
hari ini adalah peletakan baru pertama pembangunan pabrik baru milik ku dan Layla yang akan kulakukan secara simbolis di salah satu kecamatan di daerah ku,selain karena letak kecamatan ini tidak terlalu jauh dari pusat kota,aku pun mendapatkan harga jual yang lumayan menguntungkan untuk kami,kali ini aku harus mengakui,apa yang di katakan Layla beberapa bulan yang lalu terbukti,mas Rizal yang bertindak menjadi negosiator antara aku sebagai calon pembeli dan warga sebagai pemilik lahan yang akan kami bangun pabrik itu, mendapatkan keputusan yang menguntungkan kedua belah pihak,enggak adanya perang urat syaraf antara warga dan kami dari pihak perusahaan,membuat proses negosiasi berjalan lancar tanpa kendala berarti.
setelah meletakkan satu batu sebagai simbol di mulainya proses pembangunan pabrik kami.aku, mas Rizal,Layla dan beberapa jajaran direksi yang hadir di acara tadi,serta perangkat kecamatan dan beberapa dari pihak TNI dan polri yang mewakili, di undang kerumah salah satu petinggi desa untuk menghadiri jamuan makan siang,sambil menikmati hidangan yang tersaji, kadang-kadang terselip harapan terbesar warga desa sini,dengan berdirinya pabrik milik kami nanti,akan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat desa yang ada di kecamatan ini,yang kemudian di amini oleh pak Idris selaku camat.
"itu juga harapan kami nona,kiranya dengan berdirinya pabrik kosmetik milik nona disini,dapat menyerap tenaga kerja yang kompeten dari kecamatan kamu,saya juga sebagai camat,akan dengan senang hati membantu segala kelancaran proses kedepannya",pak camat berucap santai.
"saya selaku CEO dan mewakili jajaran direksi juga berharap,jika kelak pabrik ini selesai di bangun dan beroperasi,adakah yang lebih berhak bekerja di pabrik saya selain putra dan putri asli daerah sini,saya rasa tidak?, jadi demi mewujudkan impian masyarakat dan juga impian kami sebagai pengusaha,marilah pak kiranya kita memantaskan diri,baik untuk kami selaku pihak perusahaan atau warga di sini sebagai calon prioritas kami untuk menjadi karyawan kami kedepannya",dan obrolan demi obrolan yang aku yakin hanya sebuah pepesan kosong kepentingan pribadi pejabat publik,atau juga kepentingan jajaran institusi pemerintah yang merasa bisa mengambil keuntungan dari proses ini,berlanjut hingga menjelang sore.
"ish..gatalnya kuping aku dengar ramai orang cakap pasal ini itu tadi,aku berani bertaruh seratus peratus,itu cuma bullshit semua,dah dapat duit,maka pura-pura lah mereka,ada yang tiba-tiba tuli,ada yang tiba-tiba buta lah,tak dengar lagi mereka tuh keluhan yang bakal keluar dari mulut masyarakat,aku bisa jamin itu",Layla saja ngoceh tidak menentu semenjak keluar dari kumpulan manusia gila kepentingan pribadi tadi.
"mas mau langsung pulang atau gimana?",tanyaku kepada mas Rizal yang mengemudi.
"terserah kamu aja,mau pulang atau ke kantor lagi,aku ngikut aja".
"emmm..yaudah tapi inget,mulai besok kamu udah bertugas di kantor,kita tetap berangkat bareng,tapi kamu bukan supir aku lagi mulai sekarang,karena kamu enggak mau duduki salah satu posisi manajer di kantor,aku terpaksa jadiin kamu asisten pribadi aku",kataku dengan santai tanpa mau melihat wajah Layla yang sudah berubah masam melihat akal bulusku menjebak mas rizal agar bisa selalu dekat denganku.
"helleh....alasan kau aja kah itu,cakap ajalah aku mau mas Rizal jadi asisten aku,tak perlu cakap panjang kali lebar,kalo maksud ucapan kau pun,udah masuk kedalam kepala aku",gerutunya.
"huss diam aja kamu",kataku sambil berbisik.
__ADS_1
"iyelah nona bos,iye..hamba tak asal cakap lagi,hamba kunci pun mulut ini",dia memeragakan orang yang sedang mengunci mulut,aku tertawa.
...****************...
apa pernah terlintas di benakmu,saat orang tercinta kita itu saat ini duduk jelas di sebuah meja di sampingku,kini itu nyata buatku, Layla ku usir untuk menempati ruangan baru,jadilah saat ini pujaan hatiku duduk dengan tampannya di kursi kebesarannya dan memperhatikan beberapa berkas,yang aku yakin saat perutnya mulai membuncit dan rambutnya mulai memutih nanti...saat kami menikah kelak, dan dengan usia pernikahan yang sudah cukup lama, akan membuat nya kian berwibawa,ini aja dengan tubuh yang masih kekar,dengan otot-otot tubuh yang tercetak jelas di balik kemeja itu,dia terlihat sangat menawan,dia menolak menggunakan jas ataupun dasi,enggak nyaman katanya,jadilah dia hanya menggunakan celana bahan warna hitam bersama kemeja putih biru langit berlengan pendek yang jadi pelengkapnya.
"jangan liatin gitu terus,nanti tambah cinta loh", katanya yang membuat semburat merah muncul di wajahku,dia ini bisa aja buat orang baper, padahal kata itu di ucapkan dengan intonasi biasa aja,tapi efeknya enggak banget buat jantung aku.
"ish..kepedean banget punya pacar",aku mendelik menyembunyikan wajah malu ku dan segera memutar tubuhku untuk memulai pekerjaan.
karena masih baru,ada saatnya dia enggak mengerti dengan hal ini dan itu,jadi sebagai atasan dan pacar yang baik,aku mengajari mas Rizal dengan perlahan.ternyata benar kata orang,orang cerdas itu bukan karena pendidikannya, iya benar dengan pendidikan orang akan menjadi pintar,tapi orang cerdas itu memang bawaan dari lahir,contoh simpelnya ya ada pada laki-laki yang saat ini ada di sampingku ini,dia ini cerdas, pemikiran nya akurat, pekerjaan nya simpel dengan hasil yang memuaskan, mau bukti??,dia itu sukses membeli tanah warga dengan harga yang pantas dan enggak merugikan perusahaan sedikit pun, win-win solution kalo istilah zaman sekarang.
"oke-oke mas faham", lalu kami larut dalam pekerjaan masing-masing dan hanya detik jarum jam saja yang menemani keheningan ruangan ini.
...****************...
"assalamualaikum Bu..iya ada apa?",aku spontan menutup mulutku dengan tangan,saat mendengar ibu bercerita bahwa ayah sudah berpulang tadi malam,karena mengalami kecelakaan sehabis menghadiri hajatan salah satu warga,mobil yang di kendarai beliau terperosok ke sungai,di duga menghindari remaja mabuk yang tiba-tiba saja menghampiri mobilnya,diduga sengaja ingin bunuh diri.
perjalanan yang menempuh jarak 589 km pun tidak terasa untukku,pikiran ku kosong, berkali-kali Risty menenangkan aku yang terus menangis sepanjang perjalanan begitu juga Layla,sedang mas Rizal dia terus fokus mengemudi,setelah menempuh kurang lebih delapan jam dan dua puluh lima menit,aku tiba di rumah masa kecilku.
__ADS_1
saat masuk ke pekarangan rumah,bendera kuning sudah tertempel disalah satu tembok warga,tenda pun sudah terpasang pertanda memang ada kemalangan di rumah ini,aku menggeleng pelan sambil terus terisak masuk kedalam rumah,wajah lesu ibu terlihat semakin lesu saat melihat aku tiba dengan wajah penuh air mata,aku langsung menghamburkan diri kepelukan wanita hebat ini,dia tidak banyak menangis sepertinya,matanya memang merah seperti orang habis menangis,tapi dia selalu berusaha tersenyum apapun yang terjadi,jika berada di depanku.
"ayah udah pergi,ninggalin kita,boleh sedih tapi..jangan berlarut-larut ya, kalo mau nangis,nangis aja,boleh kok,ibu enggak larang,tapi..." dia mengelus punggungku, "jangan meraung,enggak boleh,itu pesan ayah sebelum pergi tadi malam",aku semakin tergugu mendengar penjelasan ibu, perihal ayah yang melarang kami menangis meraung-raung.
"nak Rizal sini",panggil ibu,pacarku itupun mendekat dan mencium tangan ibu,yang membuat ibu langsung mengelus rambutnya.
"ayah juga udah titip pesan buat kamu".
"iya ibu,Rizal denger",
"ayah berpesan agar nak Rizal mau menjaga Kirana dengan cara menikahinya,dia pengen ada yang tulus mencintai anaknya,dan dia yakin itu kamu,begitupun ibu, sebenarnya ayah ingin sekali menjabat tangan kamu secara langsung saat ijab Qabul,tapi takdir berkehendak lain,jadi nanti kakak Kirana yang akan menjadi wali untuk dia",ibu melihat mas Pras lalu beralih ke mas Rizal lagi, "bagaimana kamu setuju?",
"apapun akan saya lakukan,asal itu membuat Kirana bahagia,bahkan tanpa almarhum ayah atau ibu pinta pun,saya sudah merencanakan untuk melamar Kirana dalam waktu dekat,saya mencintai dia dengan sepenuh hati dan jiwa saya bu ",seketika air mata ku bercampur,antara sedih ayah pergi bercampur bahagia saat mendengar pujaan hatiku berjanji disamping jasad ayah yang sedang terbujur kaku tersebut.
tiga hari pasca ayah berpulang,aku memutuskan memboyong ibu bersamaku,jika dulu ibu beralasan masih ada ayah,kini dia sudah enggak bisa ngomong,mas Pras pun setuju dengan usulku, walaupun sempat beradu argumen tentang siapa yang lebih pantas membawa ibu,lalu dengan kekeras kepalaan yang kumiliki,mas Pras pun mengalah setelah mbak Prita kakak iparku mencoba membantu menghentikan perdebatan antara aku dan kakak ku itu.
"nanti ibu tidur bareng aku aja ya,aku rindu tidur di peluk ibu", ucapku seraya menjatuhkan kepalaku ke dada wanita terhebat di hidupku ini.
"ish..masa enggak malu,katanya bentar lagi mau nikah,kok masih tidur bareng ibunya",ibu terkekeh,sedang aku memonyongkan bibirku tak terima.
__ADS_1
"ish...ibu..kan enggak dalam waktu dekat ini aku menikah,pabrik juga masih dalam pembangunan,masih ada beberapa produk yang ingin aku buat,blue print nya harus segera di selesaikan dulu Bu,setelah di eksekusi dan hasilnya memuaskan,baru deh kalo mau menikah aku siap",ucapku malu-malu sambil melihat ke arah Layla yang mendengus melihatku,mungkin dia berpikir,aku ini badannya aja yang besar,tapi sifat masih kekanak-kanakan,biar aja enggak apa-apa, ibu ini ibu aku sendiri gitu.sedangksn mas Rizal cuma geleng-geleng kecil aja di depan,Laras malah menutup matanya sambil menarik nafas,sedangkan Risty menutup mulutnya sambil tersenyum seraya mengelus pelan rambut Daffa yang sudah pulas dipangkuan nya.
TBC