Sungguh, Cinta Adalah Sebuah Misteri

Sungguh, Cinta Adalah Sebuah Misteri
Mamah dan Papah Steven bertengkar


__ADS_3

Ketika kami masih asik mengobrol, terdengar suara pengumuman bahwa jam besuk sudah habis.


Kim dan stefani pun berpamitan. "Cepat sembuh ya steve, yaa kalo recoverynya di temani pacar harusnya lebih cepat sih ya sembuhnya " Steve hanya tersenyum mendengar ucapan stefani.


Setelah kedua sahabatku pulang, suasana terasa agak kikuk maklum saja namanya juga baru jadian.


Aku masih malu menatap mata steven. Sesekali steven menggodaku dengan memegang tanganku atau menatap aku terus.


" Kamu jangan gitu dong, aku malu nih " Ujarku sambil menutup wajahku dengan tangan


" Masa pacarnya ngeliatin malu "


" Kamu lagi sakit masih iseng saja "


Tidak lama pintu di ketuk dan makan siang untuk steven datang.


Aku langsung mencuci tanganku sebelum menyuapi steven.


Menu hari ini Nasi putih, dada ayam rebus, sayur sop, tumis tahu dan buah pisang.


" Kamu mau langsung makan berat atau makan langsung makan pisang? "


" Makan pisang dulu saja "


Aku mulai menyuapi steven dengan telaten. Untungnya walaupun sakit, nafsu makan steven tidak menurun. Dia masih makan dengan lahap meskipun aku yakin makanan rumah sakit pasti kurang enak.


Setelah makan aku bantu steven untuk minum obat. Ada 4 obat yang harus steven minum, dan aku baru tau jika steven tidak bisa langsung minum obat tablet.


Jadi aku harus menggerus semua obatnya, lalu aku larutkan satu persatu obatnya dengan air baru steven bisa menelan obat itu. Persis dengan anak kecil hehe


Setelah minum obat aku mengoleskan salep di luka lecet di beberapa bagian tubuh steven. Ini bagian paling canggung.


Waktu mengoleskan bagian di tangan, aku masih biasa saja karena tidak harus bertatapan dengannya.


Namun pada saat mengoleskan bagian wajah, walaupun aku tidak menatap wajah steven tapi aku yakin steven menatap wajahku terus.


" Kamu liat yang lain dong, aku malu diliatin terus " Ujarku sambil terus mengoleskan salep


" Aku kangen, seneng juga karena akhirnya kita berpacaran. Masa ga boleh liatin saja "


" Tapi aku malu steven, jadi tidak konsen "

__ADS_1


Jarak wajahku dengan wajah steven sangat dekat, kami bisa merasakan nafas kami masing masing. Tapi tidak ada yang terjadi selain aku yang mencoba konsentrasi mengoleskan salep dan steven yang terus menatapku.


Selesai mengoleskan salep, ada pesan masuk di handphoneku. Rupanya pesan di group dari stefani yang mengirimkan makanan untukku dengan ojek online, dan ojek onlinenya sudah tiba di lobby


" Aku ambil makanan dulu di lobby ya "


" Jangan lama lama, aku masih kangen "


" Ih kamu " Aku langsung keluar dari kamar rawat menuju lobby dan mencari abang ojek online.


Ketika ketemu aku langsung ambil makanannya dana langsung menuju kamar steven lagi.


Sesampainya di kamar, steven sudah tertidur. Mungkin efek dari obat yang baru ia minum.


Aku mulai membuka makanan dari steven, ada bebek goreng kesukaan aku dengan sambal bawang, wah ini sih tidak bisa makan dengan sendok.


Aku mencuci tanganku dan mulai makan bebek gorengnya. Lahap sekali aku makannya, entah karena lapar atau karena sudah lama tidak makan bebek goreng.


Selesai makan bebek goreng, steven masih tidur. Setelah mencuci tangan, aku duduk di samping kasur steven dan mulai memejamkan mata.


Dalam tidurku, aku bermimpi kencan dengan steven, kami naik gunung berdua. Steven tampak gagah dan tampan dengan kaos navy dengan celana cargo pendek warna coklat.


Sesekali steven mengandeng tanganku dan menatap aku, memastikan apakah aku masih kuat menanjak, atau apakah aku haus.


Sampai akhirnya kami tiba di puncak dan melihat pemandangan yang sangat indah. Steven memelukku dari belakang dan kami menikmati pemandangan indah itu bersama.


Mungkin karena mimpiku yang indah, aku terbangun karena mendengar suara tertawaku sendiri.


Aku lihat steven sedang memandangku sambil senyum senyum. " Mimpi apa sih kok seneng sekali, sampai senyum dan tertawa begitu "


Aku langsung menegakan posisi badanku. " Aku tadi mimpi naik gunung dan sampai puncak " Jawabku.


" Ketawanya karena sampai puncak? " Tanya steven heran " Iya " Jawabku singkat.


" Sama siapa naik gunungnya? "


Aku berfikir sejenak harus menjawab apa dengan pertanyaan steven.


Akhirnya aku menjawab sendiri karena jika aku jawab ada steven dalam mimpiku, dia pasti akan meledekku.


" Oh " Jawab steven sambil senyum senyum.

__ADS_1


Tiba tiba tirai di kasur steven terbuka. Masuk seorang ibu dan bapak yang kemudian aku tau bahwa itu adalah ibu bapaknya steven.


" Steven, kenapa bisa seperti ini nak " Ibu steven langsung masuk dan memegang kepala steven.


Ayahnya juga langsung mendekati steven " Gimana kata dokter kondisinya "


" Tangan kiri aku geser dan kaki kananku patah. Sementara di pasang gips saja dan harus istirahat total "


" Maafkan mama ya nak karena baru bisa datang sekarang "


Aku hanya diam memandangi adegan di depanku sampai akhirnya steven memperkenalkan aku.


" Kenalin ma, pa teman steven " Aku cukup terkejut karena steven memperkenalkan aku kepada kedua orangtuanya sebagai teman


" Terima kasih ya sudah membantu merawat steven selama kami belum datang " Ucap ibu steven sambil menepuk pundak kananku.


" Iya tante sama sama "


" Sudah kamu di rawat di rumah saja, kalau disini siapa yang akan menjaga kamu " Ucap ayah steven.


" Iya kamu dirawat di rumah saja ya nanti mama yang menemani kamu, kalo papa kamu kan tidak akan bisa karena terlalu sibuk " Ucap ibu steven.


" Apa pentingnya kamu bicara seperti itu dihadapan teman anakmu, punya pikiran tidak kamu " Ayah steven marah mendengar ucapan dari ibu steven.


" Ya memang kamu tidak ada waktu kok, kamu kan terlalu sibuk, entah sibuk kerja atau sibuk dengan yang lain " Ibu steven tidak mau kalah.


Rasanya aku ingin menghilang saja karena berada di tempat dan waktu yang salah. Tapi aku juga tidak berani memotong pertengkaran orang tua steven.


" Kalo pada datang hanya untuk bertengkar mending pulang lagi saja, aku bisa kok mengurus diriku sendiri tanpa bantuan mama papa "


Akhirnya pertengkaran mama dan papanya steven mereda.


" Sudah liz kamu pulang dulu, kasian kamu harus melihat orang tua aku bertengkar begini di rumah sakit "


Akhirnya aku mengemasi barang barangku, berpamitan pada steven dan kedua orang tuanya dan pergi meninggalkan kamar steven.


Beberapa menit di dalam sana dan melihat kedua orang tua steven seperti itu, aku sudah cukup tau kondisi mama papa steven tidak baik baik saja.


Walaupun mereka datang berdua, tapi auranya sungguh tidak harmonis. Ada rasa iba kepada steven, karena harus menyaksikan hal itu padahal dia sedang membutuhkan ketenangan untuk kesembuhannya.


Handphoneku bergetar menandakan ada pesan masuk. Rupanya dari steven dan berisi " Maaf ya liz kamu harus pulang, kabari aku jika sudah sampai kostan "

__ADS_1


__ADS_2