
Setelah dari rumah Zetta Daniel terus memikirkan apa yang dikatakan oleh Zetta yang masih saja janggal menurutnya dan tidak bisa di percaya sebelum dia mendengarkan secara langsung dari mulut kedua orang tuanya sendiri.
Ketika sampai di rumah secara kebetulan ada mobil orang tuanya yang terparkir di halaman rumah lalu Daniel buru-buru masuk ke dalam rumah.
Terlihat ada kedua orang tuanya sedang berbicara serius entah apa yang sedang mereka bicarakan karena sudah penasaran Daniel mendekati orang tuanya.
"loh kok kamu sudah pulang ke rumah, bukannya ada kegiatan di sekolah kamu tapi kok kamu pulang ke rumah" Devina ibu Daniel agak terkejut melihat anaknya sudah ada di rumah.
"ada insiden tak terduga saat sedang kegiatan makanya kegiatan di tunda beberapa waktu, ada yang ingin Daniel tanyakan pada kalian" jawab Daniel dengan ekspresi serius.
"ada apa emangnya sampai kegiatannya di tunda, apa ada masalah coba cerita sama mama" Devina menatap serius anaknya.
"tidak perlu dijelaskan mungkin kalian juga sudah tahu dari kepala sekolah tentang apa yang terjadi tadi di hutan" jawab Daniel dengan muka datarnya.
"sebenarnya iya, kamu tidak apa-apa kan tidak terluka atau bagaimana mama sangat risau dengan kamu maka dari itu kami buru-buru pulang. kakak mu tidak bisa dihubungi mungkin dia sedang sibuk makanya kami buru-buru pulang" Devina menatap lembut anaknya.
"aku tidak apa-apa hanya saja ada adik kelas ku yang terluka gara-gara kejadian tadi sampai salah satu di antara mereka sangat pucat dan cukup terluka dalam, jadi aku tadi mengantarkan dia pulang dulu" jawab Daniel dingin.
"astaga, kasian sekali dia sebenarnya kejadiannya seperti apa mama tidak terlalu mengerti dari mereka. kenapa bisa seperti itu" Devina cukup penasaran.
"aku tidak mau menjelaskan pada mama intinya sangat kacau sekali aku sampai merasa bersalah pada mereka kalo saja ada apa-apa dengan dia aku pasti tidak bisa memaafkan diri ku sendiri" Daniel masih merasa bersalah terhadap Zetta.
"sepertinya kamu cukup dekat dengan dia, tapi itu juga bukan salahmu mungkin sudah takdirnya seperti itu kamu tidak boleh menyalahkan diri sendiri atas kejadian tadi". Rendra ayahnya berbicaralah setelah diam.
"iya, yang terpenting dia tidak apa-apa kan mama dengar-dengar mereka perempuan apa itu benar dan kenapa mereka bisa melakukan hal seperti itu terutama anak perempuan yang kamu katakan tadi" tanya Devina.
"aku juga tidak tahu ma pa, tapi mereka istimewa terutama satunya aku saja masih tidak percaya dengan dia tapi itu memang kenyataannya. dia juga berbicara sesuatu dengan Daniel tadi" ucap Daniel mulai serius.
"namanya siapa sih mama jadi penasaran deh cantik nggak dia, mungkin bisa jadi pacar kamu loh mama lihat kamu sudah lama tidak berpacaran setelah itu" Devina agak bergurau.
"ma jangan bercanda Daniel serius sekarang lagipula dia cuman adik kelas aja nggak lebih, nggak usah bahas masa lalu Daniel udah lupa sama itu" Daniel agak emosi.
"iya deh maaf, apa yang sebenarnya mau kamu tanyakan pada kami sepertinya serius sekali" Devina mengalihkan perhatian.
__ADS_1
"apa sebenarnya Daniel juga bisa seperti dia dan apa nenek dulu seorang cenayang dan berteman dengan neneknya cewek itu, apa yang kalian tutupi dari Daniel selama ini" ucap Daniel sangat-sangat serius.
"kenapa dia bisa bicara seperti itu pada kamu, mungkin dia salah apa yang mama sembunyikan dari kamu" Devina agak panik.
"sudah lah ma jujur saja Daniel hanya ingin mendengar langsung dari mama agar bisa percaya dengan apa yang dia katakan" Daniel menatap tajam ibunya.
"apa kamu lebih percaya dengan dia daripada mama kamu sendiri, tidak ada yang mama sembunyikan dari kamu dia hanya berbohong saja" Devina mengelak.
"ma aku hanya ingin tahu saja, apa salahnya mama jujur padaku tidak apa-apa ma". Daniel memaksa.
"ma mungkin memang sudah saatnya dia tahu tentang apa yang terjadi sebenarnya dia sudah besar sekarang, biarkan saja dia tahu apa yang sebenarnya" Rendra menatap istrinya.
"hah, ya sudah berhubungan papa kamu sudah berbicara seperti itu mama akan sedikit ceritakan dengan kamu" Devina menarik nafas dalam-dalam dan hembuskan perlahan.
"apa yang dia katakan memang benar, ketika kamu masih bayi kamu sering sekali menangis setiap malam sampai kami heran dan nenek kamu memang seorang cenayang jadi dia bisa tahu apa yang terjadi dengan kamu" Devina mulai bercerita.
"nenek mu baru sadar jika kamu mewarisi ilmunya nenek mu itu tidak mau kamu kenapa-napa jadi akhirnya nenek mu menutup mata batin mu dan menutup rapat apa yang ada didalam diri mu, karena tubuh kamu masih kecil dan tidak bisa menahannya waktu itu kamu sering sekali sakit-sakitan jadi nenek mu melakukan itu padamu takutnya akan berbahaya dengan kamu" jelas Devina.
"juga nenek kamu memang memiliki teman yang sama seperti dia dan dulu mama juga pernah mendengar bahwa cucu perempuannya sama seperti kamu tapi bedanya dia sangat kuat bahkan bisa menahan apa yang ada di dalam dirinya, jadi nenek dia membiarkan dia seperti itu dan nenek mu sampai iri dengan cucu perempuan temannya yang sangat berbeda dari kamu" jelas Devina melanjutkan ceritanya.
"sekarang aku baru benar-benar percaya setelah apa yang mama ceritakan jadi dia tidak berbohong kepada ku, dia memang perempuan yang sangat kuat sekali ma aku saja heran dengan dia" Daniel sedikit tersenyum.
"ya dia memang berbeda, ada satu hal lagi yang mau mama sampaikan sama kamu" Devina menatap lekat anaknya sedangkan Daniel hanya menatap ibunya dengan cukup bingung.
"jadi nenek kamu bilang agar kamu menjaga cucu perempuan temannya itu yang namanya Zetta kalo tidak salah, dia memang cukup tangguh namun dia sering hampir mati gara-gara berurusan dengan hantu dan kata nenek mu kamu yang bisa menolong dia. kamu mau kan lagian dia anak yang manis dan baik juga mama pernah bertemu dengan dia sekali waktu dia masihkah kecil" ucap Devina.
"Hem, mungkin memang ini bukan kebetulan tapi memang sudah takdirnya mama tenang saja aku akan menjaganya karena entah kenapa aku juga merasa harus menjaganya" Daniel agak tersenyum.
"baguslah, siapa tahu nanti dia bisa jadi menantu mama kan lucu juga sepertinya nanti cucu mama akan seperti apa ya". Devina agak tertawa.
"ma jangan bercanda, nggak lucu aku hanya menganggap dia sebagai adik saja tidak lebih mama jangan mikir sampai kemana-mana" Daniel menatap serius ibunya.
"hahaha, maaf deh ya kan kita tidak tahu nanti akan seperti apa mungkin dia memang jodoh kamu kali kalian kan sama dan nenek kalian juga bersahabat baik" Devina menggoda anaknya.
__ADS_1
"ma udah lah, masih banyak cewek lain lagian kita juga baru kenalan dan dia anaknya agak keras kepala. sudahlah tidak usah di bahas lagi aku mau istirahat sebentar" Daniel berdiri dari duduknya.
"sebentar mama mau ngomong, besok kamu jenguk dia sambil bawa kue buat dia ya kalo bisa sih mama ikut biar lebih kenal sama dia" Devina berbicara.
"lihat besok aja ma gimana, aku masih harus ke sekolah besok jadi nggak bisa janji" ucap Daniel singkat.
"kamu ini bagiamana sih, lihat kondisi dia seperti apa mungkin dia masih sakit dan kamu harus bantu dia" ucap Devina serius.
"hah, iya deh ma besok pulang sekolah aku ke rumah Zetta" Daniel langsung pergi setelah mengatakannya.
"anak mu itu ya, selalu aja seperti itu tidak bisa apa baik sedikit aja sama cewek kalo seperti itu kapan mama bisa punya menantu" ucap Devina menatap sebal suaminya.
"sudah lah biarkan saja, dia kan masih muda wajar saja harusnya Derren yang kita pikirkan dia sudah umur tapi masih sendiri saja" Rendra membicarakan anak sulung mereka.
"iya sih, nanti mama coba carikan dia perempuan deh mama juga udah ingin punya cucu nih biar rumah rame nggak sepi seperti sekarang ini" Devina menatap ke depan.
"dia juga sama seperti adiknya dingin cuek dan ketus sama perempuan jadi mana ada yang mau sama dia". lanjut Devina.
"sudahlah kita harus ke kantor lagi, banyak kerjaan yang harus kita urus" Rendra memeriksa ponselnya.
Mereka berdua berdiri kembali lagi ke kantor untuk lanjut bekerja meneruskan pekerjaan mereka yang agak tertunda karena kejadian di sekolah Daniel.
Sementara Daniel merebahkan tubuhnya di kasur sambil menatap langit-langit kamarnya yang bernuansa cukup gelap memikirkan apa yang telah dia ketahui sekarang.
"mungkin memang sudah saatnya gue untuk tahu pantas saja gue ngerasa ada yang aneh sama gue apalagi kejadian tadi dengan Zetta" Daniel menarik nafasnya dalam-dalam dan hembuskan perlahan.
"kayaknya ada sesuatu yang nenek gue sama nenek Zetta rencanakan soal gue sama Zetta, hah udah lah pusing juga gue pikirin" Daniel menutup matanya sebentar.
"gimana ya kondisi Zetta sekarang apa udah lebih baik dari tadi, kenapa sih gue kepikiran terus sama dia apa sih sebenarnya yang bikin gue seakan-akan terikat benang yang tak terlihat dengan Zetta" membuka matanya perlahan.
"Apa ini ada hubungannya dengan masa lalu nenek gue sama dia, dan sekarang gue harus jagain dia sumpah ini nggak pernah gue bayangkan dalam hidup gue" Daniel memukul bantalnya.
"tapi gue juga nggak bisa apa-apa sekarang, yang penting gue juga harus tetap jaga jarak sama dia jangan terlalu dekat gue nggak mau sampai dia lebih dekat sama gue" Daniel cukup pusing dengan apa yang terjadi.
__ADS_1
"lebih baik gue istirahat dah, daripada pikiran gue kemana-mana nggak jelas mungkin bisa agak reda. dan besok gue harus ketemu lagi sama Zetta buat pastikan keadaan dia seperti apa semoga aja dia nggak apa-apa" tanpa sadar sebenarnya Daniel sangat khawatir dengan kondisi Zetta.
Daniel memperbaiki posisi tidurnya tidak seperti tadi dan setelah dirasa sudah nyaman Daniel mulai menutup matanya istirahat sejenak untuk melepaskan semua pikiran yang melayang di kepalanya.