
Tanggal 20 akhirnya tiba yang berarti liburan akhir tahun sudah di mulai. Aku akan pulang kampung selama 10 hari.
Tadi malam amu sudah packing barang barang yang aku butuhkan. Semua baju, skincare dan kameraku sudah terpacking rapih di dalam tasku.
Walaupun aku dan steven berangkat di tanggal yang sama, tapi untuk kepulangan aku berangkat lebih dulu karena memulai perkuliahan lebih awal di banding steven.
1 jam lagi kereta kami berangkat, aku dan steven sudah janjian untuk bertemu di stasiun kereta di peron 10
Dari percakapan aku dengan steven, dia sudah berangkat dari indekostnya 30 menit yang lalu, harusnya beberapa saat lagi dia sudah sampai di stasiun
Sambil menunggu steven, aku membeli camilan di minimarket dalam stasiun yang nantinya akan aku makan bersama steven.
Aku coba telpon steven tapi tidak diangkat, aku kirim pesan dari 30 menit yang lalu tidak di balas.
Aku mulai khawatir, karena 15 menit lagi kereta kami akan berangkat tapi steven masih belum ada kabar
Pengeras suara sudah memberitahukan bahwa keretaku sudah siap untuk berangkat
Aku bergegas memasuki gerbong kereta menuju kursi aku dan steven, berharap steven sudah ada di kursinya tapi begitu aku sampai steven belum juga tiba.
Aku mencoba menelponnya berkali kali tapi masih tidak diangkat. Aku benar benar khawatir sesuatu terjadi dengan steven.
Sampai akhirnya kereta kami jalan steven masih belum juga ada kabar dan aku sangat khawatir, takut hal buruk terjadi padanya
Aku coba mengirim pesan di group, siapa tau kedua sahabatku tau kabar mengenai steven
" Stef, ada kabar tentang steven tidak ya? Seharusnya jam 1 ini aku dan dia sudah ada di kereta tapi sampai keretaku jalan dia masih tidak bisa aku hubungi "
Tidak lama stefani menjawab " Hah ketinggalan kereta dia? Kesiangan kali bangunnya. Kasihan sekali jika benar "
" Terakhir dia kirim pesan sudah jalan ke stasiun kok, aku cemas banget takut steven kenapa napa "
" Haduh jadi khawatir juga aku kalo gitu, coba aku cari cari kabar sana anak kampus kali saja ada yang tau kabarnya "
__ADS_1
" Iya stef, tolong kalo ada kabar hubungi aku ya "
Sepanjang perjalan aku tidak bisa tidur, masih mencoba hubungi steven berkali kali dan hasilnya masih nihil.
Aku mengecek group kampus dan group kepanitiaan ospek tapi tidak ada kabar apa apa.
Kamu dimana steven, tolong jangan buat aku khawatir. Tanpa terasa air mataku terjatuh, pikiran aku sudah terlalu kalut dengan steven yang tidak ada kabar. Dia tidak pernah seperti ini, dia selalu bisa di hubungi dan tidak mungkin tidak membalas pesan dariku.
Berjam jam berlalu tanpa terasa aku sudah sampai di kampungku. Keluar dari stasiun aku sudah melihat ayah dan ibuku menunggu di kursi kedatangan.
Aku hampiri kedua orang tuaku dan mencium tangannya.
" Gimana perjalananya nak? " Tanya Ibu
" Lancar bu, ibu bapak sudah menunggu lama?
" Tidak baru sekitar 10 menit lalu kamu datang. Kamu kok kurusan ibu liat, jarang makan ya? "
Begitulah ibu, setiap bertemu denganku selalu bilang aku kurusan dan menghawatirkan aku jikalau selama aku merantau makanku tidak benar.
Banyak tanaman tanaman lain yang hijau hijau karena ibu memang suka bercocok tanam dan menata taman di halaman depan. Mungkin jika ibu tidak menjadi ibu rumah tangga, ibu bisa bekerja sebagai penata kebun profesional, karena hasil penataan ibu begitu rapih dan indah.
Masuk ke dalam rumah udaranya terasa dingin, rumahku memang berada di dataran tinggi, sehingga udaranya masih sejuk dan terasa dingin
" Kamu mandi dulu nah, habis itu makan malam yaa. Sebentar lagi adikmu asih akan pulang " Ucap ibuku sembari melepas kacamatanya dan di taruh di rak atas meja.
" Iya Ibu " Jawabku sambil menuju ke dalam kamarku
Kamarku masih rapih dan semua benda masih berada di tempatnya, ibuku memang sangat resik mengurus rumah
Aku cek handphoneku dan belum ada kabar dari steven ataupun stefani. Nomor steven masih aktif tapi tidak diangkat
Sudah lama aku tidak maka. Malam bersama keluargaku. Hari ini ibu memasak banyak lauk, padahal kami hanya makan berempat.
__ADS_1
Sepanjang makan kami banyak mengobrol, ayah dan bu menanyakan bagaimana kuliahku. Dan asih katanya nanti mau kuliah di kampusku juga, mau ikut merantau bersamaku.
Tapi ayahku bum mengizinkannya, karena rumah pasti akan terasa sepi jika di rumah hanya ada ibu dan ayah.
Setelah makan malam kami menonton tv, ada acara ajang pencarian bakat bernyanyi kesukaan ibuku.
Seru sekali rasanya menghabiskan malam ini bersama keluargaku, walaupun kegiatan kami hanya makan bersama dan nonton tv di rumah
Jam sudah menunjukan pukul 11, kami semua sudah masuk ke kamar masing masing.
Setelah merebahkan badanku di kasur, aku mengecek handphone yang selama aku makan sengaja aku tinggal di kamar.
Ternyata ada beberapa pesan masuk dan telpon masuk dari stefani. Pertama aku buka pesan di group kampus berisi " Telah berpulang teman kita semua steven wijaya jam 1 siang ini dikarenakan kecelakaan motor "
Aku tidak sanggup lagi melanjutkan membaca pesan broadcast tersebut. Dadaku terasa sesak, tidak menyangka steven tidak datang hari ini karena mengalami kecelakaan dan meninggal dunia.
Baru minggu ini aku merasa dekat dengan steven tapi ternyata Tuhan punya kehendak lain.
Aku menelepon stefani dan nangis sejadi jadinya dan stefani pun menangis. Kami berdua merasa tidak menyangka steven pergi secepat itu.
Karena aku menangis sesenggukan, ibuku masuk kedalam kamar dsn bertanya mengapa aku menangis?
Aku jawab bahwa teman kampusku yang seharusnya pulang bersamaku meninggal dunia karena kecelakaan.
Ibu memelukku dan mencoba menenangkan kau. Ayahku bahkan mengambilkan. Minum untukku.
Steven kenapa kamu begitu cepat meninggalkan aku, belum sempat aku membalas semua pesan pesan yang kamu kirimkan setiap hari.
Kamu mengajakku untuk pulang kampung bersama tapi kamu tidak menepati janjimu.
Malam itu, aku membaca dan membalas semua pesan yang steven kirim selama ini. Aku membalas ketika ia bercerita tentang kesehariannya, kegiatan sepedanya, tugas tugasnya bahkan cerita tentang orang tuanya yang ingin bercerai.
Diluar pesan yang dia kirimkan setiap hari padaku, dia tidak pernah curhat mengenai apapun. Pada saat kami berduapun, dia lebih mendengarkan ceritaku, menanggapi ceritaku dan tertawa bersamaku.
__ADS_1
Malam itu aku habiskan mengenang kebersamaan aku bersama steven. Dari mulai awal aku benci dengan steven, dia yang sering menggodaku, dia yang begitu baik dan perhatian ketika ada masalah dengan alex.
Aku baru saja membuka hatiku padamu steve, mengapa kamu pergi begitu cepat.