
Ketika sudah sampai di depan gerbang rumah Zetta dan dengan sedikit ragu Zetta menwarkan Daniel untuk mampir sebentar ke rumahnya hanya untuk sekedar basa-basi saja. Karena Daniel sudah mengantarkan Zetta pulang ke rumahnya meskipun sebenarnya Zetta tidak mau diantar pulang oleh Daniel jika bukan karena terpaksa dan merasa tidak enak jika menolak ajakan Daniel untuk mengantarnya pulang.
"ehm, kak mau mampir ke rumah saya dulu nggak kalo tidak juga saya tidak maksa anggap saja sebagai rasa terimakasih saya karena kakak sudah mengantarkan saya pulang" ucap Zetta dengan agak ragu.
"ehm, boleh juga sekalian memastikannya keadaan Lo lagi sama ada yang mau gue tanyakan sama Lo" jawab Daniel menatap datar Zetta.
*ya ampun, gue kan cuma basa basi aja dia malah mau lagi aduh Ze kenapa sih bodoh banget Lo*batin Zetta menyesal.
"eh, kalo memang kakak mau ya tidak apa-apa mungkin ada yang perlu kakak bicarakan sama saya" Zetta tersenyum canggung.
Gerbang rumah Zetta terbuka otomatis ketika mobil Daniel hendak masuk ke halaman rumah kemudian dengan sedikit tersenyum paksa Zetta mengajak Daniel untuk masuk ke dalam rumahnya.
Di dalam rumah sepi tidak ada keluarga Zetta hanya pembantunya saja yang ada di rumah kakak Zetta belum pulang kuliah sedangkan kedua orangtuanya masih bekerja dan pulang larut malam sehingga sekarang Zetta hanya bersama dengan pembantunya saja.
"eh, kok non Zetta udah pulang bukanya seharusnya belum pulang ya terus kenapa wajah non kok pucet banget ada apa non" bibi Siti khawatir dengan Zetta.
"itu bi tadi ada insiden di sekolah eh bukan di tempat MOS jadi Zetta udah pulang sekarang, wajah Zetta nggak apa-apa kok bi cuman lemes dikit aja"jawab Zetta.
"jangan bohong non bibi tahu ini pasti karena hantu lagi kan non, kenapa sih kok non susah sekali di bilangin kalo ada apa-apa sama non gimana nenek non udah titip non sama bibi nanti nyonya bisa marah non" ucap bibi Siti memegang wajah Zetta.
"nggak apa-apa bi, udah ya Zetta nggak apa-apa kok bibi nggak usah khawatir sama Zetta istirahat sebentar pasti untuk sembuh kok Zetta. bi buatin minuman hangat buat Zetta terus minuman buat kakak kelas Zetta" ucap Zetta.
"eh aduh sampai nggak sadar bibi, iya non bibi buatkan" bibi Siti lalu pergi ke dapur.
Zetta mempersilahkan Daniel untuk duduk dulu di sofa ruang tamu menunggu minuman datang dan juga mungkin ada yang ingin Daniel katakan padanya.
"Ze, apa pembantu Lo tahu kalo Lo bisa lihat hantu sampai dia khawatirkan sama Lo"tanya Daniel.
"udah kak, semenjak nenek saya masih hidup bibi Siti udah tahu kalo saya bisa lihat hantu dan dia selalu menjaga saya jika sesuatu terjadi dengan saya" jawab Zetta.
"pantesan aja sampai seperti itu, sebelumnya gue nggak nganggu Lo kan kalo gue mampir ke rumah Lo gue tahu Lo cuma basa basi aja sama gue tadi. tapi ada yang mau gue tanyakan sama Lo" Daniel menatap mata sayu Zetta.
"nggak apa-apa kak, apa yang mau kakak tanyakan soal yang kakak tanyakan tadi sama saya mengenai apa yang terjadi tadi di hutan" Zetta mencoba untuk tersenyum.
"iya sebenarnya gue masih nggak paham sama apa yang Lo bilang dan kenapa Lo bisa tahu tentang gue padahal gue sama sekali nggak tahu soal itu" jujur Daniel mengutarakannya.
"saya tadi kan sudah bilang jikalau nenek kakak sama seperti nenek saya dan kakak juga sama dengan saya, sebelum nenek saya meninggal beliau pernah berkata jika saya harus mencari teman neneknya yang saya juga tidak tahu siapa" Zetta menghela nafas sejenak.
__ADS_1
"saya ingin bertanya tapi nenek sudah tidak bernyawa saat itu sehingga saya juga sempat bingung siapa orang itu sudah cukup lama saya mencari tapi tidak ketemu juga, dan setelah kejadian tadi saya melihat masa lalu kakak yang ternyata" Zetta sedikit ragu untuk mengatakannya.
"ternyata apa jangan bicara sepotong-sepotong, gue mau tahu apa yang lo lihat dari masa lalu gue" Daniel tidak sabaran.
"jadi ternyata nenek kakak itu teman baik nenek saya dan sudah berteman sangat lama sekali, dan nenek kakak sudah menutup mata batin kakak untuk menyelamatkan kakak dari orang yang ingin menyakiti nenek kakak lewat kakak" lanjut Zetta.
"karena ada yang istimewa dari kakak, sehingga waktu itu nenek kakak menutup mata batin kakak agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. kakak boleh percaya atau tidak sama saya tapi saya sama sekali tidak berbohong" ucap Zetta.
"gue masih nggak percaya tentang ini, tapi entah kenapa gue percaya sama apa yang Lo katakan dan entah kenapa gue jadi khawatir sama kondisi Lo sekarang" Daniel menatap Zetta.
"udah kak saya tidak apa-apa kok, ini nggak seberapa buat saya nanti juga baik sendiri kalo udah istirahat" ucap Zetta.
"wajah Lo pucet dan tangan Lo juga masih bilang nggak apa-apa, keras kepala banget Lo jadi orang apa Lo nggak takut kenapa-napa sama tubuh Lo apa" marah Daniel pada Zetta.
Bibi Siti datang membawa dua gelas minuman untuk Zetta dan Daniel seperti apa yang Zetta katakan tadi sedikit mendengar apa yang Daniel katakan tadi.
"non Zetta emang seperti itu den, tidak mau bilang jika dia kenapa-napa bibi kadang sampai risau dengan kondisi non Zetta apalagi sampai seperti ini. tapi tetap aja non Zetta nggak mau bibi khawatir sama dia memang non Zetta bandel den" bibi Siti menimpali.
"bibi, apaan sih kok bicara seperti itu nggak enak tahu nggak di dengarnya jangan lebay deh bi suka gitu deh" Zetta menatap bibi Siti.
"tuh kan non, eh iya Aden siapa ya kakak kelasnya non Zetta tapi kok perhatian sama non Zetta apa jangan-jangan Aden suka sama non Zetta ya" ucap bibi Siti asal.
"ih, enggak lah bi baru aja kenal apaan sih bibi suka ngawur deh lagian kita cuma adik kelas sama kakak kelas aja bi. awas ya bibi bilang yang aneh-aneh sama kak Zeno nanti" Zetta menatap tajam bibi Siti.
"eh, maaf non bibi kan cuma menduga aja kalo enggak ya maaf bibi cuma heran aja sih" bibi Siti tersenyum.
Tak lama kemudian kakak Zetta sudah pulang ke rumah dan masuk ke dalam rumah betapa terkejutnya dia melihat ada seorang laki-laki di rumahnya bersama dengan Zetta di ruang tamu.
"waduh, siapa Ze pacar baru Lo ya nggak bilang sama kakak nih nggak seru Lo mah" Zeno mengagetkan Zetta yang sontak di lempar bantal oleh Zetta.
"santai bos, parah banget Lo mah nggak malu apa sama pacar Lo yang liatin Lo nanti dia ilfeel loh sama Lo" Zeno tersenyum meledek.
"kakakkkkk!!, bisa nggak sih kalo bicara di ayak dulu jangan asal bicara enak aja bilang dia cowok gue, enggak ya dia cuma kakak kelas gue tahu nggak so nggak usah sok tahu" teriak Zetta pada Zeno.
"buset dah Ze, jangan teriak dong sakit nih telinga kakak kebiasaan banget jadi orang makan apa sih Lo tadi nggak enak tuh di lihat kakak kelas Lo" ucap Zeno menyadarkan Zetta.
*gila, gue pikir dia anak baik-baik ternyata bar-bar juga nih cewek tampangnya aja kalem aslinya bar-bar*batin Daniel.
__ADS_1
"sorry ya, adik gue emang kayak gitu udah kebiasaan dari orok jadi harap maklum aja dia nggak sesuai sama tampangnya yang kayak kalem aslinya mah bar-bar abis" ucap Zeno.
"kakakkkkk!!!, jangan mulai lagi ya selalu aja kayak gitu datang-datang bikin orang emosi aja. nggak tau apa lagi pusing pala gue" Zetta agak berteriak.
"eh iya Lo kenapa Ze kok wajah sama tangan Lo pucet sih, ada apa kenapa nggak minta kakak jemput aja tadi Lo nggak apa-apa kan" cecar Zeno baru menyadari kondisi adiknya.
"bisalah kak, ada masalah sedikit sama MOS gue hari ini pas ke hutan kebetulan hutan itu terlarangnya dan terkutuk sampai gue dan temen-temen gue kek gini" jelas Zetta.
"siapa yang suruh ke hutan sih kurang kerjaan banget nggak ada tempat lain apa, kok bisa mereka milih ke hutan sih aneh banget" marah Zeno.
"sorry kak ini salah gue kalo gue nggak kasih saran buat di hutan pasar Zetta nggak akan jadi seperti ini sekarang" jujur Daniel.
"Lo gila ya, kenapa bisa ke tempat kek gitu nggak ada tempat lain apa kalo ada apa-apa sama adik gue Lo mau tanggung jawab apa hah" murka Zeno pada Daniel.
"gue emang salah kak, gue nggak tahu akan jadi seperti ini akhirnya awalnya gue pikir akan baik-baik aja nggak tahu nggak jadi seperti ini" Daniel agak bersalah.
"lain kali kalo cari tempat yang bagus dikit nggak kasian apa sama adik kelas Lo, kakak kelas macam apa Lo nggak ada pikiran sama sekali" marah Zeno.
"kak udah ya bukan sepenuhnya salah dia kok ya, jangan marah-marah sama kak Daniel. gue nggak apa-apa kak udah ya jangan seperti ini gue nggak suka" Zetta memegang tangan kakaknya.
"gimana kakak nggak marah Ze lihat sekarang Lo jadi kek gini gara-gara dia" Zeno menunjuk Daniel.
"kak dia udah bantuin gue, jadi nggak perlu segitunya juga asal kakak tahu dia orang yang selama ini kita cari kak gue udah lihat sendiri tadi" ucap Zetta memberi tahu.
Zeno agak tertegun mendengar apa yang dikatakan oleh Zetta agak sedikit tidak percaya tetapi adiknya itu tidak pernah berbohong sekalipun padanya jadi Zeno menatap Zetta.
"beneran Ze, astaga nggak percaya kakak tapi Lo nggak pernah bohong sama kakak dan kalo itu bener berarti kita nggak usah cari lagi" ucap Zeno menatap Daniel.
"sebagai gantinya, Lo harus jagain adik gue selama di sekolah nantinya gue agak khawatir sama dia mungkin Lo bisa jaga dia. maaf sama apa yang gue bilang tadi" Zeno menepuk pundak Daniel.
"gue paham kok kak, gue akan sebisanya untuk jagain adik Lo gue juga ngerasa kalo gue harus jagain dia. karena udah ada kakak Lo gue pergi ya Ze cepat sembuh" Daniel untuk pertama kalinya tersenyum pada orang lain.
"iya kak, makasih udah anterin saya pulang" Zetta membalas tersenyum.
Daniel menatap Zetta sebentar lalu segera keluar dari rumah Zetta membiarkan Zetta untuk istirahat memulihkan tenaganya yang sudah cukup terkuras banyak juga karena sudah ada kakaknya yang akan menjadi Zetta.
Zeno membantu adiknya berdiri dan menuntunnya menuju ke kamar untuk beristirahat setelah apa yang terjadi padanya tadi dan tentunya Zeno akan menemani Zetta sampai Zetta kondisinya membaik.
__ADS_1