
"hmmm,suruh langsung keruangan saya ya kar",aku meletakkan gagang telepon, menghembuskan nafas sejenak.
"hai bestie,how are you today,you fine?,aku langsung ambil penerbangan paling awal dari Belanda,lagian kenapa lah masih bisa orang itu dapat alamat Korang heh,aku pikir kan,dia udah tak boleh lah jumpa Korang lagi,sebab Korang kan udah pindah dari lama-lama kan??", Layla,sahabat terbaikku ku satu ini,dengan logat bahasa yang dicampur aduk,kini duduk di hadapan ku dengan raut wajah khawatir.
"aku oke kok,kamu kapan sampai??,gak capek gitu,gak jetlag ,baru sampai kok langsung cerewet gitu sih",dia tertawa sambil merapikan pashmina yang dipakainya.
"ah jetlag pastilah,aku baru terbang jauh sangat,tapi aku lebih cemas pasal keadaan Korang lah,tapi udah ilang lah sikit, nampak sehat pun Korang?, macam tak ada yang kurang kok??",dia meneliti seluruh tubuhku,lalu memegang telinga ku.
"kuping pun masih adanya,masih dua", katanya dengan wajah serius.
laylaaaaa...suaraku menggelegar di dalam ruangan,Layla tertawa terbahak-bahak.
...****************...
"kita nak makan di luar kah??",kali ini kami berjalan beriringan menuju keluar kantor.
"hmm..kamu mau makan dimana?",aku berkata sambil terus berjalan dan sesekali tersenyum tipis kepada karyawan yang menyapaku.
"aku nak makan sop buntut lah,di Belanda mana ada,kalopun ada harus ke Amsterdam,jauh lah..malas pun,aku aja di Alkmaar", dia masih cerewet seperti dulu.
"kamu mau balik lagi ke Belanda,atau tetap stay di Malaysia?",pintu lift terbuka dan kami segera keluar
"lagi malas aku stay di Malaysia,aku mau tinggal di rumah kau dulu lah,nanti aku cari-cari apartemen yang tak jauh dari kantor, eh...tapi boleh kan aku kerja di kantor kau??", tanyanya,aku hanya memutar bola mata malas,dia terkekeh.
"kenapa kok malas?,bukannya disana kamu nerusin bisnis keluarga?",kami hampir sampai di lobby lantai satu,mobil kantor pun sudah terlihat,kali ini terpaksa menggunakan mobil kantor,karena ada Layla,mau duduk dimana dia kalo naik mobilku.
"eh...kejap-kejap na",dia menghentikan langkah kaki kami.
"kenapa?",tanyaku heran karena tiba-tiba dia menghentikan langkah kaki kami.
"siapa dia?", tunjuknya ke arah Rizal yang sudah menanti kami di samping mobil.
"supir pribadi aku,kenapa?",aku melihat raut wajah Layla yang berubah merona.
"he's like a prince in my dream",katanya memegang kedua pipinya,astaga dia suka Rizal,katakan aku harus menenggelamkan Layla didasar laut mana.
"very handsome",aku mengurut pelipis ku,gak Retno gak Layla sama aja.
__ADS_1
"udah ah jangan halu Mulu,kamu lapar kan?,nanti habis sop buntut nya kamu nangis??",aku menarik lengan Layla untuk bergegas menuju arah mobil.
"ish..pelan sikitlah,kau ini...",Layla bersungut-sungut tapi tetap mengikuti langkahku.
"kemana non?",mood ku langsung kembali setelah mendengar suara lembut Rizal.
"ke sop buntut bang Ali ya,emmmm...siapa namamu?, aku Layla best friend Kirana,you punya bos",belum sempat aku menjawab pertanyaan Rizal,si Layla canggung ini langsung menyerobot ucapan ku sambil mengulurkan tangannya.
"saya Rizal non,pegawai nona Kirana",Rizal membalas uluran tangan Layla.
"langsung aja ya zal,saya udah lapar",kataku masih memendam rasa gondok kepada Layla,awas aja nanti kamu ya Layla canggung,aku gelitikin kamu sampe pingsan.
"kenapa mukamu kok macam orang udah gak makan setahun?",ringan sekali dia ngomong.
"oh..oh..oh..aku tahu," menghela nafasnya sejenak,"Korang PMS right?,nanti kita singgah ke apotik beli pembalut oke,jangan nanti pas makan,you punya body belakang bocor", ishhhhh...cakar sahabat dosa gak sih???.
"whatever lah Lay,aku pusing",aku mengalihkan pandanganku ke arah gedung-gedung bertingkat di luar mobil ,yang semakin hari semakin tambah banyak dan tambah tinggi.
...****************...
"maaf nona,maaf sebelumnya...tapi inikan acara non Kirana dan nona Layla, sebaiknya kalian makan berdua saja ya?, saya barusan juga udah makan ",katanya dengan tersenyum.
"yakin?,udah makan?",Rizal mengangguk Layla menatap ku sengit,aku mengangkat dagu seakan bertanya apa?.
"oh oke-oke,kita makan berdua je,kau bolehlah tunggu kita di dalam kereta dulu ",lalu kami berlalu masuk ke restoran.
"Korang ada ngomong apa sama supir tadi,kenapa pula dia tiba-tiba lepas tangan aku terus tak mau masuk kedalam?",tanyanya penuh selidik.
"aku??",aku menunjuk diri,Layla mengangguk",kapan aku ngomong?,kamu ada aja",kataku menahan senyum kemenangan.
"alah iyelah-iyelah,makan dululah,kok jadi makin lapar aku, rasa-rasanya nak makan daging orang aku siang hari ini,panassssss", Layla lalu memotong-motong sop buntut itu dengan kasar,aku hanya menahan tawa,enak aja dia mau ngambil hati Rizal,apa gak tahu dia kalo aku sedang berada di barisan teratas untuk merebut hati Rizal.
selesai makan siang,kami memutuskan gak kembali kekantor melainkan langsung ke pabrik.
di pabrik.
"gimana menurut kamu?",saat ini kami berada di ruangan Isabel.
__ADS_1
"profit kedepannya menjanjikan kah?,jangan sampai kita udah buat new factory,nilai jualan kita menurun ", Layla meneguk minuman di tangan nya.
"kemarin aku udah ada pembicaraan kontrak baru dengan salah satu investor,cuma yang jadi persoalannya,dia baru mau menyuntikkan dana,kalau mendapatkan dua puluh persen saham di perusahaan kita,gimana menurut kamu?",Layla menghembuskan nafasnya.
"memang macam itulah usaha ya na,biarpun kita dah buat macam-macam cara pun,biar tetap kita yang pegang saham mayority,kalo kita kekurangan uang,bisa balik lah kita jadi minority,pasal uang memanglah sangat berpengaruh tau ",aku hanya mengangguk mengiyakan,inilah bisnis.
"ambillah kerja sama itu,bagi saham yang aku punya untuk orang itu,jangan saham kau,biar salah satu dari kita tetap ada hak kuasa di perusahaan ini,tak apalah buatku", dia memang baik,di perusahaan ini aku memang pemegang saham mayoritas dengan enam puluh persen saham,lalu Layla tiga puluh persen dan terakhir pak Januar Wijaya salah satu pengusaha meubel di desaku memiliki sisa nya.
"gak gitu la,gini aja...aku kasih sepuluh persen saham ku ,kamu juga gitu...oke kan?",Layla tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
...****************...
"kapan supir kau free na?", tanya Layla,oh ya saat ini kami sudah berada di kamarku,setelah pulang dari pabrik,kami gak kemana-mana langsung pulang kerumah.
"kenapa?",aku menghentikan kegiatanku memakai pelembab wajah.
"tak...aku tanya je,nak ajak dia keluar lah..nonton,makan...,macam tak tau je", aku menaruh pelembab wajah itu ke nakas,lalu berbalik melihat Layla.
"kamu suka Rizal??", tanyaku.
"emmmm...maybe, aku pun tak pasti,ini suka kah,atau cuma kagum aja,maka aku harus pastikan dulu",katanya cengengesan.
"kalo aku bilang aku udah suka dia duluan,kamu gimana??",aku berjalan ke arah ranjang dan duduk di sebelah Layla, memang kalo dia ke Indonesia pasti kami tidur di satu kamar, meskipun di rumah ini ada kamar tamu,Layla gak suka tidur sendirian.
"udah lama kau suka dia?",aku mengangguk.
"belum taken kan??",aku menggeleng, dia tersenyum sumringah.
"gak apa-apa dong sweety, kau dengan cara kau sendiri,aku dengan caraku,macam mana hmmm??",dia berkata sambil menaik turunkan alisnya.
"gak ada ya la,gak aku kasih dia hari libur pokoknya,biar kamu gak ada kesempatan Deket sama dia,atau besok aku ke kantor imigrasi,biar kamu di deportasi dari Indonesia",dia lalu tertawa sambil menutup mulutnya.
"kau ini,tak lah... aku tak suka sama dia,aku pun dah liat lah tadi siang,pasal aku tarik tangan dia,muka kau udah memerah mirip kepiting rebus,cemburu kan kau??",ia mencolek-colek daguku,aku membuang pandangan ku,malu...
dasar Layla canggung.
TBC.
__ADS_1