah.
" Oh jadi pulangnya diantar laki laki " Baru saja motor steven berhenti, alex sudah langsung mendekati kami dan bicara seperti itu.
" Ini temanku steven, steven kenalkan ini alex " Jawabku mencoba memperkenalkan keduanya.
" Kok tidak memperkenalkan aku sebagai pacarmu? " Tanya alex dengan nada marah.
" Steven sudah tau kok " Jawabku asal, tentu saja steven belum tau jika laki laki yang tiba tiba marah ini adalah pacarku.
" Oh teman curhat rupanya, sejauh apa curhat curhatan? Atau jangan jangan dia pacar kamu juga? "
Steven yang sedari tadi hanya diam mencoba menjelaskan " Bro santai bro, aku sama liz hanya teman kampus saja. Tadi habis diskusi masalah kegiatan ospek lalu karena liz tidak bawa motor aku aju antar pulang
" Tidak usah ikut campur bro " Ucap alex sambil mendorong pundak steven.
" Kamu apa sih, ngapain marah marah begitu. Berlebihan tau ga. Udah steve pulang saja, makasih ya sudah diantar "
" Eh enak saja , jelasin dulu semuanya baru pergi " Alex mendorong pundak steven lagi.
Steven pun akhirnya turun dari motornya dan melepas helmnya. " Penjelasan apa yang mau kamu dengar dariku? " Tanya steven
" Wah nantang kamu yaa " dan alex mendaratkan pukulannya di wajah steven. Steven pun tersungkur.
" Bangun " Ujar alex
" Kamu apa apaan sih, tiba tiba marah tidak tau karena apa. Kemarin saja kamu berbohong aku tidak ada marah seperti ini"
Marah sekali aku melihat alex yang tiba tiba memukul steven seperti itu.
" Oh mau bahas masalah kemarin di depan pacar kamu ini hah? Aku sudah jelaskan masih tidak percaya rupanya " Ujar alex sambil mencoba memukulku tapi tidak kena karena steven sudah ada di depanku.
" Bro tidak usah kasar sama perempuanlah. Kalo memang niat kamu mau berantem sini sama yang laki laki "
" Wah nantang "
Alex langsung melayangkan pukulan kepada steven dan perkelahian pun tidak bisa di hindari lagi.
Beberapa orang di indekost ku sudah mulai keluar karena mendengar keributan. Aku mencoba menghentikan keributan itu tapi tidak bisa.
__ADS_1
Akhirnya penjaga indekost ku membawa beberapa orang dan memisahkan mereka. Terlihat alex yang masih mencoba untuk memukul steven dan berbicara kasar. Sedangkan steven terlihat lebih tenang.
Setelah di pisahkan oleh beberapa orang, alex pun meninggalkan indekost ku. Aku hanya bisa menangis karena malu dan tidak menyangka alex yang biasanya lembut bisa berbuat arogan seperti ini.