Supir hatiku

Supir hatiku
sebelas


__ADS_3

rencananya kemarin kami akan berkunjung ke rumah sakit sepulang kantor,tapi karena ada beberapa hal yang harus di selesaikan,aku dan Rizal baru bisa berangkat lewat jam tujuh malam,sejak secara resmi kemarin kami memutuskan menjalani hubungan,hatiku rasanya tenang banget,senyum yang terus mengembang membuat Sekar kebingungan satu harian ini, oh iya aku gak galak kok,cuma menurut Sekar aku kelewatan ramah hari ini, biasanya aku hanya tersenyum sekilas saat karyawan menyapaku,kini malah membalas sapaan mereka,bahkan Layla pun melihatku dengan tatapan aneh,sejak tadi pagi.


"*kau sehat kan na?",aku mengangguk, "kenapa emangnya?",dia mencebik.


"aku agak heran aja,biasa muka tuh dah kusut pagi-pagi,dah macam tisu toilet habis pakai,ini nampak lain pun,senyum terus",dia berkata sambil membuka laptopnya,oh iya,dia meminta ruangan yang sama denganku,malas beda ruangan katanya,jadi ya tinggal tambah satu meja lagi udah cukup.


"kamu mau tahu kenapa aku kayak gini?",dia mengangkat sebelah alisnya.


"aku baru jadian sama pria idaman ku tadi malam,ahh... akhirnya setelah hampir dua bulan berusaha,dia mau juga... hahahaha",aku menutup mulutku,Layla hanya memicingkan matanya.


"iyelah yang dah ada partner tuh,pantas agak Laen ku tengok, rupanya??,ck...ck..ck..",dia menggeleng pelan.


"jomblo mbak...jangan ngiri ya",aku mengelus pelan pipi nya,dia hanya memonyongkan bibirnya*.


berjalan beriringan aku menggenggam tangan kekasih ku ini, sebenarnya dia agak risih sih ,cuma aku masa bodoh aja, pura-pura enggak tahu, setelah bertanya kepada suster penjaga ,kami akhirnya menemukan ruangan tempat istri teman Rizal berada.


tok..tok..tok..

__ADS_1


setelah mendapat sahutan dari dalam,Ki pun masuk,senyum mengembang Gilang teman Rizal dan istrinya menyambut kedatangan kami,sedikit bawaan yang kami beli di supermarket tadi,sudah berada di tempat yang seharusnya.


"sehat mil??",saat tangan Rizal menyalami istri Gilang.


"sehat kok kak,kata kak Gilang besok udah bisa operasi,makasih ya kak atas bantuannya,udah di biayain semuanya sampai kamar pun dipilihkan yang VIP gini, kalo kita mana sanggup",dia berkata sambil melihatku dan mengangguk sekilas.


aku melihat Rizal menoleh ke arahku dan mengangkat kedua kaosnya seolah bertanya,aku tetap acuh seperti biasa, pura-pura enggak tahu.


"jadi???", tanya Rizal kepada Gilang.


*malam itu...


"iya saya sendiri,maaf ini siapa ya?",tanyaku kepada si pemilik suara.


"saya Sekar Arum sekretaris dari nona Kirana Anjani,tadi saya di perintahkan untuk menghubungi bapak Gilang,untuk menyelesaikan masalah pembayaran rumah sakit atas nama istri bapak",aku mulai mengerti arah bicara perempuan di ujung telepon ini.


"apa nona Kirana ini bos nya Rizal teman saya?",tanyaku.

__ADS_1


"benar sekali bapak,tolong berikan nomer rekening bapak dan nama istri bapak agar saya bisa menyelesaikan pembayaran dari sini pak",lalu aku memberikan data-data yang di minta si mbak sekretaris itu ,dan besoknya saat aku datang kerumah sakit,istriku sudah di pindah keruang VIP ,saat aku bertanya ke bagian resepsionis,seluruh biaya sudah di bayar atas nama Kirana Anjani,aku bersyukur banget dan langsung menghubungi Rizal,sayang tidak tersambung*.


"terimakasih banyak atas bantuan nona kepada kami,jika bukan karena nona,kami pasti sudah kesulitan membayar semuanya ", kata Gilang kepadaku,aku mengangguk dan Rizal tersenyum sambil menepuk pelan bahu temannya itu.


"jadi berapa hutang yang harus aku bayar sama kamu?",saat ini kami sedang berada di dalam mobil,aku menghentikan kegiatanku memakai seat belt, "maksud mas?",tanyaku gak mengerti.


"itulah honey,kamu kan udah keluar uang banyak untuk bayarin rumah sakit Gilang ,jadi kira-kira berapa yang harus aku bayar sama kamu dan gimana cara nyicilnya?" dia menatap wajahku dengan tatapan yang belum pernah ku lihat sebelumnya,ini bukan tatapan cinta,ini beda...kesannya lebih dingin, walau di ucapkan dengan nada yang sama...tetap lembut.


"maksud kamu...kamu mau bayar semua yang udah aku bayarin buat temen kamu gitu?",aku langsung mengerti arah pembicaraan ini,dia mengangguk.


"mas denger", aku menggenggam tangannya, "kamu itu pacar aku,jadi temen kamu itu temen aku juga,jadi udah sepantasnya kalo aku lagi ada rezeki lebih buat bantu,ya aku bantu,aku seneng dan enggak ngerasa keberatan bantu temen kamu dan aku enggak minta kamu ganti itu dengan materi mas...cukup kamu sayang sama aku, perhatian sama aku,dan cintai aku sepantasnya mas,aku udah seneng".dia mengelus tangan kiriku dengan tangan kanannya, "maafkan mas ya,kadang harga diri seorang laki-laki itu gampang terluka, apalagi dalam hal ini (menolong Gilang-pen),kadang kamu harus memaafkan ego ku ya hon, kamu harus ingat,selembut-lembutnya laki-laki...dia tetap adalah mahkluk paling egois di dunia,jadi lain kali mas minta sama kamu, diskusikan sama-sama oke",dia tersenyum,aku mengangguk,kan apa yang aku bilang..dia itu so sweet,bahkan dia mengakui secara gentleman,kalo laki-laki itu adalah mahkluk paling egois di dunia,memang masih banyak laki-laki kayak dia di zaman sekarang?, jawabannya mungkin...tidak, makin cinta deh.


enggak terasa,hubungan kami udah berjalan hampir tiga bulan,aku makin ketergantungan pada Rizal, dikit-dikit Rizal,bahkan sekarang setiap aku tidur harus di peluk Rizal,pernah saat aku sakit,Rizal memelukku dan rasanya mulai detik itu,aku udah kecanduan dengan bau parfum murah yang melekat di badannya,bahkan katanya dia hanya memakai pewangi pakaian harga seribu perak loh,tapi aku cuma di peluk ya,gak di apa-apain, catat itu,jadi buat para haters,sabar dulu ,novel ini bukan ranah kalian...hahahaha, pasalnya setelah aku tertidur,Rizal akan langsung keluar dari kamarku,aku juga udah mulai Deket dengan ketiga adik Rizal,apalagi dengan Risty,selain dia yang paling besar secara usia,dia juga paling dewasa dalam menyikapi sesuatu,mirip kakaknya.


nonton bareng adalah rutinitas kami di hari Jumat malam Sabtu,kalo Sabtu Minggu jatah aku dan kakaknya hahahaha,tutorial makeup yang kami lihat di yutup atau beberapa blogger kecantikan adakah kegiatan kami yang lain, yang kadang membuat kakaknya meradang,alasannya Risty masih sekolah,belum boleh pake makeup segala, ada-ada aja,kalo untuk Laras dan Daffa ,aku lebih ke Daffa sih,biarpun Laras enggak pendiam,tapi dia rada susah di deketin,mirip kakaknya dulu,tapi tetap akrab kok,karena Laras bisa menyesuaikan diri dimana dia berada,bukan kayak yang itu tuh,kalo Daffa...ya namanya anak kecil ya gimana ya...kadang bikin kesel,kadang bikin kangen,mereka juga udah gak tinggal di kamar belakang lagi,aku memindahkan mereka kerumah depan,walau lagi-lagi si itu tuh,protes...gak enak sama si A lah,si B lah,si ini,si itu,tapi aku gak memusingkan hal itu.


ditambah lagi sejak kedatangan Layla, pekerjaan ku jadi lebih mudah,aku gak harus bolak-balik kantor dan pabrik,Layla kini lebih fokus ke pabrik,sedang aku di bagian kantor dan mengurus beberapa salon milik kami,apalagi Layla sekarang sudah mengontrak sebuah rumah yang dekat dengan pabrik,hingga intensitas pertemuan kami sedikit berkurang.untuk produk terbaru kami pun,cukup di terima masyarakat Indonesia dengan baik, walau bukan yang menduduki top tiga di Indonesia,tapi itu udah cukup untuk menutupi biaya operasional perusahaan dan memberi gaji yang layak untuk para karyawan.penggunaan bahan baku alami yang langsung kami beli dari petani,membuahkan hasil yang maksimal,selain membeli secara langsung dapat menghemat cost yang harus kami keluarkan, walaupun dalam satu hal dan lain tetap ada yang harus di korbankan,contohnya dalam hal efisiensi waktu,karena kami membeli secara langsung,jadinya kami harus memiliki armada angkutan sendiri,dan kadang jarak tempuh yang jauh ke daerah,cukup mempersulit kami,apalagi kalo di kejar deadline launching produk,ya setiap keputusan selalu ada hal yang harus di perhitungkan.ciee..aku ini,udah mirip belum sama nona-nona bos yang sering ditulis author keren di aplikasi tercinta kita ini?, cuma sih aku yang memang enggak memiliki wajah dingin dan dengan tatapan mengintimidasi yang bahkan enggak bisa tersentuh,(aku ...enggak gitu,bahkan aku yang kebingungan kalo satu hari aja Rizal enggak sentuh aku,aduh aku.ini...otak mesum banget sih),enggak bisa mengaplikasikan nya kedalam kehidupan ku sehari hari,agak aneh gitu buat aku,ya meskipun aku bukan termasuk atasan yang ramah sih,tapi paling enggak karyawan enggak ketakutan dengan hawa iblis yang kubawa masuk ke kantor,yang bisa membuat karyawan ku senewen satu harian...hahahaha..(tertawa iblis).

__ADS_1


TBC


__ADS_2