
setiap kapal berlayar yang menempuh perjalanan pasti menuju kesebuah dermaga untuk berlabuh, setiap pesawat yang tinggal landas pun akan menuju ke bandara tujuan nya untuk berhenti,begitu juga perjalanan cintaku yang akan segera berlabuh ke sebuah dermaga bernama mas Rizal.
hari ini aku sudah berada di kamar,menunggu ijab Qabul yang akan di laksanakan di luar,aku memegang erat tangan Layla dan Lisa di sebelahku,sungguh gugup banget, pernikahan yang seharusnya di gelar tiga bulan pasca tunangan,terpaksa di percepat jadi dua bulan,aku yang terus meneror mas Rizal dan mas Pras,membuat telinga kedua lelaki itu memanas, akhirnya dengan sedikit drama yang terjadi,mas Pras mau menuruti nya.
"tangan kamu dingin banget na".aku cuma diam tanpa menanggapi.
"heleh..kau terlalu percaya sama orang satu ini,kau tak tau je Lisa,dia ni....",tunjuk Layla ke arah wajahku."ratu drama",katanya, setelah itu kami tertawa pelan,candaan receh Layla bisa sedikit membuat gugup ku hilang.
"eh... diam-diam,itu udah mau di mulai kayaknya",Lisa menginterupsi.
Rizal.
"udah siap ?",tanya mas Pras,aku mengangguk yakin.
"ya sudah bisa di mulai ini,para saksi siap". sahabat ku Gilang dan satu paman Kirana menjadi saksi pernikahan kami
"Rizal".mas Pras menyebut namaku.
"saya",jawabku mantap.
"aku nikahkan dan aku kawinkan engkau dengan adik kandungku Kirana Anjani binti Hardi Pramono dengan mas kawin cincin seberat lima belas gram dan seperangkat alat sholat di bayar tunai",
setelah sedikit menarik nafas aku pun menjawab ijab tersebut.
"saya terima nikah dan kawinnya Kirana Anjani binti Hardi Pramono dengan mas kawin tersebut di bayar tunai",
"bagaimana saksi?",tanya pak penghulu .
"SAH"
Kirana.
'SAH',saat kata sah terdengar dari balik kamar,mataku secara otomatis mengeluarkan anak sungai,aku memeluk kedua temanku tersebut.
"selamat ya,sekarang kamu udah jadi istri,pasti ayah kamu bangga disana",
__ADS_1
"makasih ya la,makasih banget",Layla mengangguk.
"selamat ya na,udah jadi istri sekarang,jadi udah halal kalo kamu mau nampung kecebong mas Rizal",kami terkekeh berdua.
ceklek..pintu terbuka menampilkan wajah ibu dengan wajah bahagianya.
"yuk..suami kamu udah nunggu",aku beranjak sambil sedikit melambai kepada kedua sahabat ku.
kulihat mas Rizal suamiku,terlihat tampan dengan kemeja putih lengan panjang dan kopiah dengan warna senada, menunggu ku di samping pak penghulu.
lalu setelah aku duduk,aku langsung mengambil tangan mas Rizal dan menciumnya,seperti perintah ibu saat menuju kesini tadi,mas Rizal pun meletakkan tangan kirinya seraya berdoa.
*Allahumna inni as'aluka khairahaa wa khaira maa jabaltahaa 'alaihi,waa'udzubika min syarrihaa wa syarrii maa jabaltahaa 'alaihi.
yang artinya : ya Allah aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiatnya yang ia bawa,dan aku berlindung dari kejelekan nya dan kejelekan tabiat yang ia bawa (HR.abu Daud no.2160*).
aku tersenyum dan mengaminkan doanya dalam hati,meski aku enggak tahu artinya.dasar aku ini ..payah.
adat Jawa.
gambar hanya ilustrasi,jadi bukan visualisasi, silahkan kakak-kakak sekalian berimajinasi sesuai pikiran kalian.
seperti yang kubilang tadi di awal,acara malam ini lebih melelahkan,aku enggak yakin rekan Bisnisku sebanyak ini,usahaku juga baru berjalan tiga tahunan,iya sih bener aku punya beberapa client yang lumayan penting,tapi itukan udah aku hitung berapa banyak,ini kok banyak banget ya.
ternyata yang banyak itu adalah undangan ibu,lebih tiga ratus orang ibu yang ngundang,saat aku tanya apa ibu memboyong mereka dari Wonogiri,ibu malah mencubit ku,dia berkata,sebagian tamu ini adalah rekan mereka semasa kuliah dulu,dan beberapa rekan dosen almarhum ayah.oh pantas banyak.
setiap ada tamu yang datang untuk salaman,kami pun berdiri dan mengucapkan terimakasih,begitu seterusnya sampe kaki aku rasanya mau copot dari engselnya,mana gaun pernikahan yang aku pake ini lumayan berat,jadi tambah-tambah deh capeknya.
"capek ya?",mas Rizal membelai rambut ku.
"banget mas,rasanya kaki aku udah mau copot mas,mau cepet-cepet selesai biar bisa rebahan,masih lama enggak sih?",aku mengeluh,sumpah capek beneran kok,aku enggak bohong.
"bentar mas tanya dulu sama mas Pras",lalu dia beranjak mendekati kakak ku itu,dan dia mengangguk-anggukkan kepalanya lalu kembali ke pelaminan.
__ADS_1
"udah, kata mas Pras enggak apa-apa kalo kita mau istirahat duluan,mau sekarang?",aku mengangguk.
"tapi gendong mas,kaki aku udah lemes banget",oke aku sedikit berlebihan kali ini,tapi so what gitu loh, ini laki aku.
mas Rizal menghela nafasnya lalu mengangguk,dia menggendong ku ala bridal,yang membuat para tamu undangan melongo melihat kelakuan kami,bahkan mas Pras sampe memijit pelipisnya,sedang mbak Prita,Layla ,Lisa dan Sekar,cuma bisa menutup mulutnya.mungkin mereka baper.
sesampainya di dalam kamar,tubuhku langsung di rebahkan di ranjang oleh mas Rizal,aku yang sudah kelelahan langsung menutup mataku, sayup-sayup ku dengar mas Rizal berkata.
"langsung tidur,capek banget ya?,maafin mas ya kalo udah buat kamu kecapekan gini",aku mengulum senyum sebelum terbuai ke alam mimpi.
pagi harinya aku terbangun dengan keadaan yang lebih segar,eh..tapi aku melihat tubuhku sudah berganti dari gaun pengantin je piyama tidur model satin ini,wajahku memanas, berarti... berarti mas Rizal udah liat dalaman aku dong?,padahal mas Rizal sering banget liat aku pake bikini,dasarnya aku ini lebay...ya gini deh,maklumi ya.
"eh..udah bangun,baru mas mau banguni kamu buat sarapan, ternyata udah bangun duluan kamu nya",dia berkata sambil mengeringkan rambut hitam legam miliknya dengan handuk,dia hanya mengenakan celana jeans panjang,dia enggak pake baju,kulihat badan kekar yang selalu membuatku nyaman itu terpampang Edi mataku,aku menekan ludah,mode mupeng ku udah keluar.
"iya mas,aku baru bangun...emm..aku mau tanya mas?",
"tanya apa?",dia lalu duduk di sisi ranjang di dekatku
"yang gantii aku baju tadi makan itu kamu ya?",jangan kalian pikir suamiku akan berkata.
maaf ..aku tidak bisa menyentuhmu,aku mencintai wanita lain kau tahu itu,aku menyuruh pelayan untuk mengganti pakaian mu,dan aku akan menangis tergugu sambil meremas sprei dengan sekuat tenaga,tidak.. ekspektasi kalian terlalu berlebih,nanti aku akan minta author nya buatkan kalian cerita seperti itu,kalo aku sih,aku sih enggak mau ya.
"iya lah,jadi siapa lagi,masa ibu sih, kamu ini ada-ada aja",dia berkata sambil membelai pipiku.
"eng...berarti mas yang gantiin Daleman aku?",dia mengangguk,aku makin gugup.
"berarti mmm- mas udah liat itu..",aku bercicit pelan.
"iya udah, warnanya merah muda ya,imut,mas udah enggak sabar pingin menyicipi nya,pas lagi di genggaman tangan mas,apalagi yang di bawah,emm...rambut halusnya bikin gregetan,sayang kamu terlelap karena kecapean,kalo enggak udah masakan kamu",katanya dengan seringai sambil melihatku dengan tatapan lapar.
pipiku sudah memerah entah seperti apa, perkataan nya barusan membuat aku malu setengah mati, padahal dulu aku sering banget memancingnya,tapi sekalinya dia ngomong,kok aku gemetaran ya..takut.
aku langsung kabur menuju kamar mandi tanpa menghiraukan mas Rizal yang sedang tertawa,awas aja kamu ya mas,aku bakas nanti.
aku melihat wajahku yang sudah memerah layaknya tomat,astaga berarti dia sengaja menggodaku tadi,dasar suami sia...eh enggak boleh, enggak boleh,aku memegang dadaku yang berdebar kencang, sepertinya sebentar lagi aku akan kena serangan jantung,aku harus segera ke rumah sakit,iya harus...ada masalah sama jantungku,aku yakin itu.
__ADS_1
TBC