
Retno POV
aku sadar aku pasti akan langsung kalah jika berhadapan face to face dengan non Kirana,tapi aku udah jatuh cinta sama mas Rizal saat pertama kali melihatnya,auranya itu..laki banget, beruntungnya non Kirana mau aku ajak bersaing secara sehat,dia punya kelebihan di materi,aku juga punya kelebihan yang orang seperti mas Rizal pasti suka,ya ..aku adalah tipe pendamping yang pas untuk mas Rizal,ibu rumah tangga banget, kalo non Kirana kan wanita karir,jadi aku harus manfaatkan kelebihan ku ini dan satu lagi,aku harus ambil hati tiga adik mas Rizal,ambil hati adiknya maka kakaknya akan mengikut.
seperti pagi ini,aku mengajak adik mas Rizal ,Laras dan Daffa untuk menemaniku belanja bulanan dan sekalian membelikan sedikit untuk mereka, sebenarnya aku ingin mengajak ketiganya,sayangnya Risty adik tertua mas Rizal sedang ada kemah Sabtu Minggu.
"ayo kalian mau beli apa?,mbak Retno yang traktir",tanyaku semangat,aku sudah menarik uang yang ku simpan di bank,sekitar satu juta rupiah kini berada di tanganku,kuharap cukup.
"yeayy", mereka berdua ber tos.
"beneran mbak?",tanya Daffa serius,aku mengangguk.
ternyata mereka anak yang baik banget,aku nyaris gak mengeluarkan lebih dari dua ratus ribu untuk men traktir mereka,Daffa biarpun masih kecil yang kupikir bakal menguras isi dompet ku, ternyata..hanya minta di belikan mobil mainan seharga tiga puluh ribu,sedangkan Laras,dia cuma minta di belikan beberapa buku pelajaran yang menarik perhatian nya, selebihnya aku cuma mengajak mereka makan bakso bersama.
sepulang dari pasar,matahari sudah sedikit tinggi,setelah berpamitan dengan Daffa dan Laras,aku memasuki rumah.
"darimana kamu?",aku berhenti dan melihat ke arah datangnya suara.
"eh nona,saya habis dari belanja bulanan non",jawabku sedikit menunduk.
"sama siapa kamu?",aku mengerutkan kening.
"maksud nona?",
"kamu pergi ke pasar buat belanja bulanan sama siapa aja?", tanyanya semakin mendesak,oh anda penasaran nona.
"emmm...dengan calon adik ipar non",jawabku dengan nada sedikit di buat-buat.
"calon adik ipar?",non Kirana menaikkan alisnya.
"iya non,calon adik ipar,adik dari bakal suami saya non,mas Rizal ",jawabku mantap.
kulihat non Kirana menggenggam erat kepalan tangannya.
"bisa kamu ulangi,ucapan kamu barusan?,saya kok kurang dengar?", tanyanya sambil bergaya mengorek telinganya.
"saya pergi belanja dengan calon adik ipar saya non,adik dari calon imam saya,mas Rizal ",jawabku lantang.
lalu...plakkk...pipiku sebelah kiri terasa panas sekali,non Kirana menamparku keras banget,kurasakan sudut bibirku pun berdarah.
"kenapa nona menampar saya?",tanyaku sambil mengelus bekas tamparan nya,ini sakit banget.
__ADS_1
"karena kamu udah lancang,mereka bukan calon adik ipar kamu,dan Rizal bukan calon suami kamu,ingat itu",dia berkata sambil menunjuk ke wajahku .
aku berdecih,"seharusnya nona gak perlu marah,nona bertanya bukan??,saya hanya menjawab sesuai pertanyaan nona,dan saya harus optimis bukan??,kenapa nona malah marah dan menampar saya",
kulihat non Kirana langsung berlalu tanpa menjawab pertanyaan ku.
back to Kirana
sialan banget tuh pembokat,aku terbawa emosi sampai menampar nya barusan,jujur eneg banget dengar suaranya yang mengatakan kalo Rizal dan adik-adiknya adalah calon suami dan adik iparnya,malah di manja-manjakan lagi ngomong nya,belagu banget, pokoknya aku gak boleh kalah.
berbalik menuju kamarku,mengambil tas tangan ku,kunci mobil lalu sweater untuk menutupi tubuhku,aku harus tampil apa adanya agar adik Rizal tidak terkejut melihatku.
berjalan ke arah belakang rumah,aku melihat Rizal dan kedua adiknya sedang duduk di sebuah bangku kayu panjang dibawah pohon rambutan kecil di sebelah deretan kamar yang aku buat khusus pekerja itu,aku gak melihat Retno...jadi aman.
"hai",aku menyapa mereka,mereka bertiga menoleh ke arahku,lalu segera berdiri dari duduknya.
"eh nona,nona mau keluar,biar saya siap-siap sebentar ",kata Rizal hendak berlalu dari sini.
"eh enggak-enggak kok,aku gak mau keluar,aku sengaja kesini mau ngajak Daffa sama Laras jalan,boleh zal??",Rizal melihat kedua adiknya yang nampaknya sama bingung nya dengan dia.
"nona mau ngajak adik saya kemana?", tanyanya.
"kamu gak perlu tahu,udah kamu hari ini temenin pak Mukhlis aja jaga gerbang,gak usah nganter kami,oke??",Rizal hanya mengangguk kaku.
"kak?",tanya Laras,Rizal mengangguk.
...****************...
aku mengajak mereka berbelanja berbagai macam pakaian,untuk mereka berdua,Risty juga, padahal mereka sudah nolak puluhan kali,katanya nanti kak Rizal marah,aku pura-pura tuli.
aku tersenyum cerah melihat tingkah adik kakak yang bukan satu rahim ini ,akrab banget,gak akan ada yang menyangka kalo mereka bukan saudara kandung.
"gimana?,udah belum?",tanyaku saat mereka sudah keluar dari area Timezone.
"udah non",kata mereka serempak.
"jangan non,panggil mbak ya,jangan non lagi,ngerti??",mereka berpandangan lalu mengangguk bersama.
akhirnya sebelum pulang,kami memutuskan untuk makan di restoran fast food terkenal di negeri ini,yang gambar kapten itu loh,sekalian membungkus untuk semua orang di rumah, Retno..iya dong,aku gak boleh egois,bersaing secara sehat kan??.
menjelang sore kami pun sampai di rumah,aku memutuskan mengantarkan mereka ke belakang,Rizal sedang duduk-duduk sambil mengerjakan entah apa aku gak tahu.
__ADS_1
"kakak",mereka berlari lalu memeluk pria yang kucintai itu,Rizal pun menciumi pipi Daffa berulang kali,dan mengacak rambut Laras.
",seneng?",tanyanya,kedua adik nya mengangguk.
"terimakasih ya non,udah mau ngajak adik saya jalan-jalan,tadi pagi di ajak Retno,eh siang hari nona yang mengajak,asli non mereka seneng banget",Rizal berkata dengan senyum yang mengembang sempurna.
"iya sama-sama, sekarang aku mau tanya sama kamu?",aku harus cepat ini.sersya duduk di sebelahnya,Rizal sedikit bergeser karena aku duduk sedikit merapat ke tubuhnya.
"tanya apa nona?",jawab Rizal
pria berkemeja biru navy ini melihat ke arahku, sempurna dia sore ini,dengan rambut yang di sisir asal,celana pendek selutut yang sepertinya sengaja di potong karena sobek pada bagian lututnya, menambah kesan macho,ini pria yang aku idamkan,bukan pria yang sok cool dan jaim di depanku, padahal aslinya..buaya.
"kamu beneran belum ada pacar kan?",dia mengangguk.
"kalo sama Retno...kamu gimana?",
"saya...sama Retno??",dia menunjuk dirinya sendiri,aku mengangguk.
"ya gak gimana-gimana non,sama kaya saya sama mbok Ayu,pak Muhklis dan yang lainnya non",jawabnya membuatku sedikit tenang.
"tapi bukan pacar kamu kan?",
"bukan lah nona,mana ada yang mau sama saya ini non,gak punya apa-apa gini,adiknya aja banyak,saya belum mikir sampe kesana,palingan nunggu Risty kelar sekolahnya, syukur-syukur bisa nguliahin dia non,itu sih harapan terbesar saya untuk saat ini,bukan untuk cinta-cintaan yang bikin kepala puyeng non",dia berkata sambil melihat lurus ke depan,gak melihat aku sama sekali.
"kalo misalnya ini ya,ada dua orang yang menyukai kamu saat ini,kamu bakal pilih yang mana, dua-duanya cantik sih dengan kelebihan masing-masing ",aku memancingnya dengan pertanyaan ini,semoga aku dapat jawaban.
"ini perumpamaan kan non?",aku mengangguk aja biar cepat.
"gini non,saya itu orangnya gak mau ribet non,saya mau kalo memang ada cewek yang suka sama saya,mereka harus bisa suka juga sama adik saya,tiga loh adik saya",lalu dua tertawa.
"emmm... apalagi ya?,bisa masak mungkin??,tapi itu opsional sih non,saya bisa masak kok,jadi gak terlalu masalah sih,ya gak ada kriteria khusus sih non, apalagi saya ini orang susah,asal kita cocok dan bisa saling melengkapi,itu udah cukup",
"dan yang terpenting non,jangan terlalu jauh di atas saya non", perkataan nya seolah membawaku kembali ke dunia nyata,setelah sebelumnya perkataan yang kain itu aku bisa mempelajarinya,tapi ini... strata sosial, dia....minder, tapi aku Kirana gak bakalan mundur.
"kenapa harus yang sebanding sama kamu?",pancingku.
"non... selayaknya nona yang ingin mencari pasangan terbaik sesuai kriteria nona,yang pastinya mempunyai materi yang lebih dari cukup untuk menutupi semua kebutuhan nona,begitu juga saya non,saya ingin mencari pasangan yang mampu dan mengerti keadaan saya non,dan bisa mengelola penghasilan yang saya punya,maka dari itu non,saya gak terlalu berlebih-lebihan dalam berharap",dia beranjak dari duduknya lalu menepuk-nepuk kedua tangannya ke celana.
"jadi jika kami berada di lingkup kehidupan yang sama,kami gak perlu saling adaptasi lagi non,kami udah biasa menjalani nya sejak kecil",
bukannya kecewa mendengar ucapannya,justru aku terharu dan nyaris mewek di hadapannya,dia ini realistis banget.
__ADS_1
TBC