
"hikss...hikss...kenapa cowoknya jahat gitu mas, padahal kan si cewek udah berkorban besar ninggalin keluarganya demi dia,kok dia tega banget sih ngelukain cewek nya dengan berselingkuh", aku masih menangis di dalam mobil,bahkan mungkin udah beberapa lembar tisu yang di berikan mas Rizal untuk menghapus ingus bercampur air mata milikku.
"ya udah lah hon, itu cuma film loh,jangan di bawa serius,itukan ada naskah yang mesti di perankan oleh pemain yang jadi watak di film itu,jangan mellow gitu gitu dong,belum tentu juga itu bakal kejadian di kehidupan nyata hon", dia berkata sambil mengusap pelan air mata di pipiku.
"memang yah kalo cowok itu gak peka banget,apa memang gitu ya kalo semua cowok itu menganggap perselingkuhan itu hal yang wajar,nyakitin cewek itu dianggap biasa,iya?",aku yang enggak terima dengan perkataan mas Rizal,langsung memotong ucapannya dengan emosi yang menggebu,mas Rizal melongo melihatku yang tiba-tiba marah-marah enggak jelas.
"hei.. kamu kenapa?,mas salah apa?,kok jadi marah sama mas,kamu tadi nanya kan tentang film barusan,jadi mas cuma memberi tahu sama kamu,kalo film itu sudah ada penulis skenarionya, sutradaranya,yang memang di desain untuk sukses membawa penonton seolah-olah berada dalam situasi yang nyata di film itu,contohnya kamu,berarti film mereka sukses membuat hati kamu terombang-ambing oleh watak pria dalam film tersebut,sehingga emosi kamu meluap,seolah peran watak wanita tersebut,kamu yang mengalami,mas cuma coba beri pendapat,jangan salahkan mas dong, salahkan film itu aja yang udah sukses membuat plot cerita yang bagus,yang di aplikasikan dengan sempurna dengan semua pemain yang berperan sebagai watak di film tersebut,yang bisa membuat kamu dan beberapa cewek di dalam tadi menangis Bombay,di campur dengan umpatan yang keluar dari mulut kalian,sekali lagi mas minta maaf ya kalo mas salah,oke??" dia berkata lembut banget seraya terus mengelus pipiku penuh cinta, aku yang tadinya enggak terima, pelan-pelan mengangguk dan mengiyakan perkataannya, iya sih aku emang serasa udah masuk banget kedalam cerita di film yang di sutradarai oleh salah satu sutradara film ternama di Indonesia ini.
"jadi sekarang udahan marahnya ya??,kamu pasti laper habis marah-marah tadi,kita cari makan dulu ya?,biar nanti kalo kamu mau marah lagi,udah ada energi yang cukup",katanya terkekeh pelan dan langsung menghidupkan mobil,aku memukul lengan nya pelan,malu. oh ya betewe mas Rizal masih menjadi supir merangkap pacar aku,ayah sih udah pernah bilang,masa pacar kamu masih kamu jadikan supir sih?,kasih kerjaan di kantor gitu?,kata ayah waktu kami berkunjung dua Minggu yang lalu ke Wonogiri,oh ya ayah sama ibu itu welcome banget sama mas Rizal yang terkesan sangat sopan itu,ditambah ketiga adiknya memang paling bisa merebut hati siapapun yang baru mengenal mereka,biarpun Laras itu sedikit berbeda,tapi aku maklum sih,dia masih SMP. tapi aku sih malas ya cari supir baru,mana ada sih supir yang bisa di peluk sepanjang perjalanan menuju kantor hehehe,yang bisa ngasih pendapat yang menenangkan saat-saat terberat di hidupku,saat perusahaan mengalami masalah misalnya,dia akan menenangkan ku,membantu mencari penyelesaian masalah tanpa membuat masalah baru,harus ku akui,biarpun dia cuma lulusan SMA,dia itu cerdas,bahkan Layla selalu berkata padaku, "mintalah dulu pendapat kau punya pacar,aku rasa dia tuh bijak kalo masalah ni,aku pasti kalo masalah ni", nah itulah yang membuat aku semakin nyaman di dekatnya, penyabar iya...penyayang pasti..ngomongnya lembut hmmm...thats right,selalu mengalah dan meminta maaf walaupun dia enggak salah..itu kelebihan nya,kadang aku malu tentang hal yang terakhir ini,kalo ada masalah tentang hubungan kami,aku yang dasarnya memang cemburuan ini,kadang marah-marah tanpa sebab,di situlah sifat mengalahnya akan muncul,dia akan berlutut sambil memegang tanganku,meminta maaf karena udah buat aku sakit hati,lalu dia akan menyerahkan semua keputusan di tanganku,aku speechless untuk sikap gentleman dia.
jadilah makan malam di sebuah angkringan sebelum pusat kota,masakan legendaris milik Nusantara berkumpul menjadi satu di kawasan ini,mulai dari ayam-ayaman,segala jenis mie,minuman aneka rasa,dan masih banyak lagi.ditambah hiburan dari artis dadakan yang berada di hampir semua tenda yang memiliki pengunjung,menambah kesan sederhana namun hangat di sini,coba kalian bandingkan dengan gaya makan orang kaya,yang bahkan duduk dan memegang sendok pun ada caranya,mengunyah makanan ada caranya,bahkan sekedar mengelapkan tisu ke mulut pun ada caranya,itu...membuatku kadang pusing,kalau ada undangan menghadiri pertemuan dengan tekan bisnis atau bertemu dengan sosialita wanita yang pertemuan tersebut Jadi ajang pamer kekayaan,baik itu miliknya,milik suaminya,atau bahkan milik ayahnya,beda dengan mereka ini,senyum mereka adalah senyum tulus, alih-alih senyum palsu milik sesama pebisnis yang bisa menikam kita kapan pun tanpa kita sadari,jadi aku suka suasana disini,terasa lebih... kekeluargaan.
__ADS_1
dua porsi ayam geprek ekstra sambal menjadi hidangan kami untuk makan malam ini, es the manis dan favorit ku,jus jeruk juga terhidang di depan kami.oh iya semenjak aku pacaran dengan mas Rizal,dia enggak memaksa aku untuk menjaga bentuk tubuh ku agar tetap kurus,dia malah sering mengajakku kuliner makanan favoritnya dari zaman sekolah dulu,berat badanku meningkat hingga empat kilo dari sejak awal kami pacaran lima bulan lalu,tapi mas Rizal bilang kalo body ku kali ini lebih bagus,enggak terlalu kurus,karena menurutnya kalo cewek terlalu kurus itu,rawan terbawa angin saat ada angin kencang yang datang, memang dia ini.
"dek sini", panggilku ke arah pengamen cilik yang sedang membawa sebuah ukulele .
"saya kak",katanya tersenyum senang,aku langsung merogoh tasku berencana memberinya beberapa lembar rupiah,namun mas Rizal menghalanginya
"kenapa?",tanyaku,lalu dia berbisik,"berikan dia upah setelah dia bekerja,jangan berikan secara cuma-cuma yang bisa membuat dia malas kedepannya,mas enggak larang kamu berikan berapapun nominalnya,tapi yang mas mau,dia itu berusaha sesuai kemampuan yang dia miliki,barulah dia berhak atas apa yang di usahakan nya", aku mengangguk.lalu mengalun lah sebuah lagu berjudul ayah,ciptaan Rinto Harahap dari mulut kecil anak tersebut,sesuai perkataan mas Rizal tadi,dia enggak masalah saat aku menyerahkan dua lembar seratus ribu ke tangan pengamen cilik tadi,wajah berbinar terlihat jelas,aku juga melengkapi dengan dua porsi ayam geprek untuknya,yang dibalas dengan ucapan terimakasih berulang kali yang membuat aku menitikkan air mata.
"maksud kamu?", tanyanya, aku enggak langsung menjawab karena masih merapikan bungkusan makanan yang kami pesan buat yang ada di rumah,dulu sih aku kalo makan di luar,ya makan sendiri,mana ada ingat yang di rumah,toh mereka sudah kubayar per bulannya, pikirku.tapi semenjak ber pacaran dengan masi Rizal,sedikit demi sedikit aku mulai membiasakan diri mengikuti ritme mas Rizal,secara sadar atau enggak,aku udah komandoi mas Rizal lewat ucapannya,yang bahkan jika pun aku itu di atur olehnya,aku akan tetap terima,karena enggak ada yang buruk yang di bawa olehnya,sampai detik ini.
"jelas dong mas baik,kalo enggak baik ya pasti mas terbaring di rumah sakit lah",jawabnya tersenyum,aku cemberut, bukan itu baik yang aku maksud,dasar enggak peka.
__ADS_1
"yeeeiiii", teriak Daffa saat aku dan mas Rizal sampai, kebiasaan yang aku tahu saat berpacaran dengan mas Rizal adalah,semua adiknya akan mengambil tangan mas Rizal dan mencium tangan kakak mereka saat kakak mereka pulang dan mereka belum terlelap,sungguh ajaib didikan mas Rizal ini,lalu barang apapun yang dibawa,akan diambil oleh Risty sebagai adik tertua,setelah itu secangkir teh hangat akan dihidangkan ke hadapan kakaknya,kalo sekarang dua karena ada aku.
"panggil mbok Ayu ya ris",pintaku yang diangguki oleh Risty, beberapa saat kemudian mbok Ayu pun datang,bungkusan yang sudah ku siapkan untuk para pekerja,sudah berpindah ke tangan mbok Ayu,sedang yang terletak di atas meja adalah milik ketiga adik mas Rizal.
"makasih non",mbok Ayu pun langsung pamit setelahnya.kalian enggak ingin tahu kabar Retno?,oh iya semenjak aku berhubungan dengan mas Rizal,dia tetap bekerja di sini,cuma satu bulan yang lalu,dia mengundurkan diri karena ingin menikah,yang belakangan aku tahu,dia itu menikah karena accident, aku geleng-geleng kepala mendengar hal itu.sekarang di samping teras rumah aku sedang duduk bersebelahan dengan mas Rizal,memperhatikan taman milikku yang di tumbuhi aneka ragam bunga,indah banget sih.
"mas",panggilku lembut,mas Rizal hanya berdehem menjawab ku.
"aku sayang kamu",kataku seraya menyandarkan kepalaku ke bahu miliknya,dia lalu mengelus pelan rambutku,dia ini termasuk jarang banget mencium atau memelukku,paling sering mengelus pipi dan menciumi wangi rambutku,itu saja,enggak pernah berlebihan,aku sempat bertanya kenapa dia jarang banget menyentuh ku,dia bilang dia takut khilaf dan kehilangan kesadaran,malah berujung hal-hal yang tidak diinginkan,padahal aku sih kalo terjadi hal-hal yang diinginkan ya enggak apa-apa juga,🤣🤣🤣🤣.tapi itulah istimewanya dia,supirku ...pacarku...pujaan hatiku, hahahaha...sok puitis banget sih kamu Kirana,kayak bukan kamu aja.memang bukan sih,itukan othor yang nulis ygy hahaha.
TBC.
__ADS_1