
Aku sedang mengecek kembali barang barang yang akan aku bawa. Hari ini aku akan kembali ke jakarta.
" Di cek lagi semuanya nak, jangan ada yang ketinggalan ya " Ujar ibu saat membantu aku merapihkan barang barangku.
1 jam lagi keretaku akan bertolak dari kampung halamanku menuju jakarta. Ayah dan ibu sudah bersiap mengantarkan aku ke stasiun kereta.
Setelah semuanya sudah selesai aku packing, berangkatlah kami menuju stasiun. Di dalam perjalanan kami mengobrol dan bercanda sambil sesekali bernyanyi saat lagu favorit kami di putar di radio.
Sesampainya di stasiun aku langsung berpamitan dengan kedua orang tuaku, karena jadwal keberangkatan kereta tinggal 20 menit lagi
" Kamu jaga diri ya nak, makan yang teratur, tidur yang cukup ya " Ujar ibu sambil memelukku erat
" Iya Ibu, aku berangkat dulu ya bu "
Setelah berpamitan aku bergegas ke keretaku, menyelusuri peron, masuk ke dalam gerbong dan mencari kursiku nomor 17C.
Beruntung aku tiba tepat waktu, karena tidak lama duduk di kursi, ada pengumuman bahwa keretaku akan jalan.
Sepanjang perjalanan aku berkomuninasi dengan steven, menanyakan bagaimana kabarnya hari ini.
Kondisi steven sudah lebih baik, walaupun masih belum bisa melakukan semua kegiatannya sendiri, masih dibantu oleh kang dayat.
" kamu kira kira sampai jam berapa? " Tanya steven
" Mungkin sekitar jam 1, nanti aku langsung menjenguk kamu ya "
" Kalo capek tidak usah liz, kasihan kamu "
" Tidak apa apa, mumpung aku masih libur kuliah 2 hari jadi kang dayat bisa istirahat dulu. Kasihan kang dayat tidak ada menggantikan "
Akupun mengabari kedua sahabatku, untuk mengajak mereka menjenguk steven di rumah sakit. Dan untungnya mereka sedang ada waktu dan bisa ikut menjenguk steven.
Stefani dan kim akan menjemput aku di stasiun, aku sudah memberitahukan pada mereka jika aku akan tiba jam 1 siang ini.
Sisa perjalanan aku gunakan untuk tidur, lumayan bisa tidur 2 jam sampai nanti tiba di jakarta.
Beruntung aku duduk sendiri dan sebelah kursiku kosong jadi aku bisa beristirahat.
Aku terbangun setelah mendengar pengumuman bahwa kereta kami sudah mau masuk stasiun gambir.
__ADS_1
Buru buru kurapikan semua barang barangku, mengecek dompet, tiket, handphone san barang penting lainnya. Aku pastikan tidak ada barang yang tertinggal.
Kedua sahabatku sudah menunggu di parkiran, aku akan menelepon mereka jika aku sudah sampai di lobby stasiun agar mereka bisa langsung menjemputku di lobby.
" Liz kangen sekali aku " Ujar kim yang langsung heboh begitu aku masuk kedalam mobil.
" Aku juga kangen kalian, liburan kalian gimana? " Tanyaku penasaran
" Aku tidak kemana mana benar benar hanya di rumah saja " Jawab kim
" kalo aku sempat keluar kota 2 hari sama keluargaku, sisanya ya sama seperti kim hanya di rumah saja " Stefani menambahkan.
" By the way steven sudah di kasih tau kalo kita akan menjenguknya? "
" Aku sudah memberitahukan steven kim "
Jalanan hari ini lebih macet dari biasanya dan ternyata ada kecelakaan antara mobil dan motor sehingga mengakibatkan macet.
Sepertinya kejadiannya baru saja terjadi, karena korban masih ada di trotoar dengan di tutupi terpal dan belum ada polisi yang mengamankan tempat kejadian.
Aku lihat motornya sudah ringsek tidak ada bentuknya. Sedangkan bagian depan mobil juga rusak dan kaca mobil pun pecah. Melihat kondisi kendaraanya, sepertinya kecelakaanya lumayan parah.
Akhirnya kami sudah tiba di rumah sakit. Kami langsung menuju ke ruang perawatan steven. Untungnya pas dengan waktu besuk, jadi kami bertiga bisa masuk.
Sesampainya di kamar rawat steven, aku langsung membuka pintu. 1 kamar ada 4 orang, tapi yang terisi hanya 2 orang saja.
Begitu aku buka tirai di kasur steven, terlihat steven sedang tidur. Banyak luka di wajah dan tangannya. Tangan dan kakinya di gips dan ada beberapa infus yang menggantung.
Pada saat kami tiba kang dayat sedang duduk di dekat steven. Kami langsung menyapa dan menyalami kan dayat. Aku bilang pada kang dayat bisa pulang dulu untuk istirahat, biar aku yang menjaga steven selama 2 hari.
Kang dayatpun berpamitan dengan membawa tas gemblok warna hitam. Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih pada kang dayat yang sudah bersedia membantu menjaga steven.
Setelah kang dayat pergi, kim menaruh buah dan bawaan lain di atas meja. Steven masih tertidur pulas, kami tidak tega membangunkannya.
Aku lihat wajahnya penuh dengan luka dan banyak lebam. Sepertinya kecelakaan steven *** parah jika melihat kondisinya sekarang.
Tidak lama dari kami datang steven akhirnya bangun. Kami bertiga menyapanya dan menanyakan bagaimana keadaanya hari ini.
Suara steven masih terdengar lemah dan sesekali meringis menahan sakitnya. Akhirnya kami bertiga memutuskan untuk tidak menanyakan apapun dan hanya menghibur steven dengan becandaan kami.
__ADS_1
" Makasih banyak ya sudah meluangkan waktu menjenguk aku " Ucap steven lirih
" Santai steve, kita khawatir banget sama kondisi kamu, apalagi ada kabar hoax kemarin aduh aduh rasanya tidak karuan " Ujar stefani.
" Apalagi liz nih, begitu mendengar kabar hoax kemarin, tiap hari kerjaannya menangis. Sekarang kayanya sudah tenang ketemu kamu " Kim menimpali.
" Ya gimana ga kaget coba, sudah harusnya pulang bareng dia ga nongol nongol, denger kabar dia meninggal lalu beberapa hari dapat pesan kalo dia masih hidup, kan rasanya gimana coba " Ujarku.
" Tapi sekarang seneng kan udah lihat aku baik baik saja " Ujar steven.
" Seneng apa, orang pas aku buka tirai lihat kamu banyak luka gitu. Gips di tangan dan kaki, gimana bisa senang "
" Tunggu deh, kalian pacaran ya? " Tanya stefani tiba tiba yang membuat wajahku panas karena malu.
" Ih apa sih stef " Ujarku sambil cemberut.
" Ya habis dari tadi aku perhatiin mesra banget sampe berantem berantem kecil lagi kaya orang pacaran haha "
" Maunya sih gitu ya stef, tapi belum di terima nih " Aku langsung melihat steven.
" Emang sudah nembak? Kok liz tidak cerita " Kim penasaran.
" Tidak usah di dengerin, kaya tidak tau stefen saja. Nembak tidak tapi minta di terima " Di akhir kalimat aku baru merasa sepertinya aku salah bicara. Kalimat aku barusan terdengar seperti kode untuk steven.
" Jadi kalo aku tembak, kamu mau jadi pacarku? " Tanya steven kemudian.
Mendengar ucapan steven, sepertinya benar ucapan aku sebelumnya seperti kode untuk steven
" Jawab liz, steven nungguin tuh " Stefani seperti biasa sangat bersemangat
" Dia bercanda itu stef, kaya tidak kenal.steven saja " Jawabku, dan aku tidak berani menatap steven.
" Aku serius liz, maukah kamu menjadi pacarku? "
Aku menatap wajah steven dalam dalam, melihat apakah dia bercanda atau tidak
" Jawab don liz, kita nungguin loh " Kim pun ikut bersemangat seperti stefani.
Aku hanya mengangguk, dan kedua sahabatku langsung heboh. Benar benar deh mereka ini.
__ADS_1
Akhirnya aku resmi berpacaran dengan steven.